Fabel

Serakah Tiada Guna

Bima adalah seekor gajah yang bersahabat dengan Hanom, seekor monyet. Keduanya tinggal di Hutan Hijau. Sesungguhnya persahabatan mereka sangatlah unik, karena didasari oleh rasa saling membutuhkan. Bima merasa sudah mulai tua dan tidak selincah dulu. Ia selalu kalah, saat berebut buah-buahan yang masih segar, dengan binatang-binatang lain yang lebih muda. Setiap ada buah yang ranum, mereka telah lebih dulu memetiknya. Hanya yang masam saja, tertinggal buat Bima.

Suatu hari, Hanom bermain dengan belalai Bima, tiba-tiba ia mendapatkan akal, “Bima, angkat aku dengan belalaimu, ke pohon sawo itu. Lihat, buahnya sudah mulai masak, pasti manis rasanya!” seru Hanom.

Bima pun menuruti perkataan Hanom. Diangkatnya tubuh mungil Hanom, dengan belalainya. Dengan cekatan, Hanom mengambil beberapa buah sawo yang telah matang. Kemudian mereka membaginya secara adil dan memakannya bersama-sama. Sejak saat itu, Bima dan Hanom sering terlihat bersama.

Suatu hari, Hanom melihat mangga harum manis, yang telah matang. Namun pohon mangga itu sangatlah tinggi, ia harus meminta bantuan Bima untuk mengambil mangga tersebut. Tiba-tiba hanom merasa sayang, jika harus membagi mangga itu dengan Bima. Ia memutar otak mencari akal licik, agar mangga tersebut dapat dinikmatinya sendirian.

“Bima, aku lihat di sebelah utara ada pohon mangga harum manis, yang telah matang buahnya. Sayangnya, buahnya cuma satu,” kata Hanom.

“Oh, tidak apa-apa, kita bisa membaginya menjadi dua. Aku akan mengangkatmu seperti biasa!” kata Bima.

Setelah Hanom berhasil memetik mangga ranum tersebut, ia berkata, “Sobat, kemarin aku baru saja terserang penyakit radang perut. Kemudian oleh Dokter Domy Domba, aku disarankan untuk makan mangga, sebanyak-banyaknya. Tentu kau tidak keberatan, jika aku memakan mangga ini sendirian. Biar radang perutku cepat sembuh!” kata Hanom.

“Baiklah, tapi ceritakan kepadaku, ya, bagaimana rasanya mangga itu,” kata Bima.

Bima pun hanya duduk di samping Hanom, melihat Hanom makan mangga itu dan mendengarkan ceritanya, tentang rasa mangga yang segar dan manis. Bima hanya bisa menitikkan air liurnya.

Keesokan harinya, Hanom melihat sebuah jambu yang sangat besar dan telah matang. Pohon jambu itu sangatlah tinggi, lagi-lagi muncul akal licik Hanom. Setelah diangkat oleh Bima untuk memetiknya, Hanom berkata, “Oh ya. Aku lupa, Dokter Domi Domba kemarin juga menasihatiku, untuk makan jambu sebanyak-banyaknya. Kau tidak keberatan, jika aku makan jambu ini sendirian?” tanya Hanom. Lagi-lagi Bima mengalah, karena kesehatan sahabatnya itu lebih penting.

Suatu sore, Bima sedang mandi di sungai. Diguyurnya seluruh tubuhnya dengan air, yang disemprotkan lewat belalainya yang panjang. Kemudian, dilihatnya Dokter Domi Domba lewat.

“Dokter Domi Domba, Hanom kemarin bercerita bahwa ia baru saja berobat kepadamu, karena terkena radang perut. Mengapa engkau memberinya obat yang sangat lezat, yaitu makan mangga yang ranum dan buah jambu yang matang. Sedangkan dulu, saat kepalaku pusing, kau memberiku obat yang sangat pahit!” kata Bima.

“Bima, Bima, siapa bilang mangga yang ranum dan jambu yang matang bisa menyembuhkan radang perut, Hanom pasti sedang menggodamu. Lagi pula, sudah tiga bulan ini, aku belum bertemu dengan Hanom. Kau ini ada-ada saja,” jawab Dokter Domi Domba sambil tersenyum.

Mendengar jawaban tersebut, Bima duduk termenung di tepi sungai. Ia kesal karena telah ditipu Hanom selama ini. Tapi, mengapa Hanom melakukannya? Jika Hanom benar-benar menginginkan mangga dan jambu untuknya sendiri, tinggal minta saja. Tak perlu membohonginya.

Keesokan harinya, Hanom datang ke rumah Bima untuk mencari buah apel. Dalam perjalanan ke rumah Bima, Hanom bertemu Dokter Domi Domba. Dokter itu tersenyum, mengetahui Hanom menggoda Bima dengan penyakit radang perutnya.

Sebenarnya Hanom takut bertemu Bima, karena kecurangannya telah terbongkar. Namun jika tiba-tiba saja menghindar dari Bima, ia takut Bima marah.

Bima dan Hanom berhenti dibawah sebuah pohon apel. Seperti biasa, Hanom diangkat ke pucuk pohon oleh Bima, Hanom segera memetik beberapa buah apel yang telah matang. Tiba-tiba, Bima bersin hingga Hanom terjatuh. Beruntung ia bisa menggapai dahan pohon. Sialnya, dahan pohon itu sudah lapuk dan tak kuat menahan beban badan Hanom. Kraakkk, Hanom pun terjatuh ke tanah. Melihat sahabatnya jatuh, Bima bermaksud mendekati dan menolongnya. Namun Hanom salah sangka, ia mengira Bima marah dan berniat mencelakainya.

“Ampun, Bima! Aku tidak akan menipumu lagi, aku berjanji, tapi jangan kau injak aku!” kata Hanom.

“Kau ini kenapa, sobat, aku tadi hanya bersin, rupanya ada sarang laba-laba yang menggelitik hidungku. Aku juga tidak berniat menginjakmu, aku mendekat karena ingin menolongmu,” jawab Bima dengan geli.

“Jika aku mencelakaimu, apa bedanya denganmu? Apakah dendam lebih baik dari rakus? Aku hanya berharap, mulai sekarang kau tidak lagi membiarkan kerakusanmu, merusak persahabatan kita!” kata Bima panjang lebar.

“Kau benar, Bima, aku minta maaf,” balas Hanom.

Kemudian, Bima dengan hati-hati mengangkat Hanom, ke punggungnya.

“Bima, kau akan membawamu ke mana?” tanya Hanom bingung.

“Ke dokter Domy Domba. Namun, kali ini aku yakin, dia tidak lagi memberi resep mangga ranum dan jambu matang untukmu,” jawab Bima sambil tersenyum. Kemudian, keduanya pun tertawa.@@@ [Greed Never Pay. LAURENSIA]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s