Cerita Misteri

Cermin Angker

“Saya ini generasi ke empat yang mewarisi cermin itu. Cermin kuno itu memang selalu membawa petaka bagi siapa saja, yang mencoba bercermin di sana. Makanya, sejak generasi ke dua, cermin itu sudah dilarang di gunakan!” cerita Pak Kusmo.

Kak Sam sejenak mengawasi cermin kuno itu dari jauh. Sekilah, tak nampak keanehan pada cermin itu. Pak Kusmo memberi tali merah melingkari cermin itu, dan sebuah tulisan:

“DI LARANG BERCERMIN ATAU BERFOTO”

Pak Kusmi juga meletakkan cermin itu di sebuah kamar khusus yang tidak sembarangan orang boleh masuk.

Dari pengamatan Kak Sam, cermin itu sama sekali tak Nampak menyeramkan. Mungkin hanya terlihat tua, itu saja. Bingkainya terbuat dari kayu mahoni tus, bercat hitam. Yang menarik, pada bagian tengah atas bingkai itu ada ukiran kepala singa, yang mengumbar gigi taringnya yang runcing.

Awalnya, cermin itu milik keluarga Raden Hardjobroto, yang diletakkan di ruang tamu. Anehnya, semua orang yang pernah bercermin di sana, selalu saja tertimpa kesialan.
Kak Sam mengulum senyumnya. Wartawan muda itu masih tidak percaya semua cerita Pak Kusumo, termasuk tentang sebutan cermin angker itu, sebagai pintu ke alam neraka.

“Beberapa kali saya pernah melihat sosok hitam tinggi besar dan sekujur tubuhnya penuh bulu, keluar masuk lewat cermin itu. Hihhh, mengerikan sekali,” sambung Pak Kusumo.

Malam harinya, Kak Sam masih duduk di beranda rumah Pak Kusumo. Pikirannya masih tertuju pada cermin kuno itu. Rencananya, besok pagi cermin itu akan dibawa ke balai lelang. Konon, harga pembukaan untuk lelang cermin itu, mencapai 1 milyar!

Malam semakin larut, tiba-tiba Kak Sam merasa bulu kuduknya berdiri! Aroma harum tiba-tiba menusuk hidungnya. Kak Sam segera beranjak dari tempat duduknya. Ia mendengar suara-suara berisik, yang sangat aneh. Astaga, suara itu berasal dari kamar khusus penyimpanan cermin! Aneh, padahal kamar khusus itu selalu terkunci rapat, dan tidak sembarang orang boleh memasukinya. Anehnya, ketika Kak Sam mendekati pintu itu tiba-tiba suara berisik itu mereda.

Ketika Kak Sam beranjak tidur, tiba-tiba terdengar jeritan histeris. Astaga, itu suara Riri, anak Pak Kusmo yang masih berusia delapan tahun. Kak Sam buru-buru menghampirinya. Pak Kusmo dan istrinya menangis, melihat anaknya pingsan.

“Ada apa dengan Riri, Pak Kusmo?” tanya Kak Sam.

“Entahlah … tadi dia tiba-tiba bangun dan berjalan ke dapur. Tapi, tidak lama kemudian menjerit kencang sekali … lalu pingsan!” kata Pak Kusmo panik.

Namun, beberapa saat kemudian, tiba-tiba Riri menggeliat dan siuman!

Tapi, ada yang aneh pada Riri, wajahnya begitu pucat! Gadis cilik itu lalu memelototi Kak Sam, Pak Kusmo dan istrinya.

“Hei … Riri … kau kenapa?” kata istri Pak Kusmo berulang kali. Aneh, Riri sama sekali tak menggubris omongan itu. Sejenak kemudian, ia mendorong Pak Kusmo begitu saja. Gila, kuat sekali dorongannya!

“Riri kesurupan. Riri, sadar, Nak! Ini Bapak dan Ibumu!” kata Pak Kusmo berusaha menenangkan Riri, yang mengamuk tanpa sebab. Celaka, ternyata dia makin menjadi-jadi. Pak Kusmo dan Kak Sam sama sekali tidak bisa mengendalikan Riri. Karena sudah kewalahan, akhirnya Pak Kusmo nekad ke dalam kamar khusus penyimpanan cermin kuno itu. Lalu, tanpa berpikir panjang ia langsung menghantam kaca cermin itu, dengan sebilah batang kayu. ‘Prannnk …. pyaaarr …!’ kaca cermin kuno itu pun pecah berantakan. Aneh, tiba-tiba Riri langsung terkulai lemas! Gadis cilik itu kembali pingsan! Kak Sam buru-buru mengangkatnya. Tidak lama kemudian, Riri kembali siuman. Ia tersenyum ramah pada Kak Sam dan orang tuanya.

“Lho, Riri kok ada di sini? Tadi, Riri diajak dua orang perempuan berambut panjang. Katanya mau diajak keliling dunia. Tapi, kok sekarang Riri ada di tempat tidur. Apa Riri mimpi, yaa?” tanya Riri polos. Kak Sam, Pak Kusmo dan istrinya tersenyum saja.

“Sam, ayo ikut aku. Sekarang juga, ayo kita bakar cermin kuno itu!” ajak Pak Kusmo tiba-tiba.

“Lho, Pak. Katanya mau ikut pelelangan 1 milyaran. Apa nggak rugi. He … he …?” canda Kak Sam.

Pak Kusmo hanya membalas dengan senyuman. @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s