Fabel

Perginya Si Kepik Kecil

Sore ini sore terburuk bagi Kepik Kecil. Baru saja di rumahnya di bawah batang bunga matahari, ia disambut omelan ibunya karena pulang terlambat. Ibu Kepik menasehatinya panjang lebar dan menanyakan alasan kenapa ia pulang terlambat.

Kepik Kecil hatinya merasa sangat kesal kepada ibunya. Kata protes terlontar dari mulutnya.

“Apakah ibu tidak pernah menjadi anak-anak? Apakah ibu tidak pernah merasakan senangnya bermain hingga lupa waktu?”

Protes itu membuat Ibu Kepik marah. Dengan kesal, Ibu Kepik menyuruhnya masuk kamar dan tidur.

Kepik Kecil masuk kamarnya. Bapak Kepik hanya diam mengawasi dari balik korannya, di ruang tengah.

Malam ini Kepik Kecil tidak bisa tidur. Hatinya masih diselimuti rasa kesal pada ibunya.

Di luar hujan mulai turun, menambah malam semakin kelam. Kepik Kepik Kecil menarik selimutnya yang terbuat dari daun bunga matahari. Ia sudah bertekad ingin kabur dari rumah. Setidaknya setelah hujan malam ini berhenti.

Δ Δ Δ Δ Δ

Mentari mulai bersinar. Sinarnya menembus jendela kamar Kepik Kecil. Kepik Kecil sudah bangun bersiap-siap kabur sebelum orang tuanya bangun. Kepik Kecil membuka pelan jendela kamarnya, meloncat dan terbang jauh meninggalkan rumah.
“Selamat tinggal Ayah dan Ibu,” ucap Kepik Kecil.

Setelah terbang lama, Kepik Kecil merasa lelah dan lapar. Ah, buah blueberry! Kepik Kecil segera melesat ke arah buah-buah blueberry itu. Dengan lahap ia memakannya. Ia merasa bangga, tanpa kedua orang tuanya pun dia masih bisa bertahan hidup.

Tiba-tiba segerombolan Semut menapaki tangkai-tangkai pohon blueberry. Mereka mendapati Kepik Kecil tengah menyantap buahnya.

“Hai, apa yang kamu lakukan dengan buah-buah kami!” hardik pimpinan Semut.
Kepik Kecil tersentak dan menjawab dengan gugup.

“Saya hanya ingin memakannya sedikit.”

“Tidak bisa! Ini buah untuk koloni kami! Cepat pergi!”

Kepik Kecil tidak bisa berbuat apa-apa, lalu terbang menjauh. Ternyata, hidup sendirian tidak semudah yang dia kira.

Perlahan hujan kembali turun. Kepik Kecil terbang rendah mencari tempat untuk berteduh. Ah, itu dia! Sebuah jamur kecil. Pasti sangat nyaman!

“Hei, siapa kamu?” seekor Belalang Sembah muncul dari balik jamur. Belalang Sembah itu mendekati Kepik Kecil dan mengusirnya. Tanpa bisa berkata apa-apa, Kepik Kecil segera terbang menjauh.

Kepik Kecil terus terbang dan berharap menemukan tempat berteduh. Kepik Kecil mulai merasa kelelahan. Tapi, ia menemukan sebuah cahaya di dalam bunga terompet. Kepik Kecil mendekati bunga terompet, lalu melongok ke dalam. Ada seekor Kunang-Kunang di dalamnya. Kunang-Kunang yang menyadari kehadiran Kepik Kecil, menoleh dan menyapanya ramah.

“Hei, Nak sedang apa kamu?”

“Maaf, boleh tidak saya menginap di sini?” tanya Kepik Kecil.

“Tentu saja. Astaga, kau basah kuyub. Ayo masuk …”

“Terima kasih …” kata Kepik Kecil.

Kini Kepik Kecil merasa aman dan hangat. Kunang-Kunang lalu menanyakan alasannya berada di tempat ini. Bukankah Kepik Kecil terlalu kecil untuk sendirian.

“Saya kabur dari rumah …,” jelas Kepik Kecil.

“Astaga, kenapa?”

“Kesal pada ibuku,” jawab Kepik Kecil.

“Ya, sudah. Sekarang lebih baik kau tidur. Besok kau harus pulang. Bagaimana pun juga mereka orang tuamu,” kata Kunang-Kunang sambil menyelimuti Kepik Kecil.

Kepik Kecil tersenyum dan mengucapkan terima kasih. “Ibu, aku pasti akan pulang besok ….”

Δ Δ Δ Δ Δ

Mentari bersinar pagi hari ini. Di bawah bunga terompet terlihat Kepik Kecil dan Kunang Kunang berpelukan. Kepik Kecil sambil berterima kasih atas keramahan Kunang-Kunang. Lalu, ia terbang mengikuti sungai, menuju rumahnya.

Tapi, tiba-tiba Kepik Kecil merasa sayapnya sakit dan tidak bisa digerakkan. Tapi Kepik Kecil tidak menyerah. Ia berpikir keras, mencari cara menyusuri sungai ini dan pulang. Ah, itu dia! Dengan cepat ia mengambil salah satu daun bunga terompet. Kemudian, di dorongnya daun itu ke sungai dan menggunakannya sebagai perahu.

Dengan tenang Kepik Kecil terbawa arus sungai. Tidak lama kemudian, ia bisa melihat rumahnya. Kepik Kecil segera melompat dari daun dan menuju rumahnya.

“Ibu! Ibu! Ibu!” Kepik Kecil terus berteriak memanggil, sambil berlari menuju rumahnya.

Pintu rumahnya terbuka dan berdiri ibunya di sana. Kepik Kecil segera menghambur ke pelukan ibunya.

Ibu Kepik dengan air mata mengalir memeluk erat puteranya. Kemudian Bapak Kepik ikut keluar dan ikut berpelukan.

“Kepik Kecil, kamu dari mana saja, sayang? Ibu dan Ayah cemas mencarimu kemana-mana?” tanya Ibu Kepik. @@@

2 thoughts on “Perginya Si Kepik Kecil”

  1. Fabel yang bagus. Ditunggu cerita berikutnya.

    Dalam kalimat: Ia berpikir keras, mencari cara menyusuri suangai ini dan pulang.

    Mesti diedit SUNGAI.

    Dan buat berikan paragraf per paragraf.

    Salam!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s