Abunawas

Mengakali Tabib Gigi

Sungguh malang nasib Narbuja. Akibat malas menggosok gigi, dia mengalami penderitaan yang amat sangat. Dua gigi gerahamnya berlubang dan tidak mungkin ditambal lagi. Satu-satunya jalan, harus dicabut.

“Dua gigi gerahammu bukan hanya berlubang, tapi sudah keropos. Tidak ada jalan lain, kecuali harus dicabut,” ujar Tabib Gigi Horsana, saat memeriksa Narbuja.

Karena tidak ada jalan lain, Narbuja terpaksa merelakan giginya harus dicabut. Kali ini, Narbuja meminta gigi geraham kanannya dulu, yang dicabut. Dua minggu kemudian, baru gigi geraham kiri yang akan dicabut.

Perlu waktu dua jam bagi Tabib Horsana, untuk mencabut gigi Narbuja. Satu jam pertama, untuk membius lokal sekitar gusi dari gigi yang dicabut. Dua jam berikutnya, proses pencabutan gigi yang sesungguhnya.

Yang membuat Narbuja malang, Tabib Horsana mengenakan tarif yang dirasa sangat memberatkan. Narbuja mencoba protes. Namun, Tabib Horsana menanggapi dengan tanpa beban.

“Tarif tabib gigi memang mahal. Kalau kau ingin murah, cabut sendiri saja gigimu yang sakit itu,” ujarnya enteng.

Narbuja pulang ke rumah dengan perasaan galau. Dia seolah merasakan dua kali kesakitan. Yang pertama karena giginya baru saja dicabut, yang kedua karena harus membayar tarif yang cukup mahal baginya. Namun, dia berusaha menahan semua kesedihan yang berkecamuk dihatinya.

Dua minggu kemudian, ketika hendak mencabut gigi geraham yang satunya, Narbuja mencoba menghubungi tabib gigi yang lain. Tabib Barona namanya. Narbuja berharap, Tabib Barona lebih murah tarifnya. Tapi, ternyata sama saja.

“Apakah tidak boleh kurang?” tawar Narbuja mencoba meminta pengertian Tabib Barona.

“Saya kira, itu sudah harga yang cukup pantas,” tolak Habib Barona.

“Bagaimana caranya agar saya bisa membayar ongkos cabut gigi lebih murah,” desak Narbuja. “Soalnya aku tidak punya persediaan uang yang cukup, buat membayarmu sebesar itu…”

Tabib Barona kebingungan dengan pertanyaan Narbuja. Baginya, ongkos cabut gigi sebesar itu, sudah sangat pantas. Tarif itu sudah tak mungkin di tawar lagi.

Namun setelah berpikir sejenak, Tabib Barona menjawab pertanyaan dengan nada kelakar. “Baiklah,” ucap Tabib Barona. “Kau cukup membayar separo saja, asal kau mau dicabut gigi tanpa bius. Bagaimana? Setuju, nggak?”

“Cabut gigi tanpa bius? Baiklah, aku akan pikir-pikir dulu,” jawab Narbuja nekad.
Dalam perjalanan pulang, Narbuja bertemu dengan Abunawas. Ia langsung menumpahkan isi hatinya, kepada si cerdik dari Baghdad ini.

“Gila! Semuanya gila!” umpat Narbuja berapi-api. “Tabib Horsana mengenakan ongkos selangit. Tabib Barona mau dibayar separo, asal tanpa bius. Memangnya, saya dianggap manusia kebal, apa?!”

Mendengar keluhan itu, Abunawas langsung cepat tanggap. Dia menyuruh Narbuja setuju, dengan persyaratan Tabib Barona. Asal saja … (Abunawas membisikkan sesuatu ke telinga Narbuja). Mendengar bisikan Abunawas, Narbuja tertawa terpingkal-pingkal.
Dua jam setelah itu, Narbuja kembali ke tempat tabib Barona. Dia setuju dicabut giginya tanpa bius. Tabib Barona sempat terheran-heran, dengan aksi nekat Narbuja.

Selama proses pencabutan gigi, Narbuja sama sekali tidak merasa kesakitan. Dia menghadapi semua dengan wajar, seperti orang yang tengah dibius lokal. Sampai proses pencabutan gigi selesai, Narbuja sama sekali tak menampakkan keluhan.

Saat hendak membayar ongkos cabut gigi, Tabib Barona menolaknya. “Aku rela tidak kau bayar, asal kau bersedia menceritakan rahasia bagaimana bisa sekuat itu,” ujar Tabib Barona.

“Sebenarnya bukan rahasia. Ini hanya akal-akalan Abunawas saja. Sebelum aku ke tempatmu, aku pergi ke Tabib Horsana minta di cabut gigi gerahamku yang masih tersisa. Setelah dibius, aku diminta keluar ruangan, untuk menunggu proses bius berjalan. Saat keluar dari ruangan itulah, aku langsung menuju ke tempatmu. Aku tidak menunggu di sana. Biarlah Tabib Horsana semalaman menungguku. Habis bayarannya kemahalan sih …!”

Mendengar cerita Narbuja, Tabib Baron tertawa terpingkal-pingkal. @@@

 

Sumber: Mentari Edisi 393 Tahun 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s