Cerita Anak

Teman Baruku Hana

Namanya Hana. Dia pindahan dari SDN 02 Sumbersari. Anaknya cantik dan imut-imut. Tapi pendiam dan selalu menyendiri, sehingga tampak tidak punya teman.

Diam-diam aku memperhatikan wajahnya. Dia tak tahu, karena sedang asyik mengerjakan tugas matematika. Ingin rasanya aku duduk di sampingnya dan belajar bersama. Sebab, sepertinya dia pintar matematika. Dia selalu bisa menjawab soal-soal dan pertanyaan dari Pak Guru. Tapi aku masih ragu. Kata teman-teman, Hana itu sombong. Dia tidak mau bicara kalau tidak penting. Katanya, dia juga pelit. Tidak pernah mau ikut jajan ke kantin. Kerjanya cuma berkutat dengan buku.

Aku jadi berpikir. Dengan Santi yang punya supir pribadi, atau Dhea yang papanya punya perusahaan saja, dia tak mau berteman dan mengobrol. Apalagi dengan aku? Aku kan cuma anak supir taksi.

“Hana, pinjam tugas matematikamu dong!” kata si Santi. Kulihat Hana menyodorkan buku matematikanya tanpa bicara. Santi segera menyalin dengan mudah. Tapi Hana tampak acuh saja. Ia tetap asyik mengisi LKS Bahasa Indonesia.

Menurutku. Hana itu tidak sombong, kok! Ah, aku jadi penasaran. Sebenarnya, siapa sih Hana? Di mana rumahnya? Aku tahu, bukan Cuma aku yang penasaran ingin tahu, teman-teman yang lain tentu saja bertanya-tanya.

Pada suatu hari, saat kami membicarakan acara perpisahan. “Kami tahu kamu pintar, Han. Kaya, cantik, tapi jangan sombong dong! Acara makan-makan ini kan acara perpisahan. Belum tentu kita nanti sekolah di SMP yang sama. Apa susahnya kamu ikutan. Memangnya ayahmu pelit sekali?” kata Santi. Hana tetap tidak menjawab. Ia terus menunduk sampai kelas sepi, karena bel pulang memang sudah berbunyi.

Kembali kutatap wajah Hana. Apa betul ayah Hana itu pelit? Kurasa kami sekelas tidak tahu hal yang sebenarnya. Kami semua hanya menduga-duga. Menduga kalau Hana itu anak orang kaya, karena ia sangat memilih dalam bergaul. Menduga kalau Hana itu pelit, karena dia tidak pernah jajan di kantin.

Perlahan aku mendekatinya.

“Hana … !”

Sejenak ia mendongak. Ku tatap wajahnya. Hei, Hana menangis. Mungkin kata-kata Santi tadi sangat menyakiti hatinya.

“Jangan sedih Hana. Santi memang suka begitu,” kuberikan senyumku yang termanis.

Dia juga tersenyum tipis.

“Santi memang kasar. Tetapi itu karena dia penasaran sebab kamu jarang sekali kamu bicara dan tak pernah jajan. Sebenarnya dia mau berteman denganmu. Makanya kamu diajak ikut pesta di restoran. Kalau aku … aku hanya anak sopir taksi. Jadi tak mungkin ikut acara seperti itu,” aku bicara semanis mungkin.

“Kalian semua salah! Kalian tak tahu siapa aku!”

Kulihat, mata bening Hana kembali berair.

“Apa maksudmu Hana?!” aku sungguh tidak mengerti.

“Santi bilang orang tuaku pelit. Padahal kalau orang tuaku masih ada, aku tidak mungkin sekolah di sini. Jauh dari kampung halamanku.”

“Jadi orang tuamu …” aku kembali terperangah.

“Kalau aku kaya, aku tidak mungkin tinggal di Panti Asuhan!” kulihat air matanya mengalir deras. Hana sesegukan. “Aku anak Panti Asuhan. Anak yatim piatu, Puji!”
Rasanya sesak dadaku mendengar pengakuan Hana. Benarkah? Tapi, tampaknya Hana bersungguh-sungguh.

“Aku bukannya sombong. Tapi aku merasa tidak pantas berteman dengan kalian. Aku rendah diri. Aku bukannya pelit, tapi aku tak pernah punya uang jajan. Kalian malah berpikiran jelek …” Hana memejamkan mata menahan tangis.

Oh Tuhan. Aku memejamkan mata menggigit bibir. Aku bisa merasakan sakit hati Hana.

Aku mengerti perasaannya. Tapi aku tak tahu harus berbuat apa. Aku belum mampu untuk berpikir terlalu dewasa.

Yang bisa kulakukan hanya merangkul Hana. Dan mengatakan padanya kalau aku bersedia jadi temannya. Aku juga berjanji akan menjelaskan hal ini pada teman-temanku yang salah paham. Kami sebagai teman-temannya harusnya memberikan Hana kasih sayang … yang hilang darinya. @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s