Abunawas

Jahitan Untuk Si Bandel

Pak Hasbala punya anak lelaki semata wayang. Gufron namanya. Umurnya kira-kira tujuh tahun. Yang menjadi masalah, anak lelaki Pak Hasbala itu bandelnya setengah mati. Hampir setiap hari, dia melakukan kesalahan. Walau ayahnya sering kali menasehati, namun sepertinya tidak ada gunanya.

Meski demikian, Pak Hasbala tidak pernah putus asa mengadapi kenakalan Gufron. Dia sangat sabar mendidik anak tunggalnya itu. Setiap kali berbuat salah, Pak Hasbala tidak pernah bosan menasihati. “Jangan diulangi lagi, ya, Nak?” begitu tutur Pak Hasbala selalu.

Walau tidak pernah membantah nasihat ayahnya, namun Gufron juga tidak menurutinya. Buktinya, kesalahan yang sama selalu diulanginya lagi. Seperti contohnya kemarin. Gufron terlambat pulang karena terlalu asyik bermain. Habis maghrib, dia baru pulang ke rumah. Pak Hasbala tidak memarahi anaknya. Dia hanya memberi nasihat yang lembut.

Gufron tidak membantah juga tidak menuruti nasihat ayahnya. Buktinya, keesokan harinya dia mengulangi hal yang sama. Dia kembali terlambat pulang ke rumah. Pak Hasbala hanya bisa geleng-geleng kepala, menyaksikkan ulah anaknya.

Suatu hari, Pak Hasbala bertandang ke rumah Abunawas. Ia ingin bersilahturami sekalian meminta nasihat, tentang ulah anaknya.

“Terus terang, aku tidak pernah memarahinya,” tutur Pak Hasbala memulai ceritanya.

“Aku hanya memberi nasihat, agar dia tidak mengulangi perbuatannya. Tapi, dia tidak pernah berubah.”

“Sekali-sekali, kau harus bertindak tegas. Kau boleh memukulnya, asal jangan sampai melukai tubuhnya,” nasihat Abunawas.

“Mungkin aku tidak bisa melukai tubuhnya. Tapi apakah hatinya tidak terluka, kalau aku memukulnya?” balas Pak Hasbala.

Dibalas begitu, Abunawas tidak bisa menjawab. Benar juga pendapat Pak Hasbala. Tapi kalau perbuatan Gufron didiamkan terus, dia tidak pernah sadar akan perbuatannya.

“Pokoknya begini Abunawas,” kata Pak Hasbala memohon bantuan Abunawas.

“Bagaimana caranya bisa menyadarkan anakku, tanpa melukai tubuh dan perasaannya. Aku yakin kau pasti bisa…”

Abunawas terdiam sesaat. Akhirnya tanpa banyak kata, Abunawas menyanggupi permintaan Pak Hasbala. “Seminggu lagi, bawa anakmu ke rumahku,” jawab Abunawas. “Ajak dia menginap semalam. Aku akan mencoba menyadarkannya.”

Usai mendengar kesanggupan Abunawas, Pak Hasbala pamit pulang. Selama seminggu, Abunawas berpikir kelas menemukan cara, untuk menyadarkan anak Pak Hasbala. Tepat sehari sebelum janji itu terlewati, Abunawas sudah punya gambaran, apa yang harus dilakukan.

Seminggu kemudian, Pak Hasbala datang ke rumah Abunawas, dengan mengajak serta anaknya.

Malam harinnya, saat Gufron dan Pak Hasbala tengah tidur nyenyak, Abunawas berjalan mengendap-endap memasuki kamar. Tanpa sepengetahuan keduanya, Abunawas meneteskan setetes air, ke telinga kanan Gufron. Setelah itu, Abunawas kembali balik ke kamarnya sendiri.

Pagi-pagi, ketika bangun tidur, Gufron mengeluh pada ayahnya. Dia merasakan telinga kanannya gatal dan tidak enak. Abunawas yang mendengar keluhan itu, langsung datang mendekat.

“Kenapa telingamu, Nak?” tanya Abunawas.

“Tidak tahu. Cuma rasanya gatal dan tidak enak,” jawab Gufron polos dan lugu.

“Kalau begitu biar kujahit telinga kananmu. Nanti pasti terasa enak,” kata Abunawas, serambi mengeluarkan jarum besar dengan benang senar yang panjang.

“Telinga kananku terasa tidak enak, biasanya minta dikorek kuping, bukan malah dijahit,” protes Gufron menganggap sungguhan sandiwara Abunawas.

“Telingamu terasa tidak enak karena bolong kedua-duanya. Kalau dinasehati, masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Makanya kujahit salah satu, biar tidak bolong kedua-duanya. Pasti nanti terasa enak,” jelas Abunawas menyindir Gufron.

“Tidak, tidak mau. Aku tidak mau dijahit. Mulai sekarang, aku akan dengar nasihat ayah dan tidak kuabaikan lagi,” cetus Gufron spontan.

Mendengar celoteh Gufron, Abunawas dan Pak Hasbala tertawa terpingkal-pingkal bersama. @@@

 

Sumber: Mentari, Edisi 389 Tahun 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s