Dongeng

Mohan Si Pemain Biola

Sejak kecil Mohan mahir bermain seruling. Seruling itu dibuatnya sendiri, dari batang gelagah. Dimainkannya seruling itu, saat mengembalakan kerbau. Mendengar alunan suara seruling, si kerbau akan berhenti merumput. Burung-burung juga akan berhenti berkicau mengagumi merdunya tiupan seruling Mohan.

Pada malam hari, suasana di padang rumput berubah menjadi ceria, tidak sepi mencekam. Sebab para muda-mudi turun berjoget, mengikuti alunan suara seruling Mohan. Setelah dewasa, Mohan belajar main biola. Setelah mahir, ia berpetualang. Dia bermain biola di mana saja. Orang-orang mengundangnya untuk bermain biola, baik di pesta-pesta, perjamuan atau cuma sekedar menghibur diri. Kadang-kadang, Mohan juga mengamen di jalan.

Bertahun-tahun lamanya Mohan berpetualang. Dia menjadi pujaan rakyat jelata. Tetapi, ia menjadi musuh bagi para penguasa. Sebabnya, para prajurit tidak lagi berwatak kejam. Mereka bahkan sering ikut bernyanyi dan menari, bersama rakyat.

“Pemain biola itu harus dibunuh,” kata penguasa negeri, pada suatu hari.

Tetapi yang menjadi kendala, siapa yang akan membunuhnya? Tidak ada yang tega membunuh Mohan. Para prajurit lebih suka dipecat, dari pada harus membunuh Mohan. Penguasa negeri mencari jalan lain. Apa daya, ia terpaksa meminta bantuan tukang sihir.

Tukang sihir menyambutnya dengan hati riang. Dia juga membenci Mohan. Permintaan bantuan dari penguasa disetujui. Tukang sihir menjawab, “Serahkan semuanya pada hamba.”

Pada suatu hari, ketika Mohan sedang berjalan melintasi hutan, tukang sihir mengirim dua belas ekor serigala untuk menghadangnya. Serigala-serigala itu berdiri di mulut jalan, yang dilalui Mohan. Mereka menyeringai, memamerkan taring-taring mereka yang tajam berkilatan. Mata mereka mencorong bagaikan bara. Mohan merasa ajalnya sudah dekat.

Bagaimana mungkin ia lolos dari sergapan binatang-binatang buas itu? Ia sudah pasrah, tetapi sebelum ia mati, ia masih memainkan sebuah lagu dengan biolanya.
Mohan lalu memasang biolanya dipundak, mengangkat penggesek dan mengalunkan sebuah lagu yang amat merdu, tetapi menghanyutkan kalbu.

Suasana hutan tiba-tiba terasa hening. Tak terdengar bisik suara apapun, angin pun seolah berhenti bertiup.

Dua belas serigala itu berdiri termangu, tersihir oleh keajaiban alunan nada-nada damai biola Mohan. Ketika suara musik berhenti, bagaikan dalam mimpi, serigala-serigala itu melangkah pergi meninggalkan calon mangsanya dalam kedamaian. Mohan terheran-heran menyaksikan kejadian itu. Sungguh sebuah keajaiban.

Mohan meneruskan perjalanan. Hari telah senja, ketika pemain biola itu tiba di tepi sungai. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba muncul di hadapannya dua laki-laki berpakaian mewah. Seorang diantaranya berkata, “Maukah kau bermain biola untuk kami? Kami akan bayar dengan pantas.”

Mohan tidak berpikir panjang. Hari sudah malam, perutnya lapar dan ia tidak mempunyai uang sepeser pun. Tentu ini sebuah tawaran yang menarik untuknya.

Kedua lelaki berpakaian mewah itu mengajak Mohan ke sebuah puri. Para tamu sudah berkumpul. Jumlahnya amat banyak.

Di tengah ruangan pesta, terdapat sebuah meja besar. Diatasnya terdapat sebuah mangkuk. Nampak oleh Mohan, para tamu mencelupkan tangannya ke dalam mangkuk, lalu mengoleskannya ke mata.

Mohan mengikuti kebiasaan itu. Namun apa yang kemudian terjadi? Nampak olehnya kini, adalah sebuah kerajaan sihir. Mohan dikelilingi oleh para tukang sihir. Mereka siap membunuh Mohan. Lagi-lagi Mohan merasa ajalnya sudah dekat. Tapi di saat-saat yang kritis itu, dia teringat biolanya. Tanpa pikir panjang, ia segera memainkan biolanya itu.

Tetapi kali ini ia memainkannya dengan nada yang tinggi melengking, memekakkan telinga. Para tukang sihir berlarian kesana kemari, sambil menutup telinga. Mereka lalu kabur dan tak pernah menampakkan diri lagi, di hadapan Mohan. @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s