Cerita Misteri

Misteri Kerangka Tersembunyi

Jika dilihat dari jauh, asrama sekolah itu memang terlihat seram. Maklum bekas bangunan Belanda. Besar dan kokoh. Jika malam hari terlihat kelam dan suram.

“Hei, Ton. Antar aku ke lab, yuk!” minta Dion pada Anton, teman sekamarnya.

“Nggak mau ah. Habis hujan begini. Untuk ke laboratorium saja kita harus lewat jalan setapak yang becek. Males, dech!” kata Anton mengungkapkan keengganannya.

“Tapi, buku biologiku ketinggalan di sana. Gimana, sih? Masa kamu tega membiarkan aku sendirian ke sana?” tanya Dion penuh harap.

Namun pertanyaan itu disambut senyum si Anton. “Kenapa nggak tega? He … On! Begitu saja nggak berani. Pengecut!”

“Uh … dasar Anton. Nggak ngerti perasaan teman. Aduh … terpaksa dech aku pergi ke sana sendirian. Atau aku cari teman lain saja,” pikir Dion.

Akhirnya misi pencarian pun dilakukan ari kamar satu ke kamar yang lain. Namun hasilnya tetap nihil. Siapa pun akan malas keluar kamar setelah hujan. Mendingan melingkar di tempat tidur. Dion putus asa.

Tes … tes … tes …

Tetesan air hujan jatuh membasahi pundak dan seluruh tubuh Dion. Untung hujannnya agak reda. Kalau tidak, pasti ketika Dion sampai di laboratorium badannya sudah basah kuyub dan belepotan lumpur. Dion menyesali dirinya yang ceroboh. Mengapa bukunya sampai tertinggal? Kalau tidak, kan tidak perlu repot-repot begini.

Akhirnya sampai juga di di depan pintu laboratorium. Dengan rasa takut ia memasuki laboratorium. laboratorium itu gelap sekali. Dalam kegelapan tangannya merayap-rayap mencari tombol sakelar untuk menyalakan lampunya.

Setelah lampu menyala, bergegas ia mencari buku biologinya. Dia ingat, tadi ia duduk di dekat jendela. Dengan segera Dion melangah ke sana.

Dion menghela nafas lega. Segera ia langkahkan kaki secepat mungkin ke arah buku itu. Setengah Jalan, tiba-tiba … pet … lampu mati.

Dari bagian pintu yang terbuka berhembus angin dingin. Wusss … bahkan ranting-ranting mawar terdengar memukul-mukul kaca jendela. Mirip detak jantungnya.

Apalagi terdengar seretan kaki dan gemerincing logam mendekati dirinya. Keringat dingin membasahi seluruh tubuh Dion. Makin lama suara itu makin dekat. Seakan hendak mengatakan sesuatu padanya.

Dalam keadaan seperti itu, Dion tidak lagi peduli dengan buku biologinya. Dia segera berlari dan terus berlari sekencang-kencangnya menuju kamar.

Seretan kaki dan gemerincing logam itu terjadi terus menerus dalam seminggu ini. Di luar ruang belajar misalnya. Suara misterius itu datang. Di koridor asrama suara aneh itu muncul lagi. Walau selalu menghilang dengan sendirinya, tetap saja membuat seluruh penghuni asrama ketakutan. Bahkan Yossie memutuskan untuk pindah dari asrama yang menakutkan itu.

Pak Hidayat sebagai pemimpin asrama merasa cemas. Ini harus di selidiki. “Aku harus mampu membongkar misteri ini,” tekad Pak Hidayat.

Suasana laboratorium Biologi itu masih seperti biasanya. Suram dan gelap. Jika tidak di bantu lampu atau senter mungkin kita tidak melihat apa-apa di sana. Pak Hidayat sedang duduk di situ. Dia menunggu hingga pukul 12 tengah malam, saat hantu yang diceritakan anak-anak itu datang.

Detik-detik yang ia lalui sampai akhirnya …

Gemerincing logam menuju meja Pak Hidayat. Bahkan lama sekali berputar-putar di meja itu. Bulu kuduk Pak Hidayat meremang. Kemudian suara misterius itu perlahan menjauh. Sepertinya dia meminta Pak Hidayat mengikuti arah suaranya.

Pak Hidayat berdiri dan mengikuti suara itu. Suara asing itu membawa pemimpin asrama keluar dari laboratorium, menelusuri koridor, kemudian membelah kebun di samping asrama, menuju bawah pohon nangka. Dalam kegelapan malam dibawah pohon nangka itulah tiba-tiba suara itu lenyap.

Pagi hari dibawah pohon nangka itu …

“Galilah tempat ini!” perintah Pak Hidayat pada para muridnya.

Dengan hati bertanya-tanya dan wajah penuh kecemasan mereka pun mulai menggali. Sejam kemudian, astaga! Mereka menemukan kerangka manusia yang relatif utuh dengan kaki dan tangan terbelenggu rantai. Kerangka itu tampak menderita.

“Bisa jadi dia ini pejuang di masa revolusi dulu,” ungkap Pak Hidayat.

Pak Hidayat mencocokkan dengan sejarah asrama itu. Akhirnya di dapat kesimpulan bahwa kerangka itu adalah pejuang. Sebuah lencana yang sudah berkarat dan lapuk ada di dekat pundak kerangka itu.

“Taman Makam Pahlawanlah yang layak bagi pejuang ini, Pak,” usul Dion.

Akhirnya tiga hari kemudian, kerangka itu telah di pindahkan ke Taman Makam Pahlawan. Tentu saja belenggu yang membelit tangan dan kakinya telah di lepaskan. Bahkan ia pun dengan upacara yang layak. Dan yang penting, sejak saat itu suara seretan kaki dan gemrincing logam tidak lagi terdengar di asrama. @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s