Cerita Misteri

Sahabat Misterius

Saat sedang bersih-bersih gudang, aku tak sengaja menemukan buku diari tua milik nenek. Tertulis di situ nama Nenek waktu masih gadis: Puti Rahma. Buku yang berdebu itu teronggok di sudut gudang. Ditindih nomor-nomor lama yang akan dijual Mama besok lusa.

Aku sempat membaca tulisan tangan Nenek yang begitu rapi  dan halus. Tak seperti tulisanku yang bagai benang kusut. Diari itu berisi kesan pengalaman Nenek semasa muda. Seusia denganku.

Nenek memang selalu menulis diari sampai hari ini. Kegemarannya itu menurun padaku. Nenek sama sakali tidak keberatan kalau aku membaca diarinya.

“Boleh. Itu memang bagian dari hidup Nenek. Isinya tentang cerita dan pengalaman Nenek. Ceritanya banyak yang lucu, lho!” kata Nenek ketika aku minta izin untuk membaca diari lamanya.

Pada halaman terakhir, ada seuntai puisi kecil. Tertera sebuah nama dibawahnya. Muningsih, Jln. Kamboja 88. Lengkap dengan nomor telepon.

Ah … ini pasti sahabat Nenek masa kecil.

Malam itu aku iseng menghubungi nomor telepon itu. Ternyata sudah berubah. Aku harus menambah satu angka diantara nomor itu. Lalu dengan iseng pula kuputar nomor telepon itu lagi. Siapa tahu aku bisa berbagi pengalaman dengan teman Nenek.Bukankah Nenek teman yang sangat menyenangkan diajak berbicara? Mestinya, sahabat Nenek pasti juga menyenangkan.

Terdengar gagang telepon diangkat. Aku segera berkata, “Selamat malam ….”

Sunyi. Tidak terdengar suara sedikit pun.

“Selamat malam!” sapaku lebih keras.

Terdengar suara mendesis namun kemudian sunyi lagi.

“Bisa bicara dengan Muningsih? Hmmm … Maksud saya Nenek Muningsih,” kataku tanpa ragu-ragu.

“Sa-saya. Di sini Muningsih. Kamu siapa?” sahut suara dari seberang.

Ah … akhirnya …! Suara itu halus sekali. Seperti berasa dari tempat yang dalam dan gelap. Ah … yang penting keisenganku berbuah hasil.

“Saya Pina cucu Nenek Puti Rahma,” kataku mantap. “Tapi eh … suara Nenek Muningsih kok tidak seperti nenek-nenek, ya?”

“Saya Muningsih. Usiaku sepuluh tahun. Bukan nenek-nenek. Umurmu berapa Pina?” ujar suara lirih itu akrab.

Aku terhenyak, mungkin ini cucu Nenek Muningsih yang kebetulan punya nama sama. “Sepuluh tahun. Kamu cucu Nenek Muningsih?”

Tetapi sepertinya Muningsih tidak mendengar. Dia terus berbicara dengan ramah. Aku pun ngobrol dengan akrab.

Selanjutnya hampir setiap malam aku menghubungi Muningsih tanpa setahu Nenek.

“Ning, masa aku terus yang menghubungi kamu? Gantian, dong!” kataku mengeluh. Supaya tidak ketahuan, aku jadi sering menelepon di telepon umum.

Sudah tiga hari Nenek pergi. Kabarnya lusa baru datang. Aku jadi kesepian. Makanya aku kembali ke telepon umum untuk menghilangkan sepi.

“Aku pernah meneleponmu, Pina. Tapi kamu sudah tidur,” jawab Muningsih.

“Oh, ya? Jam berapa?”

“Jam dua malam.”

“Dasar. Tentu saja aku sudah tidur.”

“Maaf, aku cuma diizinkan menelepon tengah malam.”

“Huuu. Ning, aku ingin ketemu kamu besok sore. Gimana?” tanyaku. Aku memang penasaran dengan cucu sahabat Nenek ini. Aku hanya tahu dari foto yang dia kirimkan kemarin. Foto itu pun agaknya sudah tua. Tapi wajahnya masih bisa kulihat jelas. Cuma dandanannya kuno sekali.

“Jangan sekarang, Pina. Nanti saja. Lagi pula, buat apa kita ketemu? Toh lewat telepon begini sudah asyik,” jawab Muningsih.

Tapi aku terus membujuk.

Lalu …

“Hmmm … baik. Tapi jangan kaget. Aku ke rumahmu,” jawab Muningsih.

Aku gembira sekali. Akhirnya aku bisa bertemu dengannya.

Siang ini Nenek datang. Aku senang sekali. Kutunjukkan diari Nenek yang kutemukan. Juga foto cucu Muningsih.

“Kejutan kan, Nek. Aku berhasil bersahabat dengan cucu Nek Muningsih,” kataku bangga, kusodorkan foto lama pemberian Muningsih.

Kulihat wajah Nenek pucat.

“Pina, dari mana foto ini?”

“Dari Muningsih. Baru dua hari yang lalu Pina terima. Dia cerita banyak tentang masa muda Nenek. Seperti Nek Muningsih selalu bercerita padanya,” kataku. “Ada apa, Nek? Mengapa Nenek seperti ketakutan?”

Lalu Nenek memanggil Ibu dan setelah itu baru bercerita.

Lima puluh tahun yang lalu sahabat Nenek bernama Muningsih tewas terbakar di rumah kunonya. Saat itu dia sendirian di rumah. Sejak itu keluarganya menghilang entah kemana. Lokasi rumah naas itu kini telah berubah menjadi semak belukar. Dan Jln. Kamboja 88 itu letak sebuah makam.

Aku menggenggam tangan Nenek. Aku mulai ketakutan. “Nek … sore nanti dia berjanji akan menemuiku. Aku memintanya.”

Nenek memelukku. “Kita berdoa, Pina. Supaya dia tenang.”

Aku merasa tubuhku lemas. @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s