Cerita Misteri

Berteman Bayangan didalam Cermin

Ratna masih ingat benar awal kejadiannya. Malam hari tanggal 5 Januari 1982. Saat itu, listrik rumah padam kalau hujan turun lebat. Seperti hari sebelumnya, malam itu pun hujan turun dengan lebat. Lampu minyak dinyalakan di beberapa sudut ruangan, walau pun tak banyak menolong.

Rumah Ratna tergolong besar untuk ukuran orang Bali. Rumah itu memiliki dua lantai. Lantai bawah dibiarkan terbuka lebar: untuk ruang tamu, ruang keluarga dan dapur. Sementara di lantai dua, hanya terdiri dari dua kamar besar. Satu milik ayah ibunya, satunya kamar Ratna, berada di sisi kanan. Masing-masing kamar memiliki dua pasang jendela besar, yang menghadap ke laut lepas.

Ratna yang saat itu masih duduk di bangku kelas tiga SMP, semenjak kecil memang telah memiliki kamar sendiri. Sebagai putri tunggal pasangan Ngurah-Kartoni, pengusaha kerajinan tangan, ia sama sekali tidak dimanjakan.

Hujan semakin lebat. Angin kencang ikut menerobos masuk kamar Ratna dan menggoyang lampu minyak. Malam semakin larut. Dalam keadaan gelap gulita dan dingin begini, tak ada hal lain yang bisa dilakukan selain meringkuk di bawah selimut. Tak terdengar suara apa pun di dalam kamar, selain nafas lembut milik Ratna. Gadis itu telah terlelap setengah jam lalu. Parasnya yang ayu nampak tenang sekali.

Tiba-tiba terdengar suara guntur. Keras sekali. Kaca-kaca jendela bergetar, hingga Ratna terlonjak dari tidur. Ia terjaga bukan karena bunyi guntur melainkan oleh mimpi buruk. Wajahnya di cakar oleh harimau nan buas!

Dengan sekali sentak, gadis itu loncat dari tempat tidur dan berlari menuju cermin barunya di sudut kamar. Ratna sungguh merasa beruntung memiliki cermin besar, bagus dan antik, yang baru dibeli ibunya siang tadi. Dengan cermin sebesar itu, ia bisa melihat seluruh tubuhnya secara sempurna, meski pun dalam keremangan lampu minyak.

“Ah, aku cuma mimpi,” ujar Ratna pada diri sendiri sambil menatap cermin.
Tanpa sadar, kedua tangan Ratna mengusap kedua pipinya. Sungguh, tadi mimpinya menakutkan sekali. Ia tersesat di hutan dan dikejar-kejar harimau buas! Agak lama Ratna menatap wajahnya sendiri di dalam cermin.

Tapi, tunggu dulu. Di dalam cermin, samar-samar Ratna melihat sosok tubuh orang lain di sebelahnya, berdiri dengan anggun sambil menatap Ratna dengan senyum simpul.

Ratna kaget bukan main! Ia segera menoleh ke samping kanan, kosong. Menoleh ke sisi kiri, tak ada orang. Ratna membalikkan badan. Nihil.

“Mustahil ada orang lain di dalam kamar ini,” bisik hatinya.

Jantung Ratna berdebar kencang. Ingin rasanya ia berlari ke kamar ayah ibunya. Namun entah mengapa, kedua kakinya seperti terpaku di lantai!

Perlahan ia membalikkan badan lagi. Sudut matanya pelan-pelan menatap cermin rias.

Jantungnya semakin berdebar. Benar. Dalam keremangan lampu minyak, Ratna melihat bayangan seorang gadis di dalam cermin, yang terus menatap dirinya sambil tersenyum.

Ia masih ada! Di sana! Di dalam cermin! Jerit hati Ratna.

Tubuh gadis itu bergetar karena takut. Tanpa terasa, air matanya meleleh.

“Apakah benar pandanganku?”

“Tentu saja benar. Kamu jangan takut,” ujar sebuah suara.

Ratna kembali celingukan. Kali ini, ia tidak hanya takut, nmun juga bingung. “Siapa kamu?”

“Aku? Lihatlah ke arah cermin. Kamu akan melihat sosokku.”

Ratna menatap cermin. Memang benar di dalam cermin sana, ia melihat sosok seorang wanita muda. Manis dan Nampak anggun dengan gaun putih panjang. Usianya, Ratna menaksir, sekitar tiga tahujn lebih tua.

“Namaku Susi. Sudah lama aku berada di dalam cermin ini. Lama sekali. Bahkan, mungkin sebelum ibumu lahir!” ‘Gadis’ itu berkata lagi.

“Ibuku? Apa hubunganmu dengan ibuku?” tanya Ratna.

“Ya, nggak ada. Ibumulah yang menyebabkan aku berada di sini, di kamar ini. Sejak tadi sore, aku sudah memperhatikan kamu, melihat kamu tidur kedinginan!”

Susi tersenyum.

Ratna baru ingat. Cermin baru dalm kamarnya ini hadiah dari ibu dan baru di pasang tadi siang.

“Sebenarnya, dari mana asalmu?” tanya Ratna lagi.

“Aku? Asalku dari jauh. Dahulu, aku lahir di tanah Jawa, pada masa kolonial Belanda. Waktu itu, aku dan ibuku dijadikan budak belian dan diangkat ke Negeri Belanda menggunakan kapal layar. Dalam perjalanan, kami mengalami berbagai penyiksaan. Tak tahan disiksa, ibuku meninggal.”

Tanpa sadar, Ratna menelan air liurnya sendiri. Hatinya ikut sedih mendengar kisah hidup Susi.

“Terus bagaimana kamu bisa berada di dalam cermin ini?”

“Seorang pemuda Belanda bernama Ronald jatuh cinta kepadaku. Nampaknya ia bersungguh-sungguh. Ronald lalu membuat cermin ini, sebagai tanda cintanya kepadaku. Sayang, orang tuanya tidak setuju. Ronald begitu putus asa.”

“Lalu?” potong Ratna.

“Ia mengambil sebilah pedang dan menusuk dadanya sendiri. Ronald roboh di depan mataku, diatas cermin buatannya!”

“Lalu, kamu sendiri bagaimana?”

“Orang tua Ronald begitu marah padaku. Aku dianggap sebagai penyebab kematian anak mereka. Siang malam aku disiksa … hingga, suatu hari, aku tidak bisa menahan sakit lagi. Setelah itu tubuhku terasa ringan sekali. Entah mengapa, aku kini bisa berada di dalam cermin. Mungkin, sebagai tanda terima kasihku atas cinta Ronald yang tulus kepadaku!”

Untuk sekian lama, Susi kembali tersenyum. Manis sekali. Tanpa terasa Ratna ikut tersenyum.

“Ratna, kamu mau kan menjadi temanku? Di sini aku sendirian, tak ada teman ngobrol. Itu kalau kamu mau, lho!”

Hati Ratna bimbang sejenak. Ia berpikir, sejenak kemudian kepalanya mengangguk berlahan! @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s