Abunawas

Menganiaya Orang Mati

Hasan, tetangga Abunawas, biasa berjualan di pasar. Saat berkemas hendak pulang, tiba-tiba dia didatangi seseorang. Orang itu mengajak ngobrol tak berujung pangkal. Setelah puas mengobrol, orang asing itu menitipkan sepotong baju pada Hasan.

“Titip sebentar. Aku hendak membeli rokok di warung sebelah,” kata orang itu.

Ditunggu sepuluh-dua puluh menit, orang asing itu tak kunjung muncul. Hasan mulai risau. Ia ingin segera pulang, tapi merasa terbebani dengan titipan baju, dari orang asing itu.

Satu jam kemudian, karena tidak kunjung datang, baju orang asing itu akhirnya dibawa pulang. Rencananya, baju itu akan dibawa lagi, keesokan harinya. Ternyata, sampai satu bulan, orang asing itu tidak nongol juga.

Hasan terperangah, saat tiga orang pengawal istana datang ke tempatnya berjualan. “Kau ikut kami sekarang juga!” hardik pengawal, membuat Hasan ketakutan. Hasan pun pasrah dan menuruti kehendak pengawal.

Ternyata Hasan dibawa ke muka hakim, dengan tuduhan membunuh seseorang. Tentu saja Hasan mengelak. Ia tidak mau dituduh seperti itu.

“Kau tidak perlu mungkir!” ucap hakim mencecar Hasan. “Dia sudah satu bulan menghilang. Menurut beberapa orang saksi, kau orang terakhir yang bersamanya, sebelum dia dinyatakan hilang.”

“Lagi pula,” imbuh hakim menguatkan tuduhan, “Baju orang itu ada di tempatmu berjualan. Dengan bukti dan saksi itu, apakah kau masih mengelak lagi, hah?!”

Hasan tidak bisa berkutik, dengan tuduhan itu. Semua yang dikatakan hakim, memang benar adanya. Tapi, dia sama sekali tidak melakukan apa yang dituduhkan hakim.

Karena kebodohannya dalam masalah hukum, Hasan akhirnya dipenjara selama tiga tahun. Hasan terpaksa menjalani semua itu. Ia hanya bisa menyesali nasibnya, yang malang.

Tepat tiga tahun, Hasan dibebaskan dari hukuman. Ia bisa menghirup udara bebas, di luar. Tapi pengalaman menyakitkan itu, tak ingin diulangi lagi untuk kedua kalinya.

Suatu hari, Hasan berbelanja barang dagangan, di sebuah daerah. Kata orang, barang-barang di daerah itu cukup murah harganya. Tiba-tiba, mata Hasan tertumbuk pada sosok orang yang tidak asing lagi. “Bukankah dia orang yang dikabarkan meninggal, karena kubunuh?” gumam Hasan. “Mengapa dia berada disini?”

Hasan cepat-cepat pulang menceritakan hal ini, kepada Abunawas. Ia yakin, Abunawas bisa membantunya mengatasi persoalan rumit ini. Ia ingin, hakim itu diberi pelajaran agar tidak lagi gegabah dan sembarangan dalam mengadili orang.

“Tiga tahun aku dipenjara, Karena dituduh membunuh orang,” tutur Hasan menceritakan kisah pilu yang pernah menimpanya. “Ternyata setelah aku bebas, orang itu masih hidup dan kutemui di sebuah daerah. Apa yang harus aku perbuat, Abu?”

Abunawas merenung sejenak. Ia menyesali kecerobohan hakim yang memenjarakan orang, yang tidak bersalah. Hakim itu harus diberi pelajaran, agar tidak lagi sembrono menjatuhkan hukuman.

“Kalau begitu masalahnya,” saran Abunawas kepada Hasan, “Bawa tongkat ini dan pukuli orang itu sekuat tenagamu. Kalau kau sudah puas, kembalilah ke sini. Tapi kalau kau keburu ditangkap orang dan dibawa kemuka hakim, siapkan jawaban ini,” bisik Abunawas ke telinga Hasan.

Tanpa berpikir panjang, Hasan menuruti perintah Abunawas. Dia membawa tongkat dan kembali menemui orang, yang dikabarkan terbunuh itu berada. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Orang itu dengan mudah ditemukan.

Dengan mengendap-endap, Hasan mendekati orang itu. Setelah dekat, Hasan langsung memukuli sekujur tubuh orang itu, sekuat tenaga. Karena tidak siap menerima serangan itu, orang asing itu babak belur dibuatnya. Kalau saja tidak segera dihentikan orang-orang sekitar, dia pasti sudah remuk redam tulang belulangnya.

Hasan kembali dihadapkan ke muka hakim, dengan tuduhan menganiaya orang. Namun kali ini, Hasan menghadapinya dengan tenang.

“Lagi-lagi kamu berulah!” damprat hakim kepada Hasan. “Setelah membunuh, kini kau menganiaya. Apakah kau tidak pernah jera, hah?!”

“Siapa yang menganiaya orang?” elak Hasan. “Pak Hakim jangan asal tuduh!”

“Lagi-lagi kamu mungkir. Apakah dengan saksi dan bukti yang berada di sini, kau masih berkelit juga, hah?! Lihat, ada orang babak belur begini kau masih mengelak juga?”

“Lho?!”Hasan pura-pura kaget. “Bukankah orang ini sudah meninggal tiga tahun yang lalu, karena kubunuh? Mana mungkin ada orang meninggal bisa hidup lagi? Jadi, sebenarnya saya ini menganiaya siapa?”

Mendengar jawaban Hasan, seketika hakim terdiam. Dia tidak berkata apa-apa lagi. Dengan terpaksa hakim membebaskan Hasan dari segala tuduhan. Bahkan membayar ganti rugi pada Hasan, akibat salah menghukum. @@@

 

Sumber: Mentari Edisi 374 Tahun 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s