Cerita Anak

Uang

Senin Pagi, para siswa kelas V-C riuh membicarakan tentang Haikal. Ia anak seorang pengusaha angkutan dan pertambangan batu bara, yang kaya raya. Menurut kabar, Haikal telah dibawa ke kantor polisi, lantaran masalah uang. Banyak temannya yang meragukan hal itu, karena sepengetahuan mereka Haikal tidak pernah kekurangan uang, apalagi sampai mencuri dari orang lain.

“Minggu lalu, saya diberi Haikal uang sepuluh ribu rupiah,” ucap Gunadi.

“Saya juga sering ditraktirnya jajan di kantin sekolah,” ucap Roby.

“Anak itu sangat dermawan. Persis Papanya. Sekadar kalian tahu, kudengar dari Pak Rudi, penyumbang terbesar sekolah kita ini adalah Papanya Haikal,” kata Arief.

“Mamanya juga terkenal sebagai penyantun fakir miskin, terutama pada bulan Ramadhan dan Lebaran,” kata Leda.

“Aku punya dua baju baru pemberian Mamanya, pada Lebaran tahun lalu,” tambahnya.
Para siswa yang lain tidak banyak komentar. Mereka hanya geleng-­geleng kepala, mendengar percakapan seru itu.

“Tetapi, kenapa ia ditangkap polisi, hanya lantaran masalah uang?” tanya Suaidi.

“Namanya juga uang, sedikit atau banyak sama-sama bisa menjadi masalah bagi seseorang,” ucap Roby.

Hardi melangkah ke depan untuk menjelaskan peristiwa yang ia saksikan kemarin sore.

Seperti biasa, anak-anak komplek bermain layang-­layang di tanah lapang di ujung komplek perumahan. Di sana ada rumah besar dan mewah. Rumah itu mempunyai halaman yang sangat luas dan berpagar tinggi. Penghuninya sepasang suami-istri yang baru menikah.

Mereka sangat jarang terlihat, sebab pagi-pagi sekali sudah pergi keluar rumah, dengan mobilnya yang mewah. Mereka akan kembali saat hari sudah malam. Rumah itu biasanya dirawat oleh seorang wanita setengah baya yang merupakan pembantu rumah tangga dan merangkap sebagai tukang kebun. Ia sesekali keluar pagar untuk membuang sampah ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS), yang tempatnya di luar pagar.

Haikal bermain layang-layang tidak serius, terkadang ia jongkok dengan mata liar, melihat-­lihat orang yang ada di dalam pagar melalui sela-sela besi pagar yang agak renggang. Roby heran melihat ulah Haikal yang sangat berbeda dari biasanya itu.

“Kau ini kepingin main layang-layang atau ngintip orang, sih” sindir Roby sinis.

“Main layang-layang, dong. Tapi tidak ada salahnya kan saya kepingin tahu, siapa dan apa yang terjadi di dalam sana,” balas Haikal.

“Kalau ketahuan pemilik rumah, pastilah kau akan dimarahi, sebab itu namanya sikap usil alias selalu ingin tahu urusan orang. Tidak baik, tahu!” ejek Roby.

“Sekadar mengetahui saja, tidak apa-apa, kan?” kata Haikal sambil melangkah mengambil layang-layangnya yang telah lama diletakkannya di bawah pohon mangga yang rindang.

Haikal menaikkan layang-layang di dekat pagar rumah itu. Namun, tidak lama kemudian talinya tersangkut di pohon mangga, yang ada di dalam pagar. Ia berseru beberapa kali meminta izin masuk pagar, untuk mengambil layang-­layangnya. Wanita itu keluar dan mengizinkan­nya masuk. Haikal pun merasa lega.

Setelah mengambil layang-layang, Haikal tidak langsung keluar, tetapi berlama-lama di dalam pagar. Ia mencuri sesuatu dari tumpukan kayu bekas bangunan, yang ada di sudut kanan pagar.

“Mencari apa?” tanya wanita itu.

“Tidak apa-apa,” ucap Haikal.

Haikal menemukan sebuah kotak terbungkus rapi, ia langsung memungut dan membukanya. Nampak terlihat uang ratusan ribu rupiah, yang masih baru. Haikal membawa lari uang itu. Wanita pembantu rumah tangga itu segera mengejarnya.

Namun, tiba-tiba datang mobil patroli polisi, keduanya langsung dibawa ke kantor polisi.

“Bagaimana kabarnya sekarang?” desak Arif. “Entahlah,” jawab Hardi. “Kita doakan semoga baik-baik saja,” lanjutnya sedih.

Tiba-tiba pintu diketuk. Hardi membuka pintu, ternyata Haikal berdiri tegak di depan pintu. Para siswa heran bercampur gembira. “Panjang umurmu. Baru saja kami membicarakan kamu,” sambut Suaidi.

“Semoga aja,” ucap Haikal.

“Kau tidak jadi dibawa ke kantor polisi” tanya Hardi.

“Jadi.”

“Tapi sekarang kenapa ada di sini?”

“Urusannya sudah selesai.”

“Maksudmu apa?” desak Hardi.

Haikal menjelaskan, ia kemarin dibawa ke kantor polisi sebagai salah seorang saksi, dalam pengungkapan peredaran uang palsu yang dilakukan oleh pemilik rumah besar itu. Beberapa orang polisi teman akrab papanya, telah menggeledah rumah itu sebelumnya. Namun mereka gagal menemukan barang bukti. Mereka meminta bantuan Haikal mencari barang bukti yang disembunyikan oleh pelaku, dengan pura-pura bermain layang-layang di sana.

“Kamu bekerjasama dengan polisi itu?” tanya Leda.

“Ya,” jawab Haikai mantap.

“Kau memang berbakat menjadi detektif ulung,” puji Hardi.

“Terima kasih. Aku memang punya cita-cita untuk menjadi reserse polisi, jika sudah besar nanti,” kata Haikal.

“Mudah-mudahan berhasil,” ucap Hardi.

“Amin,” timpal yang lain. @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s