Dongeng

Pangeran Cemberut dan Pangeran Bodoh

Ada seorang raja yang arif dan bijaksana. Baginda memiliki dua orang putra yang sudah beranjak dewasa. Pangeran Sulung gemar belajar, namun kurang bisa bergaul. Sebab dia lebih suka benda di perpustakaan kerajaan daripada mencari teman. Dia juga kurang suka tersenyum, hingga wajahnya terlihat begitu tegang dan nampak jauh lebih tua dibanding usia sesungguhnya.

Hal ini berbeda dengan Pangeran Bungsu yang ceria dan senang bergaul. Pangeran Bungsu memiliki banyak teman, mulai dari bangsawan sampai rakyat jelata. Yang disayangkan, dia kurang suka belajar, sebab terlalu sering bermain. Akibatnya, dia tidak sepandai kakaknya.

Baginda Raja merasa dirinya sudah tua dan berniat menunjuk salah satu putranya sebagai pengganti. Namun Baginda bingung, sebab kedua orang putranya belum beristri. Padahal syarat menjadi raja harus memiliki istri yang kelak menjadi permaisuri.

Pernah Baginda mengajukan pinangan pada putri-putri raja kerajaan tetangga untuk putranya, namun belum diterima. Alasannya ya itu tadi, Pangeran Sulung memiliki wajah yang menakutkan sebab jarang tersenyum. Sedang Pangeran Bungsu tidaklah pandai. Baginda bingung sekali, sebab putranya tidak mau mengubah sikapnya.

Akhirnya, atas nasihat hakim istana, Baginda mengutus dua orang pangeran untuk mengembara, dengan menyamar sebagai rakyat jelata dan mencari istri. Pangeran Sulung memilih arah barat sedang Pangeran Bungsu memilih arah timur.

Pangeran Sulung mengendalikan kudanya agar berjalan perlahan di tengah pasar yang ramai. Dia ingin mengamati kehidupan rakyat jelata dari dekat. Dilihatnya banyak orang yang bertegur sapa dan bercakap-cakap. Pangeran Sulung merasa canggung, sebab dia tidak bisa bergaul. Tapi dia ingin sekali punya teman untuk berbincang. Namun, baru saja mendekati anak kecil, anak itu sudah lari ketakutan.

Pangeran mencoba lagi untuk menyapa seorang ibu. Tapi ibu itu juga lari ketakutan. Bagaimana tidak, Pangeran Sulung menyapa dengan wajah cemberut. Akhirnya Pangeran Sulung hanya bisa menatap orang lalu lalang di pasar.

Malam tiba. Pasar mulai sepi. Tanpa terasa Pangeran Sulung tertidur di sebuah warung. Dia terjaga saat dirasa ada seseorang membangunkannya.

“Maaf, Tuan, warung kami sudah tutup!” ujar seorang gadis. Pangeran menatap wajah gadis yang tersenyum itu.

“Apakah kamu tidak takut kepadaku?” tanya Pangeran dengan heran. “Sebab, hampir semua orang takut kepadaku.”

Gadis sederhana yang ternyata bernama Harum itu menggeleng. “Saya tidak takut kepada siapa saja, sebab saya tidak berbuat jahat.”

Saya juga tidak berbuat jahat, tapi semua orang takut kepada saya,” ujar Pangeran.

“Mereka takut sebab anda jarang tersenyum,” ujar Harum yang tidak tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang pangeran.

Kemudian Harum mengambil sebuah cermin dan menyerahkannya kepada Pangeran. “Pandanglah wajah anda!”

Pangeran menatap wajahnya dalam cermin. Dia terkejut, sebab dia melihat wajah yang menakutkan, wajahnya sendiri.

“Nah, sekarang cobalah mengingat kejadian lucu sewaktu anda masih kecil!”

Pangeran mencoba mengingat-ingatnya. Pangeran Bungsu yang gemar bermain berlari-lari di tepi kolam. Pangeran Sulung yang saat itu sedang membaca di bawah pohon berusaha mengingatkan agar tidak jatuh dalam kolam. Tapi baru saja Pangeran Sulung menutup mulutnya, Pangeran Bungsu jatuh dalam kolam. Ingat akan kejadian itu, Pangeran Sulung tertawa.

“Sekarang lihat wajah anda di cermin,” ujar Harum.

Pangeran menatap wajahnya di cermin, tampak lebih segar dan ceria.

“Mulai sekarang, anda harus lebih sering tersenyum. Jika bertemu dengan orang lain, jangan tunjukkan wajah cemberut, meski pun kita sedang marah,” kata Harum.

Pangeran merasa telah sembuh dari sakit cemberut selama ini. “Terima kasih kamu telah membantu saya,” ujar Pangeran sambil tersenyum.

“Sebenarnya anda hendak kemana?” tanya Harum.

“Saya adalah Pangeran Sulung,” aku Pangeran.

Harum terkejut, dan segera menyembah.

“Sudahlah, saya yang seharusnya berterima kasih,” kata Pangeran Sulung seraya memegang gadis itu.

Pangeran Sulung akhirnya mengajak gadis yatim piatu yang selalu ceria itu ke istana untuk dijadikan istri.

Baginda sangat bahagia melihat Pangeran Sulung telah menemukan calon istri yang baik hati seperti Harum.

Selang beberapa hari kemudian, Pangeran Bungsu juga telah kembali. Namun, dia tidak membawa calon istri. Dia pulang untuk belajar. Rupanya, di perjalanan, dia mendapat pelajaran, bahwa belajar itu tetap penting, meski seorang pangeran sekalipun. Saat itu, dia hampir ditipu oleh seorang pedagang, sebab dia tidak pandai menghitung. Untunglah ada pembeli lain yang melihat kejadian itu dan memarahi si pedagang. Sejak itu, Pangeran Bungsu sadar bahwa belajar itu perlu disamping mencari teman.

Baginda senang bukan main, dua orang putranya telah berubah. Selanjutnya, Baginda turun tahta dan digantikan oleh Pangeran Sulung, dengan Harum sebagai permaisuri. @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s