Cerita Anak

Bendera Kertas

Kakek Parjan buntung, begitu orang-orang di desaku memanggil lelaki tua itu. Ya, tangan kanannya memang buntung sebatas siku. Cacat yang di sandangnya akibat ledakan bom, saat perang kemerdekaan dulu. Saat ini, dia hidup sebatang kara.

Cerita-cerita kepahlawanan senantiasa mengalir dari bibir keriputnya, sewaktu aku dan teman-teman datang mengunjunginya. Air mukanya berbinar-binar, setiap kali mengingat kembali masa-masa di medan pertempuran.

Ada alasan lain yang membuat aku dan teman-teman betah, di rumah Kakek Parjan. Walau tangannya buntung, Kakek Parjan sangat terampil membuat anyaman bambu. Dari meraut bambu hingga menganyam berbagai perkakas dapur, dikerjakannya sendiri. Hasil kerajinan itu dijualnya sendiri di pasar, untuk biaya hidupnya sendiri.

“Manusia itu diwajibkan untuk bekerja keras. Walau sudah bau tanah begini, Kakek tidak ingin hidup dari belas kasih orang,” begitu yang selalu diucapkan Kakek Parjan padaku. Bagaimana kalau ada yang mau memberinya sedekah?

“Kamu kira aku sudah jompo apa? Walau tanganku buntung, aku masih sanggup menghidupi diriku sendiri,” begitu kata Kakek Parjan, saat ada orang yang memberikan uang atau makanan padanya.

Suatu ketika, Kakek Parjan jatuh sakit. Tubuhnya terbaring lemah di atas dipan beralas tikar. Namun, saat aku menyuruhnya berobat, Kakek Parjan bersikeras menolak. “Kakek hanya capek. Percayalah, besok pasti sudah baikan,” ujarnya dengan suara lemah.

Hari berikutnya, kondisi Kakek Parjan belum juga membaik. Seperti kemarin, ia tetap menolak untuk berobat. Aku kemudian berinisiatrif mengumpulkan uang dari teman-teman, untuk disumbangkan pada Kakek Parjan. Terkumpul Rp 45.000. Toh, saat aku serahkan padanya, dengan tegas Beliau menolak.

“Kek, kami memberikan uang ini dengan ikhlas. Kenapa kakek tidak mau menerimanya?” aku berusaha meluluhkan hati Kakek.

“Aku tidak apa-apa, Do. Mengapa kamu paksa aku untuk berobat?”

“Kakek jangan membohongi kami. Kami tahu kakek sakit. Pakailah uang ini untuk berobat, Kek.”

“Baiklah, Kakek terima bantuan kalian. Namun, Kakek hanya mengambil lima ribu. Uang itu akan Kakek kembalikan,” kata Kakek Parjan.

“Tapi Kek ….”

“Itu keputusanku!” potong Kakek Parjan tegas. Walau belum mengerti kemauan Kakek Parjan, kami tidak bisa memaksa lagi. Yang penting aku dan teman-teman telah berniat baik membantunya.

Uang dari kami, ternyata tidak dipakai Kakek Parjan berobat. Kakek Parjan malah membeli segepok kertas, berwarna merah putih. Ia tidak menjelaskan, untuk apa membeli kertas sebanyak itu.

Tentu saja kelakuan Kakek Parjan membuat aku dan teman-teman jengkel. Aku menjadi malas datang bermain ke rumahnya. Apalagi, akhir-akhir ini aku juga sibuk menjadi panitia peringatan Hari Kemerdekaan.

Menjelang kegiatan karnaval, aku di suruh Pak Tomo, guru kelasku, ke rumah Kakek Parjan, untuk mengambil bendera kertas yang di pesan. Benakku bertanya-tanya, sejak kapan Kakek Parjan membuat bendera? Apalagi, sekarang dia sedang sakit.

Tiba di rumah Kakek Parjan, aku langsung menyampaikan pesan Pak Tomo. Kakek Parjan lalu menyerahkan buntelan bendera kertas, yang diikat rapi dengan tali rafia.

“Do, Kakek ingin minta maaf sekaligus berterima kasih padamu,” kata Kakek Parjan. Aku hanya diam kebingungan.

“Uang yang Kakek pinjam dulu, Kakek pergunakan membeli kertas, untuk membuat bendera-bendera kertas ini. Kebetulan banyak sekolahan yang memesan pada kakek. Keuntungan dari membuat bendera kertas ini, baru kakek gunakan berobat.

Alhamdulillah, sekarang kakek sudah sehat kembali,” kata kakek.

“Do, kakek sudah terbiasa hidup sulit. Masa-masa perjuangan telah banyak menempa jiwa raga kakek, agar hidup tegar. Kesulitan sekarang ini, sangatlah jauh dibandingkan dengan masa penjajahan dulu. Kamu paham, kan?”

Lagi-lagi aku hanya mampu mengangguk.

“Kakek kembalikan uangmu. Sampaikan terima kasihku pada teman-temanmu, yang selama ini bersikap baik pada kakek,” ujar Kakek Parjan seraya memasukkan selembar uang di katong bajuku. Aku tidak berani menolak, takut membuat lelaki tua itu marah. Dalam hati kekagumanku pada Kakek Parjan kian meruah.

Arak-arakan karnaval berlangsung meriah. Anak-anak peserta karnaval mengibarkan bendera kertas, dengan suka cita. Diantara kerumunan penonton, aku melihat Kakek Parjan tersenyum bahagia. Kali ini dia tampak gagah sekali, dengan baju seragam kebanggaannya. Tangan kirinya terus melambai-lambaikan bendera. Merdeka! @@@

 

Mentari Edisi 393 Tahun 2007

2 thoughts on “Bendera Kertas”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s