Cerita Misteri

Hantu Penunggu Gedung Sekolah

Pada suatu siang di sebuah Sekolah Menengah Pertama, bel panjang berbunyi, tanda pelajaran telah usai. Para siswa berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Setelah beberapa lama, terlihat tiga anak berjalan beriringan. Mereka adalah Doni, Ihwan, dan Edi. Ketiganya duduk di kelas yang berbeda. Doni dan Ihwan duduk di kelas tiga, sedangkan Edi duduk di kelas dua.

“Don, nanti sore, les kita berangkatnya sama-sama, ya!” ajak Ihwan.

“Iya, deh” jawab Doni.

“Memang nanti sore ada les, di kelas kalian?” tanya Edi.

“Iya, persiapan menyambut ujian akhir,” jawab Ihwan.

“Eh, kalian nanti pulangnya tidak terlalu malam, kan?” tanya Edi.

“Tidak, paling maghrib sudah sampai di rumah. Eh, memangnya kenapa, kamu nanya begitu?” Ihwan balik bertanya.

“Syukurlah, kalau tidak terlalu malam. Aku tadi dengar cerita dari Pak Huri Gendut, tukang kebun kita, kalau dia sering melihat hantu raksasa, di gudang sekolah,” jelas Edi.

“Ah, masa? Jangan menakut-nakuti,” Doni ketakutan.

Doni nampak ketakutan, sedangkan Ihwan biasa-biasa saja. Mereka terus berjalan, hingga Edi berbelok ke kanan karena sudah sampai di rumah. Sedangkan Doni dan Ihwan masih terus bersama.

Sorenya Doni dan Ihwan berangkat bersama, untuk les persiapan ulangan akhir. Doni dan Ihwan memang anak yang tekun belajar. Bahkan setelah les usai, mereka masih asyik membahas pelajaran, yang baru saja diterangkan Pak Jaka.

Hingga akhirnya, udara dingin menyelinap masuk melalui pintu kelas yang masih terbuka, membuat bulu kuduk merinding.

“Wan … kita pulang, yuk!” ajak Doni ketakutan.

“Tunggu dulu, aku rapikan buku pelajaranku dulu,” jawab Ihwan.

“Aku takut, nanti kalau hantu raksasa itu muncul,” dengan buru-buru Doni keluar.

“Iya, deh,” jawab Ihwan, sambil merapikan buku-bukunya. Doni buruan keluar ruangan kelas, di susul oleh Ihwan terburu-buru pula.

Sinar matahari sudah mulai redup, saat mereka pulang. Tapi, mereka tidak sendirian. Masih ada Pak Jaka di ruang guru. Beliau memang tinggal di rumah dinas, di komplek sekolah itu. Pak Huri Gendut, si tukang kebun, juga masih menyirami tanaman bunga, di depan kelas.

Hari sudah gelap, saat mereka sampai di rumah Doni. Ihwan tidak segera pulang. Karena telah minta izin kepada orang tuanya untuk belajar bersama, di rumah Doni.

“Don, ayo cepat kita kerjakan PR-nya! Mana soal-soalnya, aku tadi tidak sempat mencatat. Kamu kan yang mencatatnya!” ajak Ihwan.

“Tunggu, aku masih mencari buku catatanku. Di mana, ya?” Doni membongkar-bongkar isi tasnya.

“Memangnya tadi kamu letakkan di mana?” tanya Ihwan.

“Kalau aku tahu, pasti tidak mencarinya,” jelas Doni.

“Mungkin tertinggal saat les. Kamu kan tadi pulangnya buru-buru.”

“Aduh, mati aku …,” sergah Doni gemetar.

“Wah, kalau catatan itu tidak ada, kita tidak bisa mengerjakan PR-nya. Pasti besok kita kena marah Pak Guru. Kalau apes, kita bisa diskors. Kita pasti rugi besar, Don!” Ihwan bicara panjang lebar.

“Aku tidak mau kembali ke sekolah, untuk mengambil buku itu. Aku takut, karena kamu sepulang sekolah tadi, cerita serem-serem mengenai sekolah kita,” kata Doni.

Setelah berdebat lama sekali, akhirnya Doni mengalah. Mereka berangkat dengan sepeda, menuju ke sekolah. Tidak lupa mereka mengajak Edi, adik kelas mereka, untuk menambah ramai suasana, agar Doni tidak ketakutan.

Bangunan sekolah saat malam hari memang sangat sepi, bagai rumah tua tak berpenghuni. Gelap sekali, karena hanya diterangi tiga buah lampu lima watt, di sudut-sudut bangunan saja.

Sesampainya di sekolah, langsung saja mereka memasuki ruangan kelas melewati jendela, karena pintunya terkunci. Doni dengan senter kecilnya, mencari ke sudut-sudut mejanya, tapi buku catatan itu tetap tidak ditemukan.

Karena tidak tahan takut, mereka bergegas keluar kelas. Mereka tidak peduli lagi, kalau besok kena marah, diskors, atau hukuman lainnya. Yang penting, saat ini mereka harus keluar dari sekolah dengan cepat. Karena, tempat itu saat malam bagaikan rumah tua, yang berhantu.

Ketiganya berlari ketakutan, menuju pintu gerbang. Langkah mereka terhenti di depan gudang sekolah, ketika sosok tinggi besar menghadang, di depan mereka. Hantu penunggu gudang sekolah, pikir Doni. Tubuhnya gemetar dan tak dapat bergerak. Sedangkan kedua temannya, berlari menyelamatkan diri.

Sesampainya di depan sekolah, Ihwan dan Edi berhenti.

“Ed … mana Doni?” tanya Ihwan.

“Bukankah dia lari lebih dulu,” jelas Edi tidak tahu.

“Dia pasti dibawa hantu itu, dan mungkin sudah mati …”

Nafas mereka terengah-engah. Ingin rasanya kembali ke dalam sekolah, untuk mencari Doni. Tapi, mereka juga sangat ketakutan. Untungnya ada Pak Jaka yang menemani. Pak Jaka mengajak Ihwan dan Doni ke rumah dinasnya, di dalam komplek sekolah. Alangkah terkejutnya Edi dan Ihwan, ketika melihat Doni ternyata duduk di dalam rumah, bersama Pak Huri Gendut, tukang kebun sekolah.

Pak Jaka lalu menjelaskan, kalau tadi Pak Huri menemukan buku catatan, tertinggal di dalam kelas. Ia lalu memberikannya kepada Pak Jaka.

“Saat malam tiba, Pak Huri mendengar suara di dalam kelas. Ternyata itu, suara kalian yang sedang mencari buku catatan itu. Tapi, kenapa kalian lari ketakutan, saat bertemu Pak Huri?” tanya Pak Jaka.

Doni, Ihwan dan Edi baru menyadari, bahwa sebenarnya hantu di gudang sekolah itu tidak ada. Yang mereka anggap hantu, tenyata hanya Pak Huri. @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s