Cerita Anak

Gara-Gara Kotak Pensil

“Hai bandel! Kenapa kau rusakkan tempat pensilku?!” seru Amelia setengah berteriak. Ia melihat kotak pensilnya yang baru, hadiah ulang tahun dari ayahnya, dihempaskan ke lantai kelas oleh Dicky hingga rusak.

“Habis, kenapa kamu menghina saya? Kalau memang kamu keberatan meminjamkannya, ya tidak apa-apa. Tetapi kenapa harus menghina segala?” jawab Dicky tidak kalah sengitnya.

“Siapa yang menghina? Saya kan cuma bilang, tempat pensil itu hadiah dari ayahku, dan masih baru! Jadi kalau sampai rusak, apakah kamu bisa menggantikannya atau memperbaikinya?”

“Nah, itu dia yang namanya menghina, tahu? Selain kamu menghi­na saya, itu juga sama artinya kamu menghina keluarga saya, mengerti? Memang hanya kamu saja yang mampu membeli kotak pensil seperti itu? Baru dilihat saja tidak boleh! Sombongmu keterlaluan, Mel!”

“Idih! Kok jadi kamu yang marah. Harusnya aku yang marah, dong. Kotak pensilku kau rusakkan. Kamu yang keterlaluan. Pokoknya aku adukan kamu pada Bu Sri!” sambil berkata seperti itu, Amelia berlari ke ruang guru.

“Silakan saja! Aku tidak takut! Dasar perempuan! Biasanya cuma ngadu! Huu …”

Memang Dicky terkenal anak yang bandel di kelasnya. Dia selalu saja membuat gaduh di kelas, dengan ulah­nya. Kali ini yang jadi sasaran Amelia, karena tidak mau meminjamkan kotak pensilnya, untuk dilihat Dicky. Tapi anehnya, Dicky yang lebih terkenal dengan panggilan Si Bandel itu, sangat disukai oleh kawan-kawannya. Mungkin karena ia anak yang lucu dan pandai. Hanya kepada Amelia, ia agak membencinya. Kawan-kawannya yang lain sudah sering menasehatinya, agar jangan bersikap begitu. Tetapi, ia selalu beralasan, “Anak kaya yang sombong itu, tidak perlu dikasihani!”

Kawan-kawannya tidak berani membantah perkataan Dicky. Bagi mereka, Dicky adalah pemimpin di kelas 5-C. Ia yang selalu mendapat hadiah juara kelas sejak kelas I, sehingga apapun perkataan Dicky bagi mereka betul adanya. Akhirnya, Amelia kurang mendapat teman, dibanding Dicky. Maka semakin bertambahlah kekesalan Amelia terhadap Dicky. Puncak kekesalan itu pecah menjadi tangis yang keras.

“Lho, ada apa ini? Mengapa kamu menangis, Amelia?” Tiba-tiba Ibu Sri yang memasuki kelas, dengan terkejut. Betapa tidak! Amelia menangis dengan kerasnya sampai-sampai kelas 5-A, B, dan D juga mendengar tangis itu. Atau lebih tepat lagi kalau dikatakan, itu adalah teriakan histeris Amelia yang sedang kesal. Dalam hati, Bu Sri sebenarnya sudah menduga, kalau itu adalah hasil perbuatan Dicky.

“Dicky, Bu …!” sambil menangis, Amelia menumpahkan seluruh perasaannya pada Bu Sri.

“Tuu ‘kaaan? Apa kubilang? Cewek itu biasanya tidak ada yang lain selain menangis dan mengadu!” Dicky sempat berbisik pada Kandar, yang berada di sebelahnya.

“Dicky! Kamu ke kantor Kepala Sekolah! Sekarang juga!” Bu Sri berkata sambil meninggalkan kelas.

“Huh! Jadi berabe deh ini! Gara-­gara cewek sombong sekaligus cengeng! Jangan kuatir, Neng. Jangan takut, Non. Aku pasti akan mengganti kotak pensilmu, kalau kau tidak me­ngadu pada Bu Sri. Tapi kalau sudah begini urusannya? Kalau aku dihukum oleh Bu Sri, jangan harap aku ganti kotak pensilmu yang jelek itu, Non!”

Dicky berkata begitu, sambil menggebrak meja di muka Amelia. Kemudian ia langsung berjalan menuju ke ruang Kepala Sekolah. Se-isi kelas jadi hening, melihat gelagat yang tidak menyenangkan ini. Amelia masih menangis tersedu-sedu. Tini dan Vita sibuk membujuknya.

“Huuu … huuu … apa yang harus kukatakan pada Papa, kalau kotak pensil hadiah dari beliau rusak seperti ini? Huuu … huuu …!” Amelia me­nangis dalam dekapan Tini dan Vita.

“Ssssh, ssh, diam Mel! Nanti kami akan bantu menjelaskannya pada Papa-mu. lya, kan Vit?” Tini mengharapkan dukungan Vita.

“lya, Mel! Nanti sepulang sekolah kami akan mengantarmu pulang dan menjelaskan, apa yang terjadi pada kotak pensilmu itu. Sekarang kamu diam, ya?” Kan sebentar lagi pelajaran matematika akan dimulai.”

Tampaknya Amelia men­jadi pasrah. Bagaikan diko­mando, tangisnya berangsur berhenti. Tidak lama kemudi­an, Dicky memasuki kelas. Wajahnya tertunduk. Kalau sudah begini, biasanya itu dapat diartikan Dicky sudah mendapat ceramah yang mengena dari Kepala Sekolah. Biasanya ia sudah menyadari kesalahannya dan segera meminta maaf.

Betul saja! la berjalan ke arah Amelia, “Mel, maafkan aku, ya. Habis aku tadi emosi, sih. Kalau kamu mau memaafkan aku, kotak pensilmu akan kuganti, deh. Promis! Suer! Janji bin sumpah, deh! Tapi kamu mau, kan. Maafkan aku yang tak berdaya ini, Mel?”

Dicky bergaya seperti orang yang betul-betul tak berdaya. Se-isi kelas tertawa terbahak-bahak.

Dasar anak bandel! Enak saja minta maaf, setelah semua yang diperbuatnya padaku! Aku saja belum puas menggunakan kotak pensil pemberian Papa, sudah dirusak begini. Anak seperti ini harus mendapat pelajaran sopan santun, sekali-sekali! Batin Amelia saking kesalnya.

Sementara anak-anak kelas 5-C tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Dicky yang menggelikan, Amelia duduk dengan tenangnya. Setelah tawa mereka mereda, Amelia angkat bicara.

“Dicky, aku sendiri sih sebenarnya tidak apa-apa. Cuma sedih, karena pemberian ayahku kau rusak seperti. ini. Kalau kau memang mau menggan­tinya, aku mau saja. Tapi harus kau antar sendiri ke rumahku dan harus kau serahkan pada papaku!”

Se-isi kelas menjadi hening. Apa mau, si Dicky mengembalikannya ke rumah Amelia? Dicky itu “gengsian”.

Dicky diam sesaat, berpikir keras rupanya. Wah gawat nih urusannya! Kalau hanya mengantar ke rumahnya sih, aku tak keberatan. Tapi kalau harus menyerahkan pada ayahnya.

Bisa berabe, nih! Bagaimana kalau ayahnya marah? Tapi kalau aku tak mau, nanti Amelia bisa mengira aku pengecut. Ini lebih berabe lagi. Sorry, deh, kalau aku dapat cap “pengecut”. Enggaklah, ya!

Akhirnya Dicky angkat bicara. “Oke, oke, boleh saja! Aku akan mengantarkannya ke rumahmu besok sepulang sekolah, karena aku baru membelinya sore nanti. Tapi lebih sip kalau disediakan kue untuk menyambutku. Bagaimana?”

Besoknya, Dicky pergi ke rumah Amelia, sesuai janjinya. Amelia sedang duduk di teras, bersama ayahnya.

Amelia terkejut mendengar orang memberi salam. Ternyata Dicky.

“Hai, Dicky. Mari masuk. Pa, inilah kawan Amelia yang bernama Dicky, yang baru saja Amelia ceritakan itu.”

Sekarang ganti Dicky dan Ayah Amelia yang terkejut.

“Mel, kalau Dicky ini sih, Papa kenal betul! Dialah murid karate Papa yang giat dan lucu, yang sering Papa ceritakan itu.”

“Lho, Ayah Amelia ternyata pelatih karate di kelurahan itu?” Dicky termangu.

“Orangnya kaya, gagah, tapi tidak sombong. Buktinya meskipun beliau kaya raya, mau melatih karate anak-anak dan remaja di Kelurahan seminggu dua kali, tanpa menerima bayaran.

“Permisi, Om. Saya mau mengembalikan kotak pensil Amelia…”

“Oh, mari, mari. Om sudah mendengar cerita dari Amelia tadi. Mengapa sampai diganti segala?”

“Saya yang bersalah, Om. Saya yang merusakkannya. Jadi sepatutnya saya bertanggung jawab menggantinya. Bukankah seorang karateka harus bertanggung jawab terhadap perbuatannya?”

“Wah, wah, betul itu. Kalau begitu, terima kasih Dicky. Mel, terimalah kotak pensil ini dan kamu harus memaafkan Dicky, ya”

“lya, Pa. Dicky, aku minta maaf ya, sudah bicara kasar sama kamu.” Akhirnya mereka berjabat tangan.

“Rupanya aku salah menilai Amelia. Malu aku jadinya. Kalau tahu dia tidak sombong begini, dari dulu aku bersahabat dengannya,” gumam Dicky.*@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s