Cerita Anak

Melawan PS

Indra menghela napas, lemas. Mendapati uang di sakunya tinggal dua lembar ribuan. ‘Yah, segini sih hanya cukup untuk main sejam saja,’ batinnya kecewa. Padahal ia ingin sekali bisa menyewa Play Station (PS) di rental dekat rumah dan bermain sepuasnya. Lalu Indra teringat pada celengan miliknya. Aha! Tapi … apa benar bila ia memecahkannya?

Pulang sekolah siang itu Indra pun buru-buru menuju rumah. Ia sudah memutuskan akan menghabiskan seluruh uang miliknya di rental PS. Lalu memainkan Winning Eleven, game sepakbola yang selalu membuatnya lupa waktu. He he he …

Namun langkah Indra tiba-tiba terhenti ketika di pintu depan rumah. Telinganya sayup-sayup mendengar suara ayah, ibu dan kakaknya sedang berbicara serius dengan menyinggung namanya berulang kali.

“Ibu khawatir Indra jadi sakit gara-gara suka lupa waktu kalau main PS di rental terus. Itu tidak baik,” kata Ibu cemas. “Dia lupa makan, tidak tidur siang dan jam belajarnya keteteran.”

“Itulah alasannya, aku mau membelikan sebuah PS sebagai hadiah ultahnya besok,” kata Ramon, kakaknya, membuat hati Indra berbunga-bunga. “Jadi Indra bermain PS-nya di rumah saja.”

“Waduh … kalau di rental PS saja Indra sampai lupa pulang. Bagaimana jadinya kalau dia punya sendiri di rumah?” suara ayah terdengar kurang setuju. “Ayah khawatir dia malah tidak mau beranjak di depan TV, main PS, main PS, main PS sepanjang waktu sampai bisa-bisa pantatnya menempel di lantai!”

Tawa ketiganya pun terdengar keras.

“Benar, menuruti kemauan Indra yang salah bukan solusi yang tepat,” suara Ramon akhirnya.

Ugh! Indra mendengus kesal. Hatinya dongkol bukan kepalang. Ia merasa mereka tidak pernah mau mengerti dirinya, apalagi sampai mau memenuhi permintaannya. Seketika itu juga Indra membuka pintu rumah dengan kasar. Huh …

Ayah, Ibu dan Ramon tampak terkejut menyadari Indra telah mendengar percakapan tadi. Itu terlihat jelas dari wajah Indra yang kini ditekuk berlipat-lipat.

“Biar saja, akan aku pecahkan celenganku dan aku habiskan semuanya untuk main PS di rental sampai puas!” ancam Indra masgul.

Malam harinya Indra benar-benar tidak mau pulang. Kakaknya yang sudah datang menjemputnya di rental PS tak diacuhkannya. Bahkan ibu yang kemudian datang menyusul pun tidak berpengaruh. Bujuk rayunya juga tidak di dengarkan oleh telinga Indra. Hingga akhirnya Ayah habis kesabaran, memaksa Indra pulang dengan menggendong tubuhnya, tidak peduli ia menangis protes sepanjang jalan.

Tetapi tangis Indra terhenti seketika, saat menemukan barang baru di rumahnya. “Apa itu?” tunjuknya penasaran sebuah benda dengan layar berwarna seperti tv.

“Ini komputer untuk mengetik. Jadi mulai sekarang Kakak tidak memakai mesin ketik lagi untuk menulis cerita. Komputer ini lebih canggih dan lebih praktis,” jelas Ramon. Kemudian menceritakan saat adiknya itu pergi siang tadi, ia ditemani ayah membelinya di mall.

“Sebenarnya kamu juga mau mengajakmu, tapi gara-gara kamu menguping siang tadi dan hanya mendengar sebagian percakapan kami. Kamu jadi salah sangka,” tambah ayah.

Indra terdiam. Benar prasangka tidak pernah benar sama sekali, batinnya mengakui. “Terus komputer ini canggih apanya? Memangnya bisa apa saja, Kak? Apa tidak lebih bagus PS?” tanya Indra kemudian.

“Kenapa kamu tidak belajar komputer saja dengan kakakmu? Jadi kamu nanti bisa tahu sendiri apa hebatnya komputer itu di banding PS,” saran Ibu. Ayah pun mengangguk.

Indra terdiam. Tampak sedang menimbang-nimbang. “Nggak mau, ah! Bosan kalau cuma ngetik-ngetik kayak Kakak. Enakan main PS, lebih seru!” putusnya kemudian.

“Ya, terserah deh,” sahut Ramon tak mau memaksanya.

Esok paginya Indra terbangun karena mendengar suara seperti musik di PS. Ternyata komputer Ramon menyala. Dan ibu tampak tersenyum menatap layarnya. Saat Indra mengintip … “Lho, kok ada gamenya juga? Itu mirip seperti PS, Bu!” katanya bersemangat.

“Benar, ibu juga baru tahu, lho. Malah ini baru belajar diajari kakakmu,” jelas Ibu. “Apa sekarang kamu tertarik untuk belajar komputer juga?” tanya Ibu.

Indra nyengir, malu-malu.

“He … he … he … makanya kalau diajak belajar komputer itu mau, dong!” suara Ramon yang muncul dibelakangnya mengiming-imingi. “Gimana, apa sekarang komputer kakak ini sudah lebih canggih dari PS?”

Indra mengangguk-angguk, kepingin. “Kukira cuma buat ngetik saja!”

Akhirnya Indra menghabiskan lebih banyak waktunya di rumah. Belajar komputer dengan Ramon. Ayah dan Ibu pun senang melihat perkembangannya. Mereka telah berhasil mengalahkan PS. Hingga sekarang Indra sudah tidak pernah main ke rental PS lagi.

“Jadi sekarang kamu bisa menabung di celengan lagi,” cetus ibu mengingatkan. “Bukankah uang celenganmu yang dulu sudah kamu habiskan semuanya?”

Indra membeliak. Tersadar ada yang terlupa. Dulu saat ia marah karena permintaannya untuk dibelikan PS tidak dikabulkan, Indra memutuskan akan memecahkan celengan dan menghabiskan semua uangnya untuk main PS. Tapi … “Celenganku sudah tidak ada di tempatnya. Hilang tak tahu ke mana?” akunya kemudian.

“Hilang?” ulang Ramon tidak percaya. “Tapi bukannya waktu itu kamu main di rental sampai malam?”

“Sebenarnya aku cuma main sejam. Selebihnya hanya nonton teman-teman di sana.”

“Celengan itu ayah amankan, karena saat itu, Indra belum bisa melawan godaan PS,” suara ayah yang muncul dengan celengan Indra. “Kalau sekarang ayah percaya Indra!” serambi menyerahkan celengan ke Indra.

“Hore …!! Indra menang versus Play Station!” seru Ramon gembira.

“Komputer Kak Ramon juga menang melawan PS!” teriak Indra penuh suka cita. “Aku jadi bisa mengoperasikan komputer dan celenganku aman juga!”

Indra sekeluarga pun tertawa gembira. @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s