Abunawas

Air Mata Darah

Di samping jahil, Abu Jahil ternyata juga suka membual. Dan bualannya terkadang sangat tidak masuk akal. Seperti yang dikemukakan beberapa waktu yang lalu di hadapan banyak orang.

“Anak lelakiku yang berumur 6 tahun, sangat pandai bercerita. Dia bisa terbahak-bahak kalau menceritakan sesuatu yang lucu. Dan dia bisa menangis kalau menceritakan sesuatu yang menyedihkan. Dan kalau bercerita tentang kesedihan, dia sampai bisa mengeluarkan air mata darah,” tutur Abu Jahil dengan bangganya.

Orang-orang yang mendengar cerita Abu Jahil saling berpandangan satu sama lain. Hampir semuanya tidak ada yang percaya. Tapi tak ada satu pun diantara mereka yang berani membantah cerita Abu Jahil.

“Bukannya tidak berani,” kata salah satu diantara mereka. “Tapi aku tidak tega mempermalukan dia di depan umum.”

“Betul, kita cari cara lain saja,” sahut beberapa orang yang lain. “Yang penting dia bisa diberi pelajaran agar tidak terlalu membual lagi.”

“Kita tidak tahu bagaimana caranya?” potong yang lain lagi.

“Bagaimana kalau kita minta bantuan Abunawas?” tiba-tiba ada seseorang diantara mereka menyeletuk.

“Betul. Kita minta tolong Abunawas saja,” dukung yang lain lagi.

Akhirnya, beberapa orang ramai-ramai mendatangi Abunawas. Mereka mengadukan bualan Abu Jahil yang keterlaluan. Setelah orang-orang selesai berbicara, Abunawas menanggapinya dengan geleng-geleng kepala.

“Masak Abu Jahil bilang begitu?” tanya Abunawas tak percaya.

“Masak kami berbohong? Apa gunanya?” bantah orang-orang yang mendatangi Abunawas.

“Baiklah kalau begitu,” jawab Abunawas. “Aku akan pikirkan bagaimana cara memberi pelajaran pada Abu Jahil. Lihat saja apa yang kulakukan nanti.”

Lama Abunawas berpikir. Dia mencara agar bisa membuat jera Abu Jahil. Setelah berpikir keras, Abunawas menemukan cara yang dianggapnya jitu.

“Oke, tunggu saja kedatanganku,” gumam Abunawas dalam hati.

Keesokan harinya, Abunawas menunggu di seberang jalan, tepat di depan rumah Abu Jahil. Dia menunggu anak Abu Jahil keluar rumah. Dia merencanakan sesuatu yang tidak akan pernah diduga oleh Abu Jahil.

Setelah menunggu beberapa saat, apa yang diharapkan Abunawas ternyata terjadi juga. Anak lelaki Abu Jahil keluar dari rumah. Begitu keluar dari rumah, Abunawas langsung mendekati anak Abu Jahil. Dalam hitungan detik, tangan Abunawas langsung merayap mencubit paha anak Abu Jahil. Mendapat perlakuan seperti itu, anak itu seketika menangis dan masuk ke dalam rumah. Dia mengadukan perlakuan yang diterimanya kepada bapaknya.

“Pak, ada orang jahat. Dia mencubit pahaku!” adu anak Abu Jahil dengan tangis tersengal-sengal.

Mendengar pengaduan itu, Abu Jahil seketika menjadi berang. Dia keluar rumah mencari orang yang telah menyakiti anaknya. Begitu ketemu Abunawas, Abu Jahil langsung meluapkan kemarahannya.

“Abunawas, kenapa kau cubit anakku, hah! Apa salahnya?!” hardik Abu Jahil geram.

“Maaf, Jahil. Tetangga kita ada yang sakit,” jawab Abunawas tanpa merasa bersalah.

“”Apa hubungannya, hah!” kejar Abu Jahil, gusar. “Apa hubungannya tetangga yang sakit dengan kau sakiti anakku.”

“Begini Abu Jahil,” jelas Abunawas. “Tetangga kita membutuhkan darah. Daripada beli mahal-mahal di rumah sakit, mending aku minta anakmu saja. Kan kalau dia menangis, air matanya dibuang percuma? Sayang, kan? Daripada dibuang, lebih baik dimanfaatkan untuk menolong sesama. Cuma tadi, belum sempat mewadahi tangisan anakmu, dia terlanjur masuk mengadukan hal ini kepadamu.”

Mendengar penuturan Abunawas, Abu Jahil seketika terdiam. Dia tidak bisa berkata-kata lagi. Dia benar-benar tidak berkutik di hadapan Abunawas. Mulai saat itu dia berjanji tidak akan berani membual lagi. @@@

 

Sumber: Mentari Edisi 367 Tahun 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s