Abunawas

Memperdaya Pemangsa Ikan

Disaat tidak punya uang, Abunawas sering memancing di laut. Walau tidak begitu ahli, namun dapat 2 atau 3 ekor ikan sudah cukup lumayan. Rencananya, ikan hasil pancingan itu akan dimasak untuk makan sekeluarga. “Lumayan, bisa menghemat uang belanja,” begitu pikir Abunawas.

Namun niat baik itu tak selamanya berakhir dengan baik pula. Niat mulia Abunawas tampaknya ada yang menghalangi. Saat menenteng dua ekor ikan, di tengah jalan dia dihadang oleh Abu Jahil dari Abu Licik.

“Abunawas, dari mana engkau? Dan mau kau kemanakan dua ekor ikan itu?” tanya Abu Jahil dan Abu Licik hampir berbarengan.

“Aku habis memancing di laut dan mau pulang. Dua ekor ikan hasil tangkapanku ini akan kumasak buat makan keluargaku,” jawab Abunawas polos, tanpa sadar ada niat tersem­bunyi di hati Abu Jahil dan Abu Licik.

“Kalau begitu, buat apa kau bawa pulang? Sini aku masakkan. Setelah matang, kau bisa bawa pulang untuk anak dan istrimu. Kau tidak ingin merepotkan istrimu bukan?”

Disangka berniat tulus, Abunawas menerima baik tawaran itu. Dia se­rahkan dua ekor ikan itu pada Abu Jahil dan Abu Licik.

“Aku tidur dulu, ya?” pamit Abunawas, “Nanti kalau sudah matang, tolong bangunkan aku.”

Sementara Abu Jahil dan Abu Licik memasak, Abunawas pun langsung ter­tidur pulas. Maklum, semalaman dia tak tidur. Abunawas harus berjaga untuk menunggui pancingnya yang dilempar ke tengah laut.

Begitu ikan matang, Abu Jahil dan Abu Licik ternyata tidak membangunkan Abunawas. Mereka justru melahap habis dua ekor ikan itu. Untuk menyembu­nyikan niat busuknya, Abu Jahil dan Abu Licik mengoles-oleskan tulang belulang ikan ke telapak tangan Abunawas. Setelah itu, mereka pulang ke rumah masing-masing. Abunawas kaget tatkala terbangun dari tidurnya. Dia tak mendapati Abu Jahil dan Abu Licik di sisinya. Yang ada justru tulang belulang ikan berceceran di mana-mana. Dengan geram dike­jarnya kedua orang licik itu.

“Mana ikan yang kalian masak itu?!” tanya Abunawas dengan berang, tatkala sampai di rumah Abu Jahil dan Abu Licik.

“Lho, apakah kau mengigau, Abu?” elak Abu Jahil dan Abu Licik. “Bukankah ikan yang kau masak telah kau santap habis? Katau tidak percaya, cium telapak tanganmu. Baunya amis, kan?”

Abunawas mencium telapak tangannya. Ada bau amis memang. Tapi dia sama sekali tak merasa memakannya. Seketika Abunawas tersadar, ini ulah licik Abu Jahil dan Abu Licik. Kali ini Abunawas memang tidak membantahnya, kare­na buktinya memang cukup kuat. Tapi suatu saat, dia akan membalas perlakuan kedua biang licik itu.

Waktu terus berlalu. Di saat Abu Jahil dan Abu Licik sudah mulai melupakan peritiwa itu, Abunawas mendatangi mereka ber­dua. “Hari aku ada sedikit rejeki,” ujar Abunawas membujuk Abu Jahil dan Abu Licik, “Kalau kalian mau, aku akan mengajak makan siang di kedai NIKMAT milik Abu Kasih. Jangan khawatir, aku yang akan membayar nanti. Ajak istri dan anak-­anak kalian.”

Mendapat tawaran yang menggiurkan itu, Abu Jahil dan Abu Licik seketika mengiyakan. Mereka mengajak anak dan istri mereka mengikuti Abunawas makan siang di kedai NIKMAT milik Abu Kasih.

Sesampainya di sana, kedai NIKMAT milik Abu Kasih ternyata masih tutup. Mereka pun menunggu di teras kedai. Tak berapa lama kemudian, Abunawas pun pamit.

“Kalian tunggu di sini, ya?” ujar Abunawas, “Aku akan bertanya ke rumah pemilik kedai, mengapa sampai sesiang ini belum buka juga.”

Tanpa curiga, Abu Jahil dan Abu Licik pun mem­persilahkan Abunawas. Mendapat kesempatan, seperti itu, Abunawas langsung menghilang pandangan mereka berdua.

Satu dua jam Abu Jahil dan Abu Licik menunggu. Tapi Abunawas tak datang­-datang juga.

Hingga tiga jam berlalu, Abunawas sama sekali tak menam­pakkan batang hidungnya.

Abu Jahil dan Abu Licik mulai berang. Mereka berdua pun menyusul Abunawas ke rumahnya. Sampai di rumah Abunawas, Abu Jahil dan Abu Licik seketika menumpahkan kekesalan habis-habisan.

“Dasar! Mengapa kau menipuku?!”‘ umpat Abu Jahil dan Abu Licik bergantian. “Katanya kau akan mentraktir makan siang di kedai Abu Kasih? Tapi, kau malah menjemur kami selama tiga jam di teras kedai. Apakah ini perbuatan orang yang katanya suka memegang janji?”

“Lho, apakah kalian mengigau?” jawab Abunawas enteng. “Bukankah kalian telah makan siang dengan lahap? Kalau masalah pembayaran, biar aku yang berurusan dengan Abu Kasih. Kalian tidak usah ikut campur.”

“Makan siang dengan lahap? Kau ja­ngan main-main, Abunawas! Mana buktinya kalau kami sudah makan dengan lahap?” Abu Jahil dan Abu Licik semakin berang.

“Buktinya?” Abunawas pura-pura heran, “Kalau kalian ingin bukti, buka baju kalian. Lihat sampai keringatan begitu kok tidak mengaku kalau sudah makan dengan lahap…”.

Mendengar jawaban Abunawas, Abu Jahil dan Abu Licik langsung terdiam. Mereka ingat perbu­atan memperdayakan Abunawas tempo hari. Kali, ini Abu Jahil dan Abu Licik tidak bisa berbuat apa-apa. Keduanya seakan bertekuk lutut di hadapan Abunawas. Padahal mereka keringatan karena memang dijemur selama tiga jam oleh Abunawas.

Kasihan deh lu..::! (RdP)

 

Sumber: Mentari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s