Abunawas

Anak Abunawas Bersekolah

Musim pendaftaran sekolah tiba. Banyak anak yang didaftarkan orang tuanya, untuk menimba ilmu di sekolah. Demikian juga anak Abunawas, yang sudah waktunya bersekolah. Tapi Abunawas belum punya uang, untuk mendaftarkan anaknya. Jadilah dia pusing tujuh keliling.

Beruntung di saat sulit, ada tetangga yang berbaik hati meminjami uang. Dengan uang pinjaman itu, Abunawas bisa menyekolahkan anaknya. Terlambat sedikit tak apalah, ketimbang tidak bersekolah sama sekali.

Bagaimana anaknya, begitulah bapaknya. Demikian juga anak Abunawas. Dia cerdik dan bandel seperti bapaknya. Di sekolah, walau pun belum bisa, namun dia tidak mau kalah. Kalau salah, ada saja alasannya hingga membuat gurunya geleng-geleng kepala.

Suatu hari ada pelajaran berhitung. Dia ditanya tentang pengurangan.

“Coba kau jawab,” tanya gurunya, “Berapa seribu dinar dikurangi enam ratus dinar?”

Karena belum pernah diajari berhitung, anak Abunawas kaget juga mendapat pertanyaan seperti itu. Namun karena gengsi, dia menjawab saja sebisa-bisanya.

“Seribu dinar dikurangi enam ratus dinar …,” jawab anak Abunawas pura-pura berpikir, “Tiga ratus dinar!”

Mendengar jawaban seperti itu, seisi kelas tertawa. Murid-murid merasa geli dengan jawaban ngawur itu. Anak Abunawas kebingungan.

“Jawabanmu salah,” terang Bu Guru dengan sabar.

“Yang benar berapa, lho?”

“Seribu dikurangi enam ratus yang benar adalah empat ratus. Jadi jawabanmu kurang seratus dinar.”

“Nggak mau, Bu Guru! Kurang lima puluh dinar saja bapakku marah-marah, apalagi sekarang kurang seratus dinar. Nggak mau, aku nggak mau!” kelit anak Abunawas.

Mendengar jawaban yang tak terduga itu, gurunya hanya bisa geleng-geleng kepala keheranan.

Ketika ada pelajaran seni rupa, kembali anak Abunawas membikin ulah. Ketika teman-temannya asyik menggambar, dia diam saja seperti patung. Padahal pensil dan kertas gambar sudah tersedia di depannya. Gurunya yang mengetahui hal itu sengaja berdiam diri. Dia hanya menunggu reaksi anak Abunawas. Namun sampai pelajaran menggambar usai, kertas gambar anak Abunawas masih kosong melompong.

“Teman-temanmu sudah selesai semua. Gambarnya bagus-bagus. Mengapa kau belum menggambar juga?” tanya gurunya berusaha sabar.

“Aku sudah selesai, Bu Guru,” jawab anak Abunawas, acuh.

“Sudah selesai? Mana gambaranmu?”

“Ini!” anak Abunawas menunjuk kertas putih yang masih bersih.

“Kau menggambar apa?”

“Gambar sapi memakan rumput.”

“Mana rumputnya?”

“Sudah habis dimakan sapi.”

“Lha sapinya mana?”

“Tentu saja pergi. Wong sudah nggak ada yang dimakan lagi …!”

Guru anak Abunawas tentu saja geregetan. Tapi bagaimana lagi? Anak ini memang bandel. Namun seperti bapaknya, anak ini selalu saja bisa berkelit.

Kesabaran ada batasnya. Demikian pula guru anak Abunawas. Dia tidak bisa menahan amarah, tatkala menerangkan pelajaran sejarah. Anak Abunawas tidak memperhatikan pelajaran yang diterangkan. Dia asyik ngobrol sendiri dengan teman-temannya.

“Coba kau jawab,” tanya Bu Guru pada anak Abunawas. “Siapa yang membunuh Khalifah Usman bin Affan?”

“Tidak tahu, Bu Guru …”

“Kok bisa tidak tahu?! Makanya kalau diterangkan, jangan gobrol sendiri!” umpat Bu Guru geram.

“Bukan begitu, Bu Guru,” jawab anak Abunawas tanpa merasa bersalah. “Saya kan murid baru di sini. Jadi nggak tahu apa-apa tentang pembunuhan itu.”

Guru anak Abunawas benar-benar geram. Dia tidak bisa mendiamkan lagi kebandelan anak Abunawas. Dia harus melaporkan semua ini kepada bapaknya. Kalau tidak ada perhatian dari orang tuanya, anak ini tidak akan bisa berubah.

Abunawas pun di panggil ke sekolah. Dia akan diberi penjelasan tentang kebandelan anaknya. Dengan harapan, bapaknya bisa memberi tambahan pendidikan di rumah.

“Anak Bapak benar-benar bandel!” keluh Bu Guru pada Abunawas. “Dia benar-benar tidak memperhatikan pelajaran di sekolah. Masak ditanya, siapa yang membunuh Khalifah Usman bin Affan ia tidak tahu. Padahal itu kan pelajaran gampang? Alasannya, dia murid baru di sini!”

“Maafkan anak saya!” jawab Abunawas. “Saya tahu dia bandel. Tapi saya yakin dia benar-benar tidak tahu, siapa yang membunuh Khalifah Usman bin Affan. Tidak mungkin dia terlibat pembunuhan. Kalau berkelahi sih memang sering …”

“Sudahlah,” lanjut Abunawas lagi. “Bu Guru jangan mengada-ada. Jangan tanya-tanya lagi soal pembunuhan itu. Anak saya benar-benar tidak tahu. Kalau Bu Guru tetap memaksa, Bu Guru akan kulaporkan pada Baginda Harun Alrasyid.”

Menerima tanggapan seperti itu, sang guru semakin pusing tujuh keliling. Dia hanya bisa mengelus dada serambi bergumam, “Dasar kacang tidak meninggalkan kulitnya. Bapak dan anak sama-sama bebalnya!” @@@

 

Sumber: Mentari Edisi 280 tahun 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s