Abunawas

Pamer Ganti Baju

Tuan Umar adalah seorang hartawan. Ia hanya mempunyai seorang anak perempuan semata wayang. Saking sayangnya dengan putri tunggalnya itu, Tuan Umar banyak membelikan baju bagus untuknya. Bukan hanya bagus, tapi juga sangat mahal.

Andaikata Tuan Umar tidak banyak umbar kata, mungkin orang-orang di sekitar tidak begitu memerdulikannya. “Uang untuk membeli baju itu, ya uangnya sendiri. Mana ada urus?” begitu seru orang-orang.

Tapi masalahnya, Tuan Umar suka pamer tentang baju-baju anaknya.

“Putriku kalau ganti baju, sehari empat kali. Pagi, siang, sore dan malam. Siapa yang bisa menandingi jumlah baju anakku?” begitu ucapan yang sering diperdengarkan Tuan Umar kepada teman-teman.

“Disamping itu,” lanjut Tuan Umar. “Aku tidak ingin anakku kena penyakit kulit. Begitu bajunya kena keringat sedikit, aku suruh dia ganti baju. Kalau perlu dia ganti baju yang baru dibeli dari toko.”

Karena sering diperdengarkan, lama-lama orang-orang pada menjauh, kalau didekati Tuan Umar. Mereka merasa risih, setiap kali mendengar kesombongan Tuan Umar. Namun demikian, Tuan Umar tidak pernah merasa kalau sedang dijauhi.

Suatu hari, Tuan Umar bertemu dengan Abunawas, Abunawas pun menjadi korban kesombongan Tuan Umar.

“Menurut pendapatmu, apakah tidak terlalu sering kalau anakku ganti baju, empat kali dalam sehari?” tanya Tuan Umar kepada Abunawas, dengan gaya agak halus. “Saya kira biasa saja,” pura-pura tidak heran dengan ulah pamer Tuan Umar. “Keponakanku bahkan ganti baju sepuluh kali dalam sehari.”

“Berarti keponakanmu anak orang kaya, dong!” tanya Tuan Umar penasaran.

“Kau bisa tafsirkan sendiri,” jawab Abunawas, ganti pamer kesombongan.

Ucapan Abunawas membuat Tuan Umar penasaran. Sepengetahuannya di desa ini tidak ada orang lain yang lebih kaya darinya. Tapi mengapa Abunawas bisa mengatakan, keponakannya bisa ganti baju 10 kali dalam sehari? Apakah Abunawas punya family yang kaya raya, diluar pengetahuan Tuan Umar? Karena penasaran, Tuan Umar mencoba mencari tahu, dimana rumah keponakan Abunawas. Namun, tidak satu pun orang kaya di Baghdad, yang mengaku sebagai kerabat Abunawas.

“Abunawas pasti berbohong. Aku akan labrak dia!” gumam Tuan Umar dengan gigi gemeletuk, menahan gemas.

Setelah beberapa hari mencari, akhirnya Tuan Umar bertemu juga dengan Abunawas. Sesuai janjinya, Tuan Umar mendamprat Abunawas.

“Abunawas, mana buktinya kalau keponakanmu bisa ganti baju sepuluh kali dalam sehari. Aku telusuri dimana-mana, tak satu pun mengaku sebagai kerabatmu. Keponakan mana yang kau maksudkan?” semprot Tuan Umar tanpa basa basi.

“Kalau Tuan ingin mencari tahu, mengapa tidak tanya aku?” jawab Abunawas enteng. “Dia tidak kemana-mana. Dia ada di rumahku. Mengapa Tuan harus bersusah payah mencarinya?”

“Tapi benarkah, dia bisa ganti baju sepuluh kali dalam sehari? Berapa jumlah bajunya?” kejar Tuan Umar penasaran.

“Tuan bisa lihat sendiri, berapa jumlah bajunya di rumah,” ajak Abunawas menerima tantangan Tuan Umar. Tanpa menunggu waktu, Tuan Umar menuruti ajakan Abunawas. Sampai di rumah Abunawas, Tuan Umar terkesiap. Dia mendengar suara tangis bayi. Dari tirai jendela yang terbuka, terlihat istri Abunawas mengganti popok bayi laki-laki di pangkuannya.

“Itukah keponakanmu?” tanya Tuan Umar.

“Betul!” sahut Abunawas cepat. “Apakah Tuan masih belum yakin, kalau keponakanku bisa ganti baju, sepuluh kali dalam sehari?”

“Itu bukan ganti baju. Tapi ganti popok!” sergah Tuan Umar.

“Apakah popok bukan baju? Kalau tidak pakai popok, apakah kubiarkan dia telanjang bulat?!”

Mendengar jawaban spontan Abunawas, Tuan Umar seketika terdiam. Dia tidak bisa membantah lagi. Karena malu, dia pergi meninggalkan rumah Abunawas tanpa permisi. @@@

 

Sumber: Mentari Edisi 391 Tahun 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s