Cerita Anak

Kambing Kurban

Sepulang sekolah, Hanafi mengembalakan kambing-kambing Pak Dullah. Ia tidak meminta imbalan apa-apa, atas jerih payahnya. Namun, Pak Dullah cukup pengertian dengan membiayai sekolah Hanafi, yang saat ini duduk di kelas V SD Banjarsari. Hampir setiap hari, Hanafi mengembalakan kambing-kambing Pak Dullah ke bukit yang berumput segar, tak jauh dari desanya. Hanafi sangat menyayangi kambing-kambing itu. Setiap jam dua belas siang, ia memberi mereka makan dan minum. Tak heran bila kambing-kambing itu cepat besar dan memiliki anak.

Suatu sore, Pak Dullah memanggil Hanafi. “Seminggu lagi Hari Raya Kurban. Pak Rumlah akan melihat kambing-kambing peliharaanmu itu, Han. Ia akan membeli lima ekor untuk kurban. Kamu harus memilihkan yang terbesar dan sesuai umurnya. Bagaimana, kamu bisa mempersiapkan besok?” tanya Pak Dullah. Hanafi mengangguk dan meminta ijin pulang.

Sepanjang jalan, Hanafi terus memikirkan kambing-kambingnya yang akan di jual Pak Dullah. Hanafi merasa kambing-kambing itu bagian dari hidupnya. Setiap hari ia memberi pakan dan mengajak jalan-jalan. Sekarang akan berpisah dan di sembelih. Hanafi berlari ke atas bukit dan menangis sesegukan. “Aku tidak bisa berpisah dengan kambing-kambing itu. Mereka sudah aku beri nama satu persatu,” isaknya.

Tiba-tiba pundak Hanafi ada yang memegangnya. Ia kaget bukan kepalang dan menoleh, ternyata Lutfi, teman main bolanya. “Memangnya kambingmu itu akan di jual sama Pak Dullah?” tanya Lutfi, yang sepintas mendengar rengekan Hanafi. Hanafi mengangguk dan matanya menerawang jauh. “Kalau menurut cerita Ustad Buchari, semua binatang yang akan dijadikan kurban di Hari Raya Idul Adha akan bahagia. Bahkan mereka berpuasa sebelum penyembelihan, lho. Ia merasa menjadi makhluk yang berarti di mata Allah, karena di pilih sebagai binatang kurban. Aku percaya dengan cerita itu Hanafi. Bukankah semua makhluk ciptaan Allah SWT itu bersujud kepada-Nya. Kamu seharusnya bangga, karena kambing-kambingmu yang dengan susah payah kamu gembalakan, di beli untuk dijadikan kurban,” terang Lutfi panjang lebar.

Hanafi merasa terbuka hatinya, setelah mendengar cerita sahabatnya itu. “Kamu benar, seharusnya aku mengikhlaskan kambing-kambing itu di korbankan, apalagi dibagikan kepada kaum yang kurang mampu,” ujar Hanafi, yang lantas mengajak Lutfi segera bergegas ke surau, karena adzan Maghrib berkumandang.

Selesai sholat Maghrib, Ustad Buchari memanggil anak-anak dan remaja masjid. “Anak-anak, Hari Raya Kurban tinggal seminggu lagi. Mari kita bentuk panitia kecil, untuk membagikan daging kurban di masjid ini. Bagikan kupon dua hari sebelum hari raya, pada tetangga-tetangga kita yang tidak mampu. Bagi remaja yang badannya besar, mempersiapkan galian untuk darah kambing dan sapi yang telah disembelih,” terang sang ustad.

Hanafi yang duduk di samping Lutfi tersenyum senang, mendengar pengumuman Ustad Buchari. Dalam benaknya, terpikirkan akan mempersiapkan kambing-kambing Pak Dullah yang akan di beli Pak Rumlah dan dikurbankan, besok siang. “Kalau aku besar nanti, aku akan berkurban untuk membantu sesama. Sekarang aku harus giat belajar, agar cita-citaku tercapai,” ujar Hanafi.

“Aku juga,” jawab Lutfi tidak mau kalah.

Pada siang harinya, Pak Rumlah datang ke rumah Pak Dullah, sesuai janjinya. Hanafi langsung mempersilahkan Pak Rumlah, menuju ke kandang kambing. “Pak, Hanafi yang menggembalakan kambing-kambing itu, selama ini. Dia sangat rajin dan pintar,” puji Pak Dullah.

Pak Rumlah mendengarnya dengan senang hati. Ia memilih lima ekor kambing dan Hanafi yang diminta membawa ke masjid. Hanafi mengangguk senang, dengan perintah Pak Rumlah.

“Ketahuilah Hanafi, kambing yang dikurbankan ini, kelak menjadi kendaraan kita di akhirat. Kamu yang merawat kambing-kambing itu, akan mendapat balasan setimpal,” terang Pak Rumlah seraya memberi uang lima puluh ribu rupiah kepada Hanafi, sebagai hadiah. Hati Hanafi terharu dan bahagia. Ia merasa jerih payahnya ini, tidak sia-sia. @@@ (by Kak Avril)

Sumber: Mentari Edisi 359 tahun 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s