Dongeng

Chartaz

Persahabatan bagiku bagai pohon yang harus dipupuk dan dipelihara. Persahabatan yang sehat sanggup memberi semangat hidup bagiku. Dan aku ingin bercerita tentang sahabatku Chartaz.

Aku, Diega, seorang anak petani di pinggiran kota Asheville. Tanah pertanian ayah cukup luas untuk menghidupi kami sekeluarga. Rumput dan jerami melimpah. Sapi dan sepasang kuda melengkapi kebutuhan kami. Ayah mempercayakan sapi dan kudanya pada Pak Edro, ayah Chartaz.

Chartaz sebayaku. Dia sering membantu ayahnya memelihara sapi dan kuda kami. Aku sendiri enggan menyentuh jerami. Suara gesekan jerami seperti mengiris telingaku. Karena itu aku tidak mau terlalu lama di kandang sapi dan kuda.

Tetapi Chartaz sepertinya sangat menyayangi ternak kami. Aku sering memergoki dia sedang berbincang dengan sapi-sapi atau kadang-kadang juga bercerita pada sapi-sapi itu. Aku tertawa geli.

“Mereka perlu kasih sayang, Diega. Tidak hanya diberi makan atau minum,” kata Chartaz.

Aku hanya tertawa.

Kalau binatang itu sakit, Chartaz akan datang dan mengusap-usap penuh kasih. Agaknya binatang-binatang itu tahu membalas budi. Mereka tumbuh sehat.

Yah … kuakui bahwa memelihara ternak tak semudah melihatnya. Kau tahu, aku mula-mula takut memerah susu sapi. Chartazlah yang mengajariku. Aku tergelak-gelak ketika Chartaz mengelus dan mengajak bicara sebelum memerah susu. Tetapi aku mengakui kehebatan Chartaz. Semua ternak menurut padanya.

Suatu hari, kuda betina kami melahirkan seekor anak. Kuda itu lucu dan mungil. Namanya Bilo.

Chartaz sangat senang. Dia selalu mengikuti kemana Bilo pergi. Sampai menjelang dewasa, Bilo tetap dekat dengan Chartaz.

Chartazlah yang mengajari Bilo menarik kereta. Padahal menjinakkan kuda sangat sulit. Apalagi Bilo sangat liar. Berkali-kali Chartaz di lempar dari punggungnya. Tetapi Chartaz berhasil melakukannya. Dia kemudian juga menerima permintaan para tetangga untuk menjinakkan kuda.

Setelah ramaja, aku, Chartaz, dan para pemuda di desaku mendaftarkan diri untuk menjadi prajurit.

Sayang sekali, pada tes pertama aku gagal. Aku kembali ke pertanian dengan sedih. Aku malu!

Beberapa hari kemudian, pemuda-pemuda yang dulu mendaftarkan diri menjadi prajurit, pulang. Kata mereka, hanya Chartaz yang diterima.

Akhirnya aku hidup sebagai petani. Melanjutkan usaha ayahku. Berkali-kali aku didera bencana. Hama tanaman, gagal panen, ternak mati, hingga perubahan musim yang tidak menentu.

Sejak itulah aku mendapat sepucuk surat dari Chartaz. Dia ditugaskan berpindah-pindah. Dari suratnya aku selalu mendapat semangat baru.

Sayangilah tanaman dan ternakmu. Ajak mereka berbicara. Mereka mengerti bahasa kita. Bukan hanya makanan dan minuman. Mendekatlah dan berbicaralah. Kalau kita menyayangi mereka, mereka akan membalas budi baik kita. Mereka akan tumbuh subur dan sehat.

Aku yang sejak dulu geli melihat cara Chartaz sekarang mulai mencoba. Panen yang gagal membuat aku banting tulang. Aku mulai mengoceh dengan tanaman-tanamanku. Aku berbincang dan mengelus lembut sapi dan kuda.

Ternyata Chartaz benar. Dan persahaban bagiku adalah sebatang pohon yang kusayangi. Selalu memberi keteduhan. Ingatlah Bilo. Dia yang luar biasa liar bisa jinak berkat kasih sayang. Suara kereta mengejutkanku. Dari jendela aku melihat wajah Chartaz yang tampan berseri-seri. Dia sudah datang!

“Aku ingin bertemu dengan Bilo! Dialah pelatih ketangkasanku!” @@@

Sumber: Majalah Hoopla

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s