Fabel

Ludi Ingin Melukis

Tidak seperti biasanya, hari ini kelas Bu Jerapah sangat tenang. Ber-Ber Beruang yang suka membuat lelucon pun, tak terdengar suaranya sejak tadi. Oh, rupanya anak-anak binatang itu, tengah asyik melukis. Ya, hari ini memang waktunya pelajaran melukis. Pelajaran yang pling disukai anak-anak.

“Sss…”

“Hei Ludi, jangan melata di situ! Nanti kamu menumpahkan cat minyakku lho!” kata Nina Gajah, yang sedang melukis pohon musim semi.

“Aku hanya ingin melihat lukisanmu,” kata Ludi.

“Tapi kau menggangguku,” seru Nina.

Ludi pun pergi. Ia keluar kelas tanpa minta izin Bu Jerapah.

Saat waktu pulang tiba, Bu Jerapah dan teman-teman Ludi jadi kebingungan.

“Hei, dimana Ludi?” tanya Toto yang pertama kali menyadari ketidak beresan itu.

“Ohhh, kukira dia tadi berada di dekatku,” kata Nina. Ia menyesal telah bersikap kasar pada Ludi. Mungkin saja Ludi pergi karena marah padanya.

Bu Jerapah dan teman-teman Ludi pun sibuk mencarinya. Di kamar kecil, taman dan kotak mainan pun, Ludi tidak ditemukan.

“Ludi … Ludi …!” teriak anak-anak memutuskan kembali ke kelas. Tapi tak ada jawaban.
Akhirnya, setelah lelah mencari. Anak-anak memutuskan kembali ke kelas.

“Ahh, mungkin dia marah padaku,” kata Nina.

“Mungkin dia juga marah padaku,” kata Weli Bebek. “Sejak tadi dia terus mondar-mandir dekat kanvasku, sehingga aku tidak bisa melukis dengan tenang.”

Rupanya, teman-teman lain pun punya pengalaman yang sama.

“Kasihan Ludi. Ia tidak punya tangan, sehingga tidak bisa ikut dalam pelajaran melukis,” kata Bu Jerapah.

“Pasti sangat tidak menyenangkan,” Toto menimpali.

“Dan membosankan,” tambah Ber-Ber.

Saat tiba di kelas.

“Astaga, siapa yang membuat kekacauan ini?” seru Bu Jerapah, setelah melihat lantai kelas belepotan lumpur. Di pojok ruangan Ludi asyik memandangi lukisan hasil karya Ber-Ber.

“Dari mana saja kau Ludi? Kami mencarimu kemana-mana!” seru Nina.

“Maaf, teman-teman. Aku merasa sedikit bosan di kelas. Jadi aku keluar sebentar, untuk jalan-jalan,” kata Ludi.

“Dan kau kembali membawa lumpur!” sergah Weli.

“Maaf,” kata Ludi dengan wajah tertekuk. “Aku tidak bemaksud …”

“Sudahlah, tidak apa-apa. Aku tahu kau tidak sengaja melakukannya,” kata Bu Jerapah.

“Bu Jerapah, melihat lumpur ini, aku jadi punya ide,” seru Ber-Ber.

“Apa?”

Ber-Ber lalu membisikkan sesuatu ke telinga Bu Jerpah. Bu Jerapah mengangguk-angguk tanda setuju.

Minggu berikutnya, semua anak tampak tekun saat pelajaran melukis. Dan Ludi? Kini ia juga bisa ikut dalam pelajaran tersebut. Atas ide Ber-Ber, Bu Jerapah menyediakan beberapa kaleng cat. Ludi masuk ke dalam kaleng-kaleng itu, lalu melata di atas kanvas.

Hasilnya, sebuah lukisan yang unik dan dikagumi anak-anak sekelas, selama berminggu-minggu. @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s