Abunawas

Kedondong Bukan Rambutan

Hasim adalah orang yang boleh dibilang susah hidupnya. Anehnya, dia kelihatan senang punya banyak anak. Sampai saat ini, dia sudah punya lima anak, yang semuanya perempuan.

Karena sangat menginginkan anak laki-laki, Hasim memperlakukan anak bungsunya bak seorang anak laki-laki. Hasim mengenakan pakaian laki-laki buat anaknya, memotong pendek rambutnya, dan mengajarinya berenang, memanjat pohon dan bertinju. Istri Hasim hanya bisa mengelus dada, melihat ulah suaminya. Karena kalau dia menegur, suaminya pasti marah-marah. Tapi setelah sekian lama melihat anaknya tertekan, istri Hasim tidak bisa menahan diri lagi. Istri Hasim pun meminta pertolongan Abunawas. Diceritakannya semua kejadian yang dialami keluarganya, dari awal sampai akhir.

Mendengar cerita itu, Abunawas tidak merasa prihatin, justru malah tertawa terbahak-bahak. “Kok ya masih ada orang seperti itu?” kata Abunawas, seraya berusaha menghentikan tawanya.

“Kenyataannya memang begitu,” jawab istri Hasim. “Lantas, aku harus berbuat apa?”

“Begini saja. Suruh anakmu meminta satu keranjang rambutan, pada abahnya,” kata Abunawas tiba-tiba.

“Untuk apa rambutan itu?” tanya istri Hasim ingin tahu.

“Sudahlah, jangan banyak tanya,” kata Abunawas. “Pokoknya, lakukan apa saja perintahku. Hasim selalu menuruti permintaan anak bungsunya, kan?”

“Tapi, jangan lupa,” kata Abunawas lagi, “Belinya harus pada Tuan Abunawas. Tidak boleh yang lain.”

Istri Hasim menuruti perintah itu, lalu pulang ke rumahnya. Singkat cerita, Hasim menuruti keinginan anaknya.

Keesokan harinya, sesuai janjinya, Abunawas mengantar sekeranjang rambutan ke rumah Hasim. Namun, belum sampai satu jam menerima kiriman itu, Hasim kembali lagi ke rumah Abunawas sambil marah-marah.

“Pesanan yang kau kirim, hanya atasnya saja yang rambutan. Dibawahnya ternyata hanya kedondong belaka. Kau harus bertanggung jawab atas ulahmu. Kalau tidak kau akan kuadukan pada Baginda Harun Alrasyid.”

Karena Abunawas tetap tidak mau bertanggung jawab, akhirnya Hasim benar-benar mengadukan masalah ini pada Baginda Harun Alrasyid. Mendapat pengaduan seperti itu, Baginda langsung memanggil Abunawas. Keduanya disidang di Balairung Istana.

“Abunawas, benarkah kau menipu Hasim?” tanya Baginda. “Benarkah kau hanya mengisi rambutan di permukaan keranjang? Selebihnya hanya kedondong di dalamnya.”

“Benar, Baginda. Namun, kedondong itu sudah saya tempeli potongan rambut. Apakah itu rambutan namanya?” jawab Abunawas tanpa beban.

Mendengar jawaban Abunawas, Baginda tertawa terbahak-bahak. “Walau sudah kau tempeli rambutan, yang namanya kedondong tidak mungkin menjadi rambutan! Kau itu serius atau bercanda, sih?!”

“Serius, Baginda. Sebab, Hasim mendandani dan mendidik anak perempuannya, seperti laki-laki. Apakah anak perempuannya bisa berubah menjadi laki-laki?” Abunawas balik bertanya.

“Tentu saja tidak!” jawab Baginda. “Walau didandani dan dididik seperti laki-laki, anak perempuan tidak akan bisa berubah menjadi anak laki-laki. Memangnya kau berbuat seperti itu, Hasim?” Baginda berpaling kepada Hasim.

Mendapat pertanyaan dari Baginda, Hasim terdiam seketika. Ia merasa sangat malu di hadapan Baginda. Karena merasa salah, Hasim mencabut laporannya, dan pulang tanpa pamit. Dalam perjalanan, Hasim berjanji tidak akan memaksa anak perempuannya, berubah menjadi laki-laki. @@@

 

Sumber: Mentari Edisi 414 Tahun 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s