Abunawas

Abunawas Mengaku Sultan

Hari masih terlalu pagi, saat dua orang tetangga datang ke rumah Abunawas. Kedatangan tamu tak tahu waktu itu, tentu saja Abunawas gelagapan, karena belum pulih benar kesadarannya. Karena tamu harus dihormati, Abunawas terpaksa menerima keduanya.

“Abunawas, kami datang ke sini, untuk mengetahui informasi yang sebenarnya,” ujar tamu, membuka pembicaraan. “Apakah benar, Baginda Sultan Harun Alrasyid memerintahkan menarik pajak pada setiap orang yang keluar atau masuk Baghdad?”

Kemudian, orang itu menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. Kemarin sore, dia baru saja bepergian ke negeri Syam. Saat hendak kembali, begitu memasuki perbatasan wilayah Baghdad, dia dihadang tiga orang remaja. Ketiganya meminta uang, sebagai pajak. Dalihnya, penarikan pajak tersebut adalah perintah Baginda Harun Alrasyid. Karena takut, orang tersebut menuruti kemauan mereka.

“Uangnya tidak seberapa,” kata si pengadu pada Abunawas. “Tapi kesalnya hati karena dipermainkan itu, membuatku tidak bisa tidur semalaman.”

“Mengapa kamu memberi uang? Apakah kamu takut, dengan ketiga remaja tadi?” tanya Abunawas ikut kesal.

“Aku tidak takut dengan ketiga remaja tadi, tapi justru aku takut kalau penarikan pajak tersebut, betul-betul atas perintah Baginda. Aku benar-benar tidak mau berurusan dengan Baginda, hanya gara-gara uang satu dinar.”

“Betul Abu,” timpal salah seorang tamu Abunawas yang lainnya. “Aku juga ditarik pajak, saat hendak keluar Baghdad. Anehnya, tidak semua orang yang keluar masuk wilayah Baghdad, di tarik pajak.”

“Itu bukti kuat, kalau penarikan pajak hanya akal-akalan mereka saja,” jelas Abunawas.

“Kalau ada yang bepergian secara rombongan, mereka tidak bakal berani berbuat ulah. Aku yakin, mereka bukan orang Baghdad.”

“Jadi mereka bohong?” tanya kedua tamu Abunawas, hampir bersamaan.

“Seharusnya, hal itu tidak boleh terjadi. Mereka harus diberi pelajaran.”

“Betul Abunawas, mereka harus diberi pelajaran. Biar mereka kapok dan tidak mengulangi perbuatannya,” desak kedua tamu Abunawas. “Hanya kamu yang bisa menyelesaikan masalah ini, Abu.”

Malam berikutnya, Abunawas berjalan sendirian keluar Baghdad. Ia sama sekali tidak mengajak siapa-siapa. Ia sangat yakin informasi ini sangat akurat, akan bisa mengatasi masalah ini sendirian.

Ternyata benar, apa yang diinformasikan tamu Abunawas. Ketika di luar wilayah Baghdad, Abunawas dihadang tiga remaja.

“Berhenti!” teriak salah seorang dari mereka. “Kau harus membayar pajak satu dinar, untuk bisa meninggalkan Baghdad.”

Menghadapi gertakan itu, Abunawas menghadapinya dengan tenang, “Atas perintah siapa, kalian menarik pajak?” tanya Abunawas balik menggertak.

“Atas perintah Baginda Harun Alrasyid, Sultan Baghdad!”

“Apa?!” teriak Abunawas pura-pura terkejut. “Aku tidak pernah memerintahkan hal ini kepadamu. Kalian jangan menipu!”

Mendengar gertakan Abunawas, ketiga remaja tadi mulai gentar. “Apakah kau Sultan Baghdad? Tidak mungkin Sultan Baghdad seperti kamu!”

“Apakah kamu belum pernah melihat Sultan Baghdad?” Abunawas kembali menggertak.

“Apa perlu kupanggilkan pengawal kesultanan, untuk menangkapmu?”

Mendengar ancaman Abunawas, ketiga remaja tadi langsung lari tunggang langgang.

Mereka benar-benar ketakutan. Setelah dirasa aman, mereka berhenti dengan nafas terengah-engah.

“Aku tidak menyengka,” kata salah seorang dari remaja tadi. “Sultan Baghdad Harun Alrasyid ternyata orangnya sederhana. Penampilannya seperti orang kebanyakan.” @@(RdF)

Sumber: Mentari Edisi 415 tahun 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s