Abunawas

Kain Untuk Memandikan Onta

Abudari membeli kain di toko milik Juragan Hanif. Kain itu rencananya akan dijadikan gamis buat anak lelakinya. Di banding dengan toko lain, kain yang dibeli dari toko Juragan Hanif itu harganya lebih mahal. Tapi juragan Hanif menjamin, kain itu tidak akan pernah luntur.

“Kalau sampai luntur, kain itu bisa kau kembalikan kepadaku,” janji Juragan Hanif, meyakinkan Abudari.

Terbujuk jaminan Juragan Hanif, Abudari akhirnya membeli satu potong kain. Di rumah, kain itu langsung dijadikan gamis. Namun usai dicuci, warna kain itu langsung luntur. Abudari tentu saja kecewa. Dia langsung saja membawa kain itu, ke toko Juragan Hanif, untuk ditukarkan. Tapi, apa yang terjadi? Juragan Hanif menolaknya.

“Ini bukan kainku!” elak Juragan Hanif. “Aku tidak menjual kain seperti ini.”

“Bukankah aku kemarin ke sini, membeli kain dari tokomu?” sergah Abudari, mengingatkan juragan Hanif.

“Betul. Tapi, bukan kain ini yang kau beli,” bantah Juragan Hanif. “Kau pasti membeli dari toko lain, lantas kau kembalikan ke sini.”

Abudari terhenyak mendengar pernyataan Juragan Hanif. Dia tidak habis pikir, mengapa dalam waktu sehari saja, Juragan Hanif sudah ingkar janji? Abudari tidak bisa membayangkan, kalau kain itu dikembalikan seminggu lagi. Pasti Juragan Hanif tambah kebakaran jenggot.

“Sudah, pergi sana! Jangan coba-coba menipuku lagi!” usir Juragan Hanif, yang tentu saja membuat Abudari sakit hati.

Karena tidak ingin bersitegang, Abudari mengalah. Ia pergi dari toko Juragan Hanif. Tapi dalam hati, dia sangat kecewa diperlakukan seperti itu.

Pulang dari toko Juragan Hanif, Abudari tidak langsung ke rumah. Dia mampir ke rumah Abunawas. Dia menceritakan kejadikan yang baru saja dialaminya.

Abunawas geleng-geleng kepala, mendengar cerita Abudari.

“Masak dia tega mengingkari janji, seperti itu?” tanya Abunawas, heran.

“Itulah kejadiannya. Aku sendiri juga tidak habis pikir!” jawab Abudari.

Setelah merenung sejenak, Abunawas berdiri. “Kalau begitu, dia harus diberi pelajaran,” ucapnya.

“Iya, tapi bagaimana caranya?” timpal Abudari.

“Sudahlah, percayakan kepadaku! Kita buat dia mati kutu!”

Tanpa dikomando, Abudari langsung mengikuti Abunawas. Padahal, Abudari benar-benar tidak tahu, apa yang akan dilakukan Abunawas.

Abudari berjalan mengikuti Abunawas. Disebuah tempat lapang dekat toko Juragan Hanif, keduanya berhenti. Abunawas menyuruh Abudari membentangkan tali, diantara dua pohon. Setelah tali terpasang, Abunawas membeber kain Abudari, di atas tali itu.

Abunawas lalu berpidato, seperti layaknya orang berjualan di kaki lima.

“Ayo, beli! Ayo silakan beli! Kain ini cocok untuk memandikan unta. Ditanggung bersih. Kalau tidak bersih, anda boleh kembalikan kain ini!”

Orang-orang yang lewat di tempat itu tertawa terbahak-bahak, mendengar cara Abunawas berjualan. Melihat kerumunan orang semakin banyak, Abunawas tambah bersemangat.

“Ayo, beli! Ayo, beli! Ini hanya contoh saja. Kalau anda berminat, anda bisa dapatkan di toko-toko yang terdekat, di tempat tinggal anda. Ayo, beli! Ayo, beli!”

Orang-orang semakin riuh, mendengar celoteh Abunawas.

Di saat gencar-gencarnya Abunawas berpromosi, tiba-tiba Juragan Hanif datang. Entah siapa yang memberi tahu. Yang jelas, Juragan Hanif datang dengan wajah geram.

“Abunawas, hentikan celotehmu! Jangan menghinaku! Kain yang kujual itu untuk manusia, bukan untuk memandikan unta. Kalau kau tidak menghentikan hasutan itu, kuadukan kau pada Baginda Harun Alrasyid.”

Abunawas pura-pura kaget. “Lho, mengapa kau berang? Tadi pagi kau bilang pada Abudari, kain ini tidak mungkin dibeli dari tokomu. Mengapa sekarang justru seolah kebakan jenggot?”

“Kalau kau mau mengadu,” lanjut Abunawas, “Silahkan saja. Biar Baginda tahu, siapa yang benar, dan siapa yang salah!”

Mendengar gertakan Abunawas, nyali Juragan Hanif langsung ciut.

“Sudahlah, Abu. Kubeli kainmu itu, dengan harga dua kali lipat. Tapi, segeralah pergi dari sini dan jangan membuat ulah lagi,” pinta Juragan Hanif penuh harap.

Usai menerima uang dari Juragan Hanif, Abunawas dan Abudari langsung pergi meninggalkan tempat itu. Abudari tak henti-hentinya terkekeh, menyaksikan akal cerdik Abunawas. @@@

 

Sumber: Mentari Edisi 376 tahun 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s