Cerita Misteri

Hantu di Perkebunan Tebu

Sudah lama orang-orang tidak memperhatikan bangunan tua yang terletak tidak jauh dari perkebunan tebu. Bangunan tua itu tidak terawat. Seluruh dindingnya dipenuhi lumut tebal dan tumbuhan menjalar. Tiba-tiba saja beberapa hari ini, orang ramai membicarakannya.

Konon, dulunya rumah itu dihuni orang asing yang mengusai seluruh perkebunan tebu yang masih ada sampai sekarang. Kata orang, hantu itu berwujud salah satu penguasa perkebunan tebu zaman dulu.

“Kalau hantu itu wujudnya seperti manusia biasa, tentu tidak menakutkan. Tetapi, hantu itu hanya menampakkan kepalanya saja. Hiii ….!”

“Wah … cerita bohong itu!” kilah Wage.

“Bohong bagaimana?” kilah Yayu. “Kemarin malam, Wak Inah melihat kepala hantu melayang-layang mengitari rumah itu. Matanya biru, rambutnya merah, wajahnya pucat. Ih … benar-benar menakutkan!”

“Ah … kalau tidak melihat sendiri, aku tidak percaya. Benar, kan, Din?” tukas Wage.

“Sombong! Kalau sudah melihat sendiri, baru tau rasa!”

“Bagaimana kalau nanti malam kita buktikan?!” lanjut Didin.

“Ehm … aku sih mau saja, Din,” sahut Yayu memaksakan diri. “Kamu sendiri bagaimana, Ge?”

“He … he … he … Kalau bertiga sih aku mau.”

Malam harinya suasana begitu sepi.

Sementara itu, Yayu, Didin dan Wage berjalan beriringan menyusuri jalan setapak yang menghubungkan perkampungan dengan perkebunan tebu yang akan mereka datangi.
Rasa takut mulai menyerang ketiga anak itu.

Remang-ramang pantulan sinar dari dalam bangunan tampak jelas. Cerobong asap di atap terlihat mengepul tipis.

Ketakutan mereka semakin menjadi, ketika tiba-tiba dari arah belakang terdengar langkah mendekat.

“Din …, Ge …,” panggil Yayu ketakutan, seluruh tubuhnya menggigil dan kakinya bergetar.

Sementara itu, suara langkah kaki di belakang mereka terdengar jelas. Dengan sisa keberanian, Wage menoleh ke belakang.

“Ha-ha-hantu …! Lari, Yu … Din!” kata Wage dengan suara tercekik, karena dilihatnya sesosok bayangan berdiri tegak tidak jauh dari mereka.

Namun, apa yang terjadi?! Ketiganya bertubrukan. Akibatnya mereka tidak bisa berlari.
“Hei … siapa di sana?” terdengar suara cadel memanggil.

Yayu, Wage dan Didin semakin panik.

Suaranya lain dengan suara orang-orang kebanyakan.

“Siapa kalian? Sedang apa di situ?” ulang sosok yang tinggi besar dengan kulit kemerah-merahan. Matanya biru dan tajam, berdiri tegak sambil menyorotkan lampu senter ke arah mereka.

Untuk beberapa saat ketiganya terdiam. Mulut mereka terkunci rapat dengan tubuh bergetar ketakutan.

“Mengapa kalian di situ?” tanyanya lagi sambil tersenyum.

“Ti-ti-ti-tidak ada apa-apa,” sahut Didin memberanikan diri.

“Tetapi mengapa kalian ketakutan?”

“Ehm … nan-nanti kami ceritakan,” sahut Didin. Rasa beraninya mulai timbul kembali setelah yakin kalau sosok dihadapannya bukan hantu.

“Saya manusia, bukan hantu. Nama saya William Smith,” katanya sambil tertawa. “Saya seorang Ornitologis (dari Ornitologi, yaitu ilmu pengetahuan yang mengenai burung-burung yang meliputi gambaran, pembagian jenis dan kehidupannya). Saya Di sini sedang meneliti kehidupan burung hantu atau biasa kalian sebut burung celepuk, yang akan digunakan untuk membasmi hama tikus di perkebunan tebu di tempat kalian ini. Kalian mengerti?”

“Oh!” gumam mereka serentak. Lega rasanya.

Bangunan tua itu pun Nampak bersih dan tidak angker. Orang-orang kampung mulai sering berkunjung. Kadang-kadang mereka membawa hasil kebun bahkan menemani William Smith mencari burung celepuk. @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s