Cerita Anak

Rambut Panjang Adinda

Sore itu, Adinda diajak Mama pergi ke salon, untuk memotong rambut. Tetapi, ia tidak mau, karena ingin memanjangkan rambutnya.

“Mau dipanjangkan seberapa lagi, Dinda? Sekarang, rambutmu sudah sebahu, tapi kamu sudah malas merawatnya. Ayo Dinda, ikut Mama ke salon, biar rambutmu di rapikan,” ajak Mama lagi.

“Dinda nggak mau, Ma. Dinda ingin punya rambut panjang,” kata Dinda, sambil merengek.

“Ya, sudah! Nanti kalau rambutmu sudah panjang, kamu rawat yang baik, ya. Sekarang, Mama akan pergi dulu,” kata Mama sambil melangkah keluar rumah, menuju salon.

Beberapa bulan kemudian, rambut Adinda sudah panjang hampir sepinggang. Adinda sangat senang. Awalnya, Adinda sangat senang merawatnya. Namun, lama-kelamaan Adinda mulai malas melakukannya. Suatu hari, ketika Adinda hendak pergi ke sekolah, Mama bertanya, “Dinda, rambutmu kok nggak diikat, sih? Rambutmu jadi kelihatan berantakan begitu.”

“Nggak apa-apa, Ma, yang penting kan tidak menggangguku,” jawab Adinda.

Kemudian, Mama mengikat rambut Adinda, dengan pita. Tiba-tiba, Mama terkejut, “Dinda … kamu tidak keramas, ya? Rambutmu kok bau dan kotor begini?”

“Nanti aja sepulang sekolah, Ma,” jawab Adinda.

“Dinda, kalau kamu malas merawatnya, nanti Mama akan memotong rambutmu, biar pendek,” ancam Mama Adinda.

“Jangan potong rambut Dinda ya, Ma. Nanti Dinda akan merawatnya,” kata Dinda merayu.

“Ya, sudah. Sekarang pergi ke sekolah dulu,” kata Mama kemudian. Di tengah perjalanan ke sekolah, Adinda melepaskan pita ikatan rambutnya dan membiarkannya terurai.

Sesampainya di sekolah, Adinda mulai asyik mengobrol dengan teman-temannya. “Hai Dewi, ngomong-ngomong, hari libur besok mau ke mana?” tanya Adinda.

“Oh, aku sih mau diajak ibu pergi ke salon. Katanya, rambutku sudah panjang,” jawab Dewi.

Tiba-tiba datanglah Sandra dan Maya. “Wah, pada membicarakan aku ya?” tanya Maya.

“Memangnya ada apa denganmu?” tanya Dewi.

“Kalian tidak melihat rambut Maya, sekarangkan jadi lurus,” kata Sandra. “Wow … bagus banget rambutmu. Kamu apakan May?” tanya Dewi kemudian.

“Kemarin, aku diajak Kakak ke salon, terus rambutku diluruskan, alias di rebounding,” kata Maya menjelaskan.

“Bagus apanya? Lebih bagus rambutku, lebih tebal dan panjang sekali,” kata Adinda, sambil memegangi rambutnya.

“Iya sih, memang bagus. Tapi, jarang dikeramasi dan nggak pernah disisir rapi. Jadi, kelihatan awut-awutan gitu,” kata Sandra.

“Benar, Din. Kamu harus merawat rambutmu. Kakakku menyebutnya, di-creambath,” kata Maya menasihati. Dinda hanya diam, mendengarkan.

Sepulang sekolah, Adinda pergi ke rumah Dion untuk belajar bersama. Di sana, ia melihat Dion sedang asyik memperbaiki sepedanya.

“Kebetulan kamu datang, sepedaku ini tadi rodanya rusak di jalan. Tolong Bantu memegangi sepedaku, ya. Aku mau mencoba rodanya,” kata Dion.

“Oke, aku bantu,” jawab Adinda bersemangat. Ketika roda itu di putar, tiba-tiba Adinda berteriak keras, “Aduh … rambutku sakit sekali!”

Dion kaget dan berhenti. Ternyata rambut Adinda masuk ke dalam jari-jari sepeda, dan terjepit di sana. Adinda menangis kesakitan. Untunglah Mama Dion segera datang menolong.

“Syukurlah kamu tidak apa-apa, Din. Tapi rambutmu harus di potong, supaya tidak terjepit seperti ini,” kata Mama Dion. Kemudian Mama Dion menggunting rambut Adinda, untuk mengeluarkan dari jari-jari sepeda Dion.

“Sudahlah, jangan menagis lagi. Makanya, lain kali kalau punya rambut yang panjang, harus di jaga baik-baik,” kata Mama Dion.

Sepulang dari rumah Dion, Adinda langsung masuk ke kamarnya dan melihat dirinya di cermin. Adinda sangat kecewa, melihat rambutnya. Tiba-tiba, Mama Adinda datang menghampirinya dan kemudian bertanya, “Lho, rambutmu kok jadi pendek begitu?”

“Rambut Dinda dirapikan oleh Mama Dion,” jawab Dinda dengan wajah sedih. Kemudian, Adinda menceritakan kejadian di rumah Dion.

Sambil mengelus rambut Adinda, Mama berkata, “Makanya, kalau punya rambut panjang, harus dirawat dan dijaga baik-baik. Jangan malas untuk mencuci rambut, supaya rambut kamu bersih dan sehat. Dengan kejadian ini, kamu baru tahu, kalau rambutmu sangat berharga kan?”

“Sudahlah, jangan sedih. Nanti, kan, rambutmu juga bisa panjang lagi,” hibur Mama. Adinda hanya mengangguk dengan wajah sedih. @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s