Abunawas

Mengadili Kambing

Abunawas kaget sekali melihat Pak Hakim pagi-pagi sekali bertandang ke rumahnya. “A-apa hamba berbuat salah Pak Hakim? Lalu Pak Hakim akan mengadili hamba?” tanya Abunawas gusar.

“Oh, tidak, tidak! Aku ke sini bukan hendak mengadilimu. Tapi aku kemari justru minta bantuanmu mengadili perkara yang kutangani!” jawab Pak Hakim sambil tersenyum.

Abunawas diam sejenak sambil mengernyitkan dahinya. “Abu Kir datang ke pengadilan, ia menuntut lima ekor kambing peliharaannya. Ia menuduh salah satu kambingnya itu yang memakan habis tanaman sayur kacang di kebunnya. Abu Kir memintaku mencari tahu siapa diantara kelima kambing itu yang terbukti memakan sayur itu, dan jika sudah terbukti maka Abu Kir akan menghukum kambing itu!” cerita Pak Hakim sambil sesekali memegangi kepalanya.

Abunawas kaget juga mendengar cerita Pak Hakim itu. “Keterlaluan sekali orang kikir itu. Masak ia mau mengadili kambingnya sendiri. Lagi pula siapa yang tahu bahasa kambing, bagaimana harus membuktikannya?” gerutu Abunawas.

“Aku pun sudah mengatakannya pada Abu Kir, tapi ia tetap tak mau tahu. Ia tetap bersikeras menuntut kambing-kambingnya. Aku kehabisan akal Abunawas, bagaimana pun aku harus bisa adil pada semuanya!” keluh Pak Hakim. Abunawas pun menyanggupi permintaan Pak Hakim itu. Ia bersedia mendampingi Pak Hakim mengadili kambing-kambing Abu Kir.

Tak lama kemudian, Abu Kir benar-benar datang ke persidangan dengan membawa kelima ekor kambing-kambingnya. “Bagaimana mungkin kau bisa begitu yakin, kalau salah satu dari kelima ekor kambingmu itu yang memakan habis sayuran kacang itu?” tanya Abunawas.

“Aku melihat mereka di kebun sayur kacangku!” jawab Abu Kir.

“Jika benar mereka semua ada di kebun kacangmu, tapi kan belum tentu mereka atau salah satu dari mereka yang memakannya? Mungkin ada pelaku yang lain?” cecar Abunawas. Abu Kir diam sejenak sambil menggaruk-garuk kepalanya. Abunawas tersenyum, ia langsung yakin Abu Kir sengaja membuat perkara. Pasti ada rencana licik yang sedang dipersiapkannya.

“Pokoknya aku yakin salah satu dari kambing-kambingku ini pelakunya! Aku menuntut pengadilan ini membuktikannya! Dan jika kalian tidak sanggup membuktikannya, maka aku akan ganti menuntut kalian semua! Aku minta ganti rugi sepuluh kantong emas!!” celoteh Abu Kir dengan nada tinggi.

Kontan Wajah Pak Hakim pucat mendengarnya. “Waduh, kok jadi pengadilan yang ganti dituntut sih? Tuntutannya sebanyak itu lagi, lalu dari mana aku akan menggantinya?? Sableng juga Abu Kir ini!” gumam Pak Hakim sambil menyeka keringat dinginnya.

Berbeda dengan Pak Hakim yang panik dan ketakutan, Abunawas justru tenang-tenang saja. Mendengar celoteh Abu Kir tadi, ia menjadi semakin yakin, Abu Kir akan berbuat licik dengan sengaja berperkara. Abunawas kemudian langsung mengambil sebilah golok yang sangat tajam dan menunjukkan pada Abu Kir. “Lho, kamu kok bawa golok segala, Abunawas? Mau apa kau???” tanya Abu Kir bingung.

“Tentu saja, aku akan merobek perut lima ekor kambing ini satu per satu. Lalu seluruh isi perutnya aku keluarkan semuanya, biar kita semua tahu siapa yang memakan habis sayur kacang milikmu!!” ujar Abunawas dengan bergaya serius menghunus golok.

Abu Kir mulai salah tingkah, wajahnya berubah pucat. “Ehm, jika perut masing-masing kambing itu kau robek, maka sudah tentu kambing itu akan mati bukan?? Berarti aku akan kehilangan lima ekor sekaligus?” keluh Abu Kir panik.

“Wah, kalau soal itu bukan urusan kami. Yang pasti, kami sekarang bertugas mencari bukti siapa pelakunya. Dan satu-satunya jalan adalah dengan membedah perut kambing-kambing itu?” tegas Abunawas.

Abu Kir semakin ketakutan, ia buru-buru memeluk kelima ekor kambingnya. “J-jangan kau lukai kambing-kambingku ini! Harganya jauh lebih mahal dari pada sayur kacang yang kupunya! Biarlah aku kehilangan sayur kacang dari pada aku kehilangan lima ekor kambingku ini! Aku sekarang mau pulang saja!!” ujar Abu Kir sambir buru-buru menggelandang lima ekor kambingnya.

“Mending sekarang kau kasih makan saja kambingmu sampai kenyang, agar ia tidak menyerobot makananmu, ha … ha … ha …!” ujar Pak Hakim sambil memberi Abunawas sekantong emas. “Terima kasih Abunawas!!!” lanjutnya. @@@

 

Sumber: Mentari Edisi 491 Tahun 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s