Cerita Misteri

Patung Kayu Bertelinga Panjang

Dini hari, Lembaga Permasyarakatan (LP) heboh. Seorang tahanan melarikan diri! “Sampai sekarang kami tidak menemukan tanda-tanda perusakan pintu atau terali besi dan sama sekali tidak ada saksi,” kata petugas LP keheranan. Kak Sam dan beberapa orang wartawan lain mengamati keadaan LP. Rasanya sulit sekali bagi siapa pun, untuk kabur dari LP. Seluruh lingkungan dijaga ketat petugas dan dikelilingi tembok tinggi berkawat duri. Kata polisi, tahanan yang kabur adalah tahanan kasus pencurian barang antik. Namanya Pak Riko. Tak ada yang aneh dengan Pak Riko. Selama dalam tahanan, dia selalu bersikap baik dan sopan. Geraknya pun terkesan lamban dan tenang.

Kak Sam langsung teringat perjumpaannya dengan Pak Riko beberapa saat lalu, sebelum dia akhirnya masuk penjara. Meski sudah berumur, tapi gaya bicara Pak Riko sangat bersemangat, apalagi jika berdikusi tentang barang antik. “Saya sangat tersinggung! Saya ini bukan pencuri barang antik! Ngawur! Itu tuduhan ngawur. Saya ini justru berusaha menyelamatkan barang-barang antik itu, dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab,” ujar Pak Riko kala itu, membela diri.

Kak Sam tiba dikantornya malam hari. Ia mencari kumpulan catatannya tentang Pak Riko. Suatu ketika, Kak Sam tertarik pada sebuah foto dirinya bersama Pak Riko, saat di Kalimantan Timur. Pak Riko tampak bangga sekali, menenteng patung kayu kecil bertelinga panjang. Kak Sam tersenyum kecil. Awalnya Kak Sam sempat tak percaya, jika Pak Riko masuk penjara gara-gara pencurian barang antik. Pak Riko seorang kolektor barang antik yang baik. Yang paling berkesan bagi Kak Sam, adalah saat Pak Riko memperkenalkan patung kayu kecil bertelinga panjang di Kalimantan Timur.

“Berjanjilah Sam … kau tidak mengatakan pada siapa pun, tentang pertemuan kita ini. Terutama tentang patung kayu kecil bertelinga panjang ini. Ingat, hanya kau seorang wartawan yang kuberi tahu soal patung kayu ini. Berjanjilah Sam!” pesan Pak Riko. Patung kayu kecil bertelinga panjang itu, bentuknya memang aneh. Telinganya yang panjang di kedua sisi kepalanya, ternyata tidak sama panjang. Telinga kanan, ternyata lebih panjang daripada telinga kiri. Kedua kaki patung itu pun sangat pendek.

Ketika akan pulang, Kak Sam dipepet seorang lelaki bertopi lebar. “Sam … ayo segera pergi dari tempat ini! Ayo cepat!” ujar lelaki misterius itu. Kak Sam kaget juga melihatnya. Astaga, Pak Riko! Dengan berdebar-debar, Kak Sam membawa Pak Riko ke rumahnya. “Pak Riko dicari-cari polisi … saya tidak mau tersangkut dengan pelarian Bapak. Sebaiknya Pak Riko menyerahkan diri!” kata Kak Sam ketakutan. “Sam, tolong aku! Karena hanya kau yang tahu soal patung kayu bertelinga panjang … tolonglah Sam?” kata Pak Riko terburu. Kak Sam bingung juga mendengarnya. Pak Riko mulai ceritanya. Menurut Pak Riko, dia sengaja melarikan diri dari tahanan karena ingin menyelamatkan patung kayu kecil bertelinga panjang.

“Aku menyamar sebagai petugas kebersihan. Tak ada seorang pun yang tahu, kalau aku kabur. Cepatlah Sam, tolong aku!” ujar Pak Riko. Kata Pak Riko, ada seorang kolektor asing ingin merampas patung kayu kecil bertelinga panjang dari Suku Dayak Kalimantan. “Bukankah patung kayu itu sudah ada di tangan Pak Riko?” tanya Kak Sam heran.

“Tidak, patung yang kutunjukkan padamu itu palsu…tiruan! Aku sengaja meniru patung kayu kecil itu semirip mungkin, supaya orang-orang tidak lagi mengganggu Suku Dayak. Tapi, para kolektor asing itu malah memfitnahku, mencuri patung antik itu. Mereka berusaha memasukkan aku dalam penjara, supaya tak ada lagi ahli barang antik, yang tahu sejarah patung kayu kecil bertelinga panjang itu. Asal kau tahu Sam, patung kayu kecil bertelinga panjang itu, masih di dalam gua Suku Dayak Kaimantan Timur!” jelas Pak Riko bersemangat.

Kak Sam sejenak mengernyitkan dahinya. Ia tak semudah itu mempercayai ocehan Pak Riko. “Kau masih tak mempercayainya Sam? Lihat yang kubawa ini!” Pak Riko mengeluarkan Patung kayu kecil bertelinga panjang, yang dimilikinya.

“Patung kayu ini yang kutunjukkan padamu, waktu kita di Kalimantan dulu. Ini palsu …! Lihatlah!” Pak Riko langsung membanting patung itu sekeras-kerasnya, di lantai. “Lihatlah … kosong! Tak ada apa pun di dalam tubuh patung kayu ini, bukan. Yang perlu kau tahu, patung kayu bertelinga panjang yang asli, di dalamnya ada sebuah intan sekepalan tangan. Luar biasa, sungguh luar biasa bukan!”

“Tapi … kita tetap harus melaporkannya pada polisi. Bagaimana pun Pak Riko telah melarikan diri dari tahanan,” kata Kak Sam menengahi.

Akhirnya Pak Riko bersedia kembail ke kantor polisi. Kak Sam menjelaskan semua cerita Pak Riko pada polisi. Polisi segera bertindak cepat, mereka berhasil menjebak para pemburu harta karun, yang sedang mencari patung kayu kecil bertelinga panjang. Suku Dayak Kalimantan sangat berterima kasih, pada kebaikan Pak Riko. Patung kayu kecil bertelinga panjang itu, adalah warisan leluhur mereka.

Setelah misteri patung kayu bertelinga panjang itu terbongkar, jelaslah kalau Pak Riko tak bersalah. Ia hanya korban fitnah. Pak Riko akhirnya dibebaskan dari penjara.

Kak Sam tersenyum lega. Beruntunglah masih ada orang-orang yang peduli, pada kelestarian sejarah. @@@

Sumber: Mentari Edisi 376 tahun 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s