Cerita Misteri

Air Terjun Petaka

“Saaam!” tiba-tiba saja Kak Rio lari menghambur ke arah Kak Sam. Wajahnya pucat dan nafasnya tersengal-sengal. “Hei, kamu kenapa, Rio?” tanya Kak Sam keheranan. Kak Rio tak menjawab. Lidahnya kelu. “Makanya, toh. Kalau mau tidur berdo’a dulu. Biar nggak mimpi buruk,” saran Kak Sam tersenyum, mencoba menenangkan kawannya.

Sesiang ini, tingkah laku Kak Rio memang aneh. Sebelumnya, dialah yang paling bersemangat dengan acara liburan ini. Waktu berangkat, ia baik-baik saja. Tapi sepulang dari acara jalan-jalan ke air terjun di tengah hutan, Kak Rio mendadak berubah.

Terkadang ia menjadi pendiam, tapi sering kali ia berteriak-teriak tanpa sebab.

“Pokoknya kita harus balik besok pagi. Pulang sekarang malah lebih baik! kata Kak Rio ketus. “Lho gimana sih? Kan rencananya, besok pagi kita ke Coban Singo lagi, mengambil foto ….” kata Kak Sam. “Nggak jadi! Dibatalkan saja! Aku nggak mau kembali ke air terjun itu! Kita dalam bahaya besar, tahu!” potong Kak Rio. “Ah, kamu ini kayak anak kecil saja. Oke, dech. Kalau kamu memang nggak mau ke air terjun, tinggal di kmar saja. Biar aku dan teman-teman yang berfoto. Beres, kan?” saran Kak Sam. Kak Rio tak menjawab. Dengan lesu ia berjalan masuk ke dalam kamar.

Pagi telah tiba. Herannya, tingkah laku Kak Rio tak kunjung berubah. Malah semakin parah. Acap kali ia mondar mandir dalam kamar. Mulutnya berkomat-kamit, menggumamkan kata-kata yang aneh. “Jangan-jangan dia kesurupan makhluk halus, Sam,” bisik Kak Gunawan. “Hus! Sembarangan!” Kak Sam membantah dengan nada tinggi. “Tapi, aku pernah lho melihat orang kesurupan. Pandangannya kosong dan suka komat kamit sendiri. Persis si Rio itu!” sahut Kak Didik. Kak Sam terdiam. Dalam hatinya ia ragu. Apakah mungkinj Rio kemasukan makhluk halus?

Siang tadi, Kak Sam sempat ngobrol dengan penduduk setempat. Katanya, air terjun itu memang angker. Sering terlihat sosok seram di sekitar sana. Tubuhnya manusia, tapi kepalanya singa! Bisa jadi dia lelembut penunggu air terjun. Itulah sebabnya, objek wisata itu bernama Coban Singo. Kokon makhluk itu suka merasuki tubuh manusia. Korban yang disukainya? Tentu saja, manusia yang suka melamun.

“Hmm, mungkin kalian benar, teman-teman. Sedari tadi Rio mengomel. Dia terus-terusan minta pulang,” kata Kak Sam. “Ya sudah, biar dia pulang sendiri saja. Air terjun seindah itu, sayang kalau tidak diabadikan dalam kamera,” kata Kak Didik. “Tapi anehnya, Rio memaksa kita pulang. Dia nggak mau balik, kalau kita nggak ikut,” tegas Kak Sam. “Ah, mungkin si Rio cuma jenuh. Maklum, dia kan jarang bepergian di hutan,” sahut Kak Gunawan. “Yuk, kita berangkat,” ajaknya.

“Jangan! Jangan berangkat! Kalian bisa celaka! Percaya kata-kataku!” tiba-tiba Kak Rio meloncat keluar dari dalam kamar, yang sedari tadi tertutup. Kak Sam dan yang lainnya tak menghiraukan. Mereka mengemasi tas dan peralatan, lalu melangkah keluar penginapan. Tak ada pilihan lain bagi Kak Rio. Ia pun segera perpakian dan mengikuti ketiga kawannya.

Coban Singo tak jauh dari penginaman. Setengah jam perjalanan jalan kaki, sampailah sudah. Air terjun itu terletak di dalam hutan. Suasananya yang alami sungguh menyegarkan. Melihat gemercik air yang jatuh ke sungai, Kak Sam dan kawan-kawan pun tergoda. “Mandi dulu yuk! Setelah itu, baru kita foto-foto, ajak Kak Didik sambil mencebur ke sungai, yang lain mengikuti.

“Hey! Jangan masuk ke air! Bahay …,” teriak Kak Rio, sambil berlari ke sungai. Belum lagi kata-katanya selesai, tiba-tiba … Gruduk! Gruduk! Terdengar suara bergemuruh dari atas. Tanah longsor! Kak Sam dan yang lainnya berusaha lari namun terlambat. Aliran tanah longsor lebih dulu sampai ke bawah. Mereka semua terjebak!

Kak Rio yang tak tahu berbuat apa, menghubungi penduduk setempat. Dua jam kemudian, tim penyelamat pun tiba. Untunglah. ketiga orang itu selamat. Kak Didik dan Kak Gunawan patah tulang dan tak sadarkan diri cukup lama. Saat tersadar, mereka terbaring di ranjang Puskesmas. Terlihat Kak Rio di sana. Wajahnya cemas. “A-aku semalam mendapat mimpi. Kita semua terkurung dalam timbunan tanah. Aku hendak mengatakan ini tapi takut kalian tak percaya, karena … Orang berkepala singa yang memberitahuku!” jelas Kak Rio panjang lebar. Kak Sam tersenyum. Ia hanya bersyukur dalam hati. @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s