Cerita Anak

Kiriman di Malam Hari

Di suatu desa tinggallah seorang ibu dan ketiga anak laki-lakinya, Sentot, Agung dan Wito. Ketiga anak ini rukun dan suka membantu ibunya membuat tempe untuk dijual di pasar. Ayah mereka telah meninggal dunia karena sakit dan sejak sepeninggal ayahnya ibu mereka harus mencari nafkah sendiri.

Suatu hari ketika ibu dan Wito pulang dari pasar, mereka melihat ladang jagung milik Pak Harun sedang panen. Nampak Pak Harun sedang memerintah pegawai-pegawainya supaya mengangkuti jagung-jagung yang telah di petik ke truk untuk dibawa ke lumbungnya. Melihat jagung yang besar-besar, si bungsu Wito mulai menarik-narik kebaya ibunya minta jagung milik Pak Wito. “Bu, aku ingin makan jagung rebus,” pinta Wito.

“Ibu tidak punya uang untuk beli jagungnya Pak Harun.”

“Ibu minta saja sama Pak Harun,” rengek Wito.

“Hush … tidak boleh minta-minta sama orang. Nanti saja kalau jualan ibu laku, ibu belikan,” sahut ibu berjanji pada Wito. Ibu tahu kalau Pak Harun orang yang terkenal kikir di desa sehingga ibu enggan untuk meminta.

Tak peduli pada jawaban ibunya, Wito berlari menuju pedati pengangkut jagung Pak Harun dan mendekati pegawainya untuk meinta jagung padanya.

“Pak, saya boleh minta jagungm ya?” pinta Wito pada salah satu pegawai Pak Harun.

“Tidak boleh! Enak saja minta. Ayo sana pergi jangan ganggu kami kerja!” bentak pegawai itu. Wito langsung berlari menjauh karena takut dan menghampiri ibunya.

“Nah, apa ibu bilang. Tidak usah minta-minta sama orang. Sabar sedikit, Nak. Tuhan pasti memberi rejeki buat ibu, jualan ibu laku dan bisa beli jagung buat kamu nanti,” ujar ibu sambil menggandeng Wito pulang.

Keesokan harinya, tempe yang dijual hanya laku beberapa dan uangnya pun sudah habis dipakai untuk membeli beras supaya mereka bisa makan hari itu.

“Bu, apa sudah beli jagung?” tanya Wito ketika ibu pulang dari pasar.

“Jualan ibu tidak laku semua, Wit. Tadi uangnya juga sudah dipakai buat beli beras. Sabar dulu ya, nak,” kata ibu membelai kepala Wito. Wito hanya diam saja lalu pergi bermain dengan kedua kakaknya di depan rumah mereka.

Beberapa hari kemudian penjualan tempe ibu tambah merosot. Tiap hari dagangannya tidak habis. Ibu pun terpaksa membawa pulang lagi tempe dagangannya. Ibu sedih karena tidak bisa membelikan jagung buat anak bungsunya.

Suatu hari ketika ibu hendak mempersiapkan tempe yang akan dibuat. Ibu melihat setumpuk jagung dibawah tumpukan kayu di depan rumah. Ibu terkejut melihat jagung-jagung itu.

“Kok ada jagung disini, siapa yang taruh ya?” pikir ibu sambil mengambil jagung-jagung itu dan mengumpulkannya di keranjang. Ibu senang karena akhirnya bisa merebus jagung buat Wito.

Hari berikutnya ternyata ada jagung lagi dibawah tumpukan kayu-kayu. Ibu jadi penasaran karena jagung-jagung itu tiba-tiba muncul di rumahnya. Akhirnya malam berikutnya, ibu mengintip melalui jendela rumahnya. Ia ingin tahu siapakah pelaku yang murah hati itu. Malam itu ibu melihat sesuatu berlari dengan cepat sambil menggondol jagung menuju tumpukan kayu. Ibu penasaran makhluk apa yang membawa jagung ke rumahnya. Namun karena larinya yang cepat, ibu tidak bisa melihatnya.

Semakin penasaran, ibu mengintip lagi keesokan malamnya untuk melihat makhluk apa itu.

“Haaa … ternyata tikus!” seru ibu ketika melihat makhluk itu keesokan harinya. Rupanya seekor tikus menggondol jagung dari lumbung Pak Harun dan membawa lari ke rumah ibu. Dan tanpa sepengetahuan tikus itu ternyata jagung-jagung yang digondolnya telah menolong ibu untuk mengabulkan permintaan anaknya makan jagung rebus. @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s