Cerita Anak

Aroma Durian

Musim durian tiba. Hmm … aromanya menusuk-nusuk hidung Ipal, Anto, Dodi, dan Rio yang sedang belajar di teras rumah Ipal.

“Wah, musim durian begini kamu pasti mabuk durian ya, Pa!?” goda Anto.

“Betul! Mabuk aromanya saja, bukan buahnya,” sahut lpal sam­bil nyengir.

Teman-temannya tertawa. Rumah lpal letaknya di depan jalan raya. Beberapa pedagang buah-buahan sering mangkal di depan rumah Ipal. Kalau sedang musim rambutan, pedagang rambutan yang mangkal di depan rumah Ipal. Saat musim duku, pedagang duku yang berjualan di depan rumah Ipal. Ketika musim mangga, pedagang mangga yang mangkal di depan rumah Ipal.

Dari semua musim buah-bua­han, musim durian yang paling asyik. Hmm … aroma durian yang tertiup angin kadang sam­pai ke teras rumah Ipal. Kalau kebetulan sedang duduk-duduk di teras, aroma durian itu sungguh menggoda. Karena itu Ipal, Anto, Dodi, dan Rio paling senang belajar di teras rumah lpal saat musim durian.

“Coba abang durian itu berbaik hati memberi kita sebuah saja duriannya,” kata Dodi berkhayal.

Anto tertawa, “Sebuah durian dibagi ke kita rugi, dong, abang durian. Harga durian kan, mahal.”

Itu sebabnya mereka tak bisa membeli durian sesuka hati. Durian termasuk buah yang mewah bagi mereka. Ketika mereka asyik mengobrol, sebuah mobil berhenti di dekat penjual durian. Tak lama aroma durian semakin menyengat hidung mereka, Rupanya pembeli itu langsung memakan durian itu di tempat penjualnya.

“Kasihan Ipal,” tawa Dodi. “Selama musim durian hidung­nya sesak oleh aroma durian.”
lpal diam saja. Dia sedang menajamkan penciumannya. Aroma durian itu semakin tajam menusuk hidungnya.

“Hei! Kamu kenapa, Pal?” Rio heran melihat tingkah Ipal.

“Ssst….,” seru Ipal.

“Kalian mencium aroma durian?”

“Tentu saja,” jawab mereka bertiga.

“Dari mana asalnya?” lpal kembali bertanya.

“Tentu saja dari depan,” jawab Rio.

“Yang pasti dari penjual durian itu,” tambah Dodi.

Tapi lpal menggeleng­gelengkan kepalanya.

“Wah, lpal sudah mabuk aroma durian tuh,” tawa Anto.

“Ssst …” lpal meletakkan telunjuknya ke bibir.

“Kamu kenapa sih, Pal?” keti­ga temannya jadi penasaran.

“Ada aroma durian, tapi bukan berasal dari penjual duri­an di depan,” jelas Ipal.

“Lalu?” desak Dodi.

“Kakek!” tiba-tiba lpal berteri­ak melihat kakek berdiri dekat pintu.

Kakek tertawa senang berte­mu lpal dan teman-temannya.

“Kapan Kakek datang?” Ipal, Anto, Dodi, dan Rio mengeru­muni Kakek.

“Sejam yang lalu. Karena kalian sedang sibuk belajar, Kakek tak mau mengganggu.”

“Lo, Kakek datang lewat pintu belakang, ya?” tanya lpal. Kakek tertawa dan meng­angguk-angguk dengan lucu.

“Tunggu, Kakek punya sesuatu untuk kalian.”

Keempat anak laki-laki itu berpandangan setelah Kakek masuk ke dalam rumah.

“Lihat, apa yang Kakek bawa!” Kakek menunjuk sesuatu.

“Durian!” Mereka berempat berteriak senang.

“Jadi, aroma durian yang kamu cium itu berasal dari duri­an yang Kakek bawa ya, Pal?” tawa Anto, Dodi, dan Rio.

“Wah, seperti mendapat duri­an runtuh!” Mereka membantu kakek membelah durian.
Ha ha ha… lpal tertawa senang. Kali ini bukan cuma aroma durian saja yang ia rasakan, tapi juga buat nya yang lezat! @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s