Cerita Anak

Lukisan Nek Ida

“Ayo mampir anak-anak!” sebuah suara ramah mengagetkan Bima dan Seto, yang tengah berjalan pulang. Keduanya menoleh mencari sumber suara. Rupanya itu suara Nenek Ida, yang tinggal di sebuah rumah besar penuh pepohonan.

“Kemarilah, Nenek punya banyak jambu yang sudah masak,” suara itu kembali mengundang. Bima dan Seto berjalan menghampiri rumah Nenek Ida.

“Kebetulan, pohon jambu Nenek sedang berbuah lebat. Kalian boleh mengambil sesuka kalian, juga ada pohon mangga di belakang rumah,” ajak Nek Ida. Bima dan Seto pun dengan lahap menikmati jambu air yang segar, di tengah terik matahari. Sejak saat itu, mereka sering berkunjung ke rumah Nek Ida, sekedar untuk membantu merapikan kebunnya, memanen jambu, atau mendengarkan kisah masa lalu Nek Ida sambil menikmati bakwan goreng buatan Nek Ida. Nek Ida tinggal seorang diri bersama Bik Suti, pembantunya yang juga sudah uzur. Tiga orang anaknya merantau ke luar kota, sedangkan suaminya sudah meninggal puluhan tahun lalu.

“Bim,” kata Seto, “Besok Nek Ida berulang tahun, aku ingin memberi sesuatu. Nek Ida kan sangat baik pada kita.”

“Aku juga, tapi aku tidak punya uang banyak, Set,” jawab Bima.

“Kita cari hadiah yang tidak terlalu mahal, tapi cukup berharga,” usul Seto.

“Oh ya aku ingat, di gudangku ada sebuah lukisan milik kakekku. Lukisan itu cukup bagus, tapi tidak terpakai lagi. Aku bisa minta ijin ayahku, untuk memberikannya kepada Nenek Ida,” tiba-tiba Bima mendapat ide. Seto mengangguk setuju. Keduanya pun bergegas mengambil lukisan yang dimaksud. Lukisan itu memang indah, menggambarkan sepasang pasangan muda yang tengah duduk berdampingan, dengan pakaian adat Jawa.

“Lukisan ini memang indah dan entah kenapa, aku sepertinya tidak asing dengan wajah dalam lukisan ini,” ujar Seto sambil menatap lukisan itu. Tak lama, lukisan itu sudah mengkilat seperti baru, lalu dibungkus plastik bersih. Keduanya membawa lukisan itu, ke rumah Nek Ida.

“Kebetulan hari ini Nenek membuat pisang goreng, ayo masuk,” kata Nek Ida, menyambut kedatangan keduanya.

“Terima kasih Nek, selamat ulang tahun, ini sedikit kado dari kami,” ujar Bima dan Seto, sambil membuka plastik yang menyelubungi lukisan itu. Paras Nek Ida mendadak memucat, matanya terbelalak melihat lukisan itu.

“Lu … lukisan ini … “ ujarnya terbata.

“Ada apa Nek?” tanya Bima bingung. Nek Ida duduk menenangkan diri, seraya mengamati lukisan itu dengan seksama.

“Benar, ini lukisan yang kumaksud. Ceritanya panjang,” kata Nek Ida seraya mengusap lukisan itu, dengan penuh sayang. Ternyata, lukisan itu adalah gambar Nek Ida dan suaminya, ketika mereka masih muda. Lukisan itu sangat dikagumi oleh keduanya. Sayangnya, suatu malam terjadi pencurian. Barang-barang Nek Ida, termasuk lukisan itu ikut dicuri. Sejak saat itu, Nek Ida berusaha untuk menemukan kembali lukisannya yang hilang. Namun usahanya tidak pernah berhasil, hingga saat ini.

“Pantas saja, ayah pernah bilang, kalau kakek membeli lukisan itu di pasar loak. Pasti oleh pencurinya, lukisan itu dijual ke sana,” ujar Bima.

“Syukurlah, akhirnya lukisan ini kembali ke tangan pemiliknya, yaitu Nek Ida,” tambah Seto.

“Terima kasih banyak, lukisan ini sangat berarti untuk Nenek, kenangan ketika Nenek masih muda,” tutur Nenek Ida dengan mata berkaca-kaca.

Bima dan Seto pun tersenyum, memandang kebahagiaan Nenek Ida yang mereka sayangi. @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s