Cerita Misteri

Barongsai Yin Yan

Paman A Hong mengajak Kak Sam, melihat koleksi kepala barongsai miliknya. “Dari sepuluh kepala barongsai ini, hanya satu yang tidak pernah ikut kompetisi. Namanya Yin Yan,” kata Paman A Hong, sambil mengusap kepala barongsai itu, berulang kali.

Kak Sam mengeryitkan dahinya. Mengapa Paman A Hong enggan menampilkannya? Padahal menurut Kak Sam, dari seluruh koleksi itu, Yin Yan-lah yang paling keren.

Hidung, kelopak mata, dan telinga Yin Yan terbuat dari emas. Wiih, keren sekali!

“Paman A Hong, boleh aku mencoba mengangkat kepala barongsai ini?” tanya Kak Sam penuh harap. Paman A Hong tersenyum, sambil mengangguk. Kak Sam lalu mengangkatnya, dengan sangat hati-hati. Wiih, barongsai ini sangat bagus banget.

Ternyata, kain Yin Yan adalah sutera, dan seluruh kepala barongsai itu terbuat dari tembaga.

“Paman kalau Yin Yan ini tampil di kompetisi, aku yakin dia pasti juaranya. Dijamin, deh! Apalagi kalau yang menarikan Paman A Hong sendiri. Wiih, pasti keren abis!” komentar Kak Sam.

Anehnya, Paman A Hong malah tertegun melihat Kak Sam dengan entengnya, mengangkat Yin Yan. “A-ada apa paman? Apa ada yang salah?” tanya Kak Sam penasaran.

“Oh, tidak. Kau pemuda yang baik hati dan tulus, tentu tidak ada yang salah,” jawab Paman A Hong misterius, sambil menepuk pundak Kak Sam berulang kali.

Menurut cerita Paman A Hong, barongsai Yin Yan itu warisan leluhurnya. Ia sendiri pewaris generasi kelima. Konon, barongsai itu adalah kesayangan panglima kerajaan, zaman Dinasti Hwa. Sepanjang sejarahnya, barongsai itu hanya pernah sekali saja dimainkan oleh sang panglima, pada saat perayaan Imlek. Tak lama kemudian, panglima itu mangkat. Yang aneh, setiap tanggal kematian sang panglima, kepala barongsai Yin Yan selalu mengeluarkan bau harum. Keunikan dan keindahan kepala barongsai Yin Yan, membuatnya terkenal. Tak jarang, banyak kolektor berebut ingin memilikinya. Mereka rela membayar mahal, tapi keluarga Paman A Hong selalu menolaknya.

Namun, orang-orang yang sangat berambisi, selalu saja berupaya dengan segala cara.

Tak terhitung, berapa kali kepala barongsai itu akan dicuri. Tapi, semuanya gagal. Beberapa dari para pencuri itu mengaku, tak kuat membawa kepala barongsai itu keluar rumah, karena sangat berat! Yang aneh, pernah suatu ketika ada dua orang pencuri ditemukan tak sadarkan diri, di sisi kepala barongsai itu. Setelah siuman, mereka mengaku melihat seorang lelaki tinggi besar, berkumis, bercambang lebat dan membawa pedang menghardik mereka, dengan wajah yang sangat menyeramkan!

Kak Sam tercenung mendengar cerita Paman A Hong. Benarkah kepala barongsai Yin Yan seberat itu? Mengapa ia bisa mengangkatnya dengan begitu mudahnya?

Bau harum tiba-tiba menyeruak. Sejenak kemudian, Kak Sam mendengar suara aneh dari ruang penyimpanan barongsai. Kak Sam berjalan menuju ruang barongsai. Bau harum tercium makin menyengat. Kak Sam mendengar suara-suara aneh. Kak Sam terus memberanikan diri, menuju ruang penyimpanan barongsai. Di bawah cahaya yang remang-remang, Kak Sam melihat tiga orang berpakaian hitam, di dekat barongsai Yin Yan. Entah apa yang dilakukan. Mungkinkah mereka adalah murid-murid Paman A Hong? Tapi, mengapa mereka berbicara sambil berbisik, dan gerak-geriknya pun sangat mencurigakan? Kak Sam terus mengamati tiga orang misterius itu? Hmm, wajah mereka pun, tak tampak dengan jelas! Ah, jangan-jangan mereka itu pencuri?

Aneh, tiga orang itu telihat sangat kesulitan, mengangkat kepala barongsai Yin Yan. Tiba-tiba, mereka berteriak histeris! Dua orang dari mereka langsung pingsan seketika, dan seorang lainnya mencoba untuk melarikan diri. Tapi, ‘b-brrakk b-bruugg!’ Paman A Hong memukul pencuri itu, dengan sebilah tongkat. Pencuri itu langsung terkulai tak berdaya.

“A-ampunn m-maafkan kami. Kami menyerah dan mengaku salah. Kami sadar dan jera, ampun!” teriak pencuri itu sambil menangis, menyesali dirinya.

“T-tolong katakan pada Panglima itu, aku nggak akan mengganggunya lagi. Kami minta maaf!” kata pencuri itu sekali lagi, sambil memejamkan matanya. Panglima? Siapa? Kontan Kak Sam dan Paman A Hong saling berpandangan. Kak Sam tak melihat sosok panglima, yang sangat ditakuti pencuri itu.

Mungkinkah sosok panglima itu, yang menyebabkan dua orang pencuri, pingsan seketika? Entahlah, yang pasti, sambil meringkus pencuri itu, Kak Sam merasa bulu kuduknya berdiri. Hiihii. @@@

 

Sumber: Mentari Edisi 415 ahun 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s