Cerita Anak

Air Tuba Dibalas Susu Stroberi

Siang itu, sudah dua kali Vita ke rumah Yani. Ia ingin meminjam buku kumpulan soal Matematika. Namun, dua kali pula Vita tidak berhasil. Padahal, besok ada ulangan harian matematika. Vita sendiri belum mempunyai buku itu, karena sekolah kehabisan persediaan. Pesanan berikutnya belum datang.

Rumah Vita dan Yani memang berdekatan. Dalam hal prestasi, Yani jauh lebih unggul, dari Vita. Yani setalu mendapat nilai tertinggi setiap semester. Apalagi pada pelajaran Matematika.

Meskipun Yani tergolong cerdas, ia pelit membagi ilmunya pada teman-temannya. Contohnya saja siang itu. Yani sebenarnya sudah belajar. Ia bisa saja meminjamkan buku kumpulan soal itu pada Vita. Apalagi Vita hanya ingin meminjam sebentar untuk memfotocopy lembaran latihannya. Namun, Yani mencari berbagai alasan untuk tidak meminjam buku itu.

“Aku belum selesai belajar, Vit! Nanti malam saja ya, kamu datang lagi!”

Malamnya, Vita kembali datang ke rumah Yani. Namun rumah itu sepi. Yang ada hanya Tante Lidya, tante Yani, yang sedang duduk di teras rumah.

“Wah, Yani pergi dengan mamanya ke pesta. Bukunya dia bawa ke pesta,” jawab Tante Lidya, waktu Vita menceritakan maksud kedatangannya.

“Kira-kira kapan Yani pulang?” tanya Vita penuh harap.

“Mungkin agak malam,” jawab Tante Lidya tidak enak, karena tak bisa membantu Vita.

Sekali lagi, Vita pulang dengan tangan hampa. Ia bingung sekali. Untuk meminjam buku pada teman yang lain, tidak mungkin. Rumah mereka jauh, dan belum tentu punya buku itu juga. Memang ada beberapa anak yang belum kebagian buku kumpulan soal itu. Vita yakin, Yani memang sengaja tidak ingin meminjamkan buku itu. Vita berusaha sabar.

Vita terpaksa belajar hanya dari catatan, sambil menunggu kepulangan Yani. Matanya akhirnya tak sanggup lagi menahan kantuk. Vita terpaksa tidur sebelum mendapat buku yang ia inginkan.

Esok paginya, Vita bergegas menuju rumah Yani untuk meminjam buku itu. Melihat keuletan Vita, Yani terpaksa meminjamkan­nya. Wajah Vita ceria menerima buku yang dipinjamkan Yani. “Terima kasih, ya!”

Walau lima belas menit lagi ulangan dimulai, Vita berusaha membaca buku itu. Apa yang dikhawatirkan Vita pun terjadi. Ia kurang lancar menjawab soal-­soal. Sebaliknya, Yani dengan mudah menjawab semua soal.

“Gimana, Vit? kamu bisa?” tanya Yani setengah mengejek. Vita tersenyum tulus.

“Untung ada buku kamu! Jadi aku bisa sedikit, sih.”

Di dalam hati, Yani tersenyum puas. Ia yakin, tidak ada yang bisa mengunggulinya, terutama dalam pelajaran Matematika. Teeet… Teeeet…

Bel tanda berganti pelajaran terdengar. Kali ini kelas seni rupa. Semua murid menyiapkan kain yang minggu lalu ditugaskan Ibu Dina untuk dibawa.

Wajah Yani tiba-tiba berubah pucat pasi. Ia lupa membawa kain tugas itu. Ia pun tahu kebiasaan Ibu Dina yang suka menghukum murid yang tidak disiplin. Akhirnya, Ibu Dina datang ke ruang kelas.

“Ibu akan memeriksa satu per satu, ya! Kalau ada yang lupa membawa bahan tugas, harap berdiri di pojok kelas!” Ibu Dina mulai memeriksa meja setiap murid. Akhirnya, Ibu Dina pun tiba di meja Yani.

“Yani, mana kain punyamu?” tanya Ibu Dina.

“Saya…, saya lupa, Bu…” jawab Yani pelan.

Ibn Dina menarik nafas nanjang. “Ya sudah, kamu berdiri…” “Tunggu, Bu! Ini kain milik Yani! Tadi dia lupa menaruh di mejaku, Bu!” bela Vita tiba-tiba.

ibu Dina menggelengkan kepala. “Yan, kamu jangan pelupa seperti itu, dong!”

Yani mengangguk cepat. Keringat dingin mengalir di dahinya. Ia menerima kain yang diberikan Vita. Ia selamat berkat pertolongan Vita. Yani menyesal dan malu atas perbuatannya pada Vita kemarin.

Usai sekolah, Yani mendekati Vita. “Makasih, ya, Vit!”

“Sama-sama. Kamu kan juga sudah baik padaku! Kemarin ibuku membeli kain terlalu panjang. Aku potong jadi dua bagian, deh!” jawab Vita enteng.

“Kalau nggak ada kamu, mungkin aku sudah berdiri di pojok kelas, Vit! Maaf ya, selama ini aku pelit padamu!” ujar Yani penuh penyesalan.

Hari itu, mereka berdua lalu pulang jalan kaki bersama. Yani tampak lemas karena ia tidak sarapan.

Melihat itu, Vita merogoh tasnya dan memberikan sekotak susu cair rasa stroberi pada Yani.

“Ayo, minum susu itu! Kalau kamu pingsan di jalan, kan aku yang repot!” ledek Vita.

“Hari ini kamu baik sekali padaku, Vit! Terima kasih!” ujar Yani lagi. Dalam hati ia sangat senang punya sahabat seperti Vita. Ya, air tuba yang dilakukannya, dibalas dengan susu stroberi! Kini, Yani berjanji untuk selalu baik pada semua temannya. @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s