Fabel

Tikus Yang Cerdik

Pagi itu, Anoa berjalan-jalan menikmati cuaca cerah. Angin berhembus sepoi-sepoi. Sesekali terdengar suara ayam hutan dikejauhan. Tiba-tiba Anoa dikejutkan bunyi gemerisik daun-daun kering. “Hai, siapa itu?”

“Saya, Tikus,” Tikus menunjukkan dirinya. “Oh, Anoa. Selamat pagi.”

“Pagi, Kau mengejutkanku. Tak kusangka tubuh kecilmu bisa membuat kegaduhan.”

“Kau jangan mencemoohku begitu, Anoa. Meskipun kecil, aku berani beradu dengan mereka yang bertubuh besar.”

“Ah, mana mungkin.”

“Kau terlalu meremehkan aku, Anoa.”

“Lho, kenyataannya begitu kan, Tikus. Perutmu bisa meletus jika kuinjak.”

“Jangan terlampau menyombongkan diri.”

“Aku kan bicara apa adanya. Lihat, tubuhku kan memang lebih besar darimu.”

“Baiklah, mari bertaruh,” kata tikus. “Siapakah diantara kita tahan terhadap api?”

“Hanya itu taruhannya? Ah, pasti tubuhmu hangus lebih dulu jika kubakar.”

“Jangan merasa yakin dulu, Anoa. Kau tidak dapat membakarku hingga hangus. Namun, aku dapat membakarmu hingga hangus.”

“Baiklah, bakarlah aku dulu,” kata Anoa angkuh.

Anoa membaringkan tubuhnya di tanah. Tikus segera menimbuni daun-daun kering, lalu membakarnya. Baru sedikit daun yang hangus, Anoa sudah merasa kepanasan. Segera dia berdiri, karena bagian belakang tubuhnya terbakar. Anoa merintih kesakitan. “Aku menyerah. Kini giliranmu.”

Anoa mengumpulkan daun-daun dan ranting-ranting menjadi sebuah gundukan. Tikus disuruh masuk ke dalam gundukan itu. Anoa membakarnya hingga menyala. Api membesar. “Aduh, kasihan Tikus kalau sampai hangus terbakar,” kata Anoa dalam hati sambil memandangi kobaran api.

Tikus ternyata cukup cerdik. Dia tidak menunggu sampai api menyala, langsung berusaha menyelamatkan diri. Ia meggali lubang dalam tanah lalu tembus di sebelah kanan gundukan daun dan kayu kering yang terbakar. Namun ia tidak langsung keluar dari lubang, menunggu sampai dipanggil Anoa.

“Tikus! Apakah kau masih hidup?”

“Saya ada di sini,” jawab Tikus, keluar dari lubang.

Anoa segera mendekati arah suara Tikus. Dia menemukan Tikus tidak terbakar sedikit pun. Anoa keheranan. Bagaimana Tikus sampai tidak terbakar? “Kau … kau selamat, Tikus.”

“Yah, Tuhan masih melindungiku.”

Anoa mengangguk-angguk. Dia berjanji tidak akan mengganggu Tikus lagi. @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s