Dongeng

Dengkur Merpati Hitam

Lo Bengkok memiliki tubuh pendek dan mungil. Punggungnya bongkok. Karena itu geraknya kikuk. Meski begitu ia rajin. Pekerjaan apa saja dilakukannya. Dia punya sahabat karib yang bertetangga. Namanya Lo Lombo. Lo Lombo berbadan tegap. Sayang sekali dia licik dan suka berbuat curang.

Suatu hari Lo Lombo mengajak Lo Bengkok memancing. Sebenarnya Lo Bengkok tidak suka memancing. “Ah, barangkali aku bisa mendapat beberapa ekor ikan untuk makan malam.”

Mereka pergi ke sungai. Lo Lombo yang tahu benar tempat yang banyak ikannya langsung duduk di situ. Sebaliknya Lo bengkok di suruh duduk di tempat yang sepi dari ikan.

Sebenarnya yang diharapkan Lo Lombo mengajak Lo Bengkok karena Lo Bengkok bersedia membawa bekal makan siang. Lo Lombo tidak membawa bekal makanan dengan dalih, “Aku kan sudah meminjami pancing?!”

Dalam waktu sebentar, Lo Lombo memperoleh beberapa ekor ikan. Sementara itu Lo Bengkok merasa pancingnya berat. Dia lalu mengangkatnya dengan hati-hati.

Wuuuus! Ternyata yang diangkat sebuah batu hitam! Lo Lombo tertawa melihatnya.

Sampai sore, Lo Bengkok tidak memperoleh ikan seekor pun. Sebaliknya, Lo Lombo berhasil memperoleh tangkapan banyak. Sepanjang perjalanan Lo Bengkok menjepit batu hitam erat-erat, takut kalau jatuh atau hilang.

Batu hitam itu diletakkan di samping tempat tidurnya. Lo Bengkok merasa batu hitam itu aneh. “Mana mungkin dia menyangkut di kailku yang kecil?” gumam Lo Bengkok.

Esoknya, dia melihat seekor merpati hitam di sampingnya. Ketika merpati itu mendengkur, tiba-tiba di meja tersedia makanan pagi. Dan ketika mendengkur lagi, lemari pakaian Lo Bengkok langsung penuh dengan baju-baju indah. Lalu merpati itu terbang.

Menjelang makan siang dan makan malam, merpati itu muncul lagi dan mendengkur. Seketika makan siang dan makan malam tersedia. Ketika Lo Bengkok memakai baju barunya, Lo Lombo heran. Lalu Lo Bengkok menceritakan apa yang terjadi.

“Kalau begitu pinjami aku merpati itu semalam saja,” pinta Lo Lombo. Padahal sebenarnya ia ingin memiliki merpati itu.

Tanpa curiga Lo Bengkok menyerahkan merpati itu. “Jangan kau sakiti dia.”

Esoknya, Lo Lombo mendengar dengkur merpati. Dia segera menuju meja makan. Tetapi apa yang di dapatnya? Semakin keras dengkurnya, rumah Lo Lombo makin dipenuhi kotoran burung! Dia menjadi marah. Burung itu dibunuhnya. Lalu dilemparkan ke halaman rumah Lo Bengkok.

Lo Bengkok sedih sekali. Dia menguburkan merpati itu. Ajaib. Esoknya dari kuburan itu tumbuh sebatang pohon bambu yang sangat tinggi. Bambu itu makin memanjang dan kemudian melengkung ke halaman saudagar yang kikir.

Para pelayan sedang menjemur baju-baju saudagar yang bagus-bagus di batang bambu ajaib itu. Dan ketika baju-baju itu banyak yang dijemur, tiba-tiba bambu itu tegak. Tentu saja semua baju itu langsung merosot dan jatuh dihalaman rumah Lo Bengkok.
Lo Lombo yang tahu kejadian itu langsung meminjam bambu itu dan ditanam di halaman rumahnya. Bambu itu kembali melengkung di halaman saudagar kikir. Para pelayan yang marah karena kejadian kemarin, menggantungi bambu itu dengan batu-batu.

Dan ketika bambu itu tegak, batu-batu itu langsung melorot dan menjatuhi atap rumah Lo Lombo. Lo Lombo langsung lari menyelamatkan diri. ##

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s