Cerita Misteri

Jaket Terkutuk

Kak Diki mendapatkan jaket itu dari Tante Ratna, seminggu yang lalu. Anehnya, jaket itu tidak untuk dipakai, tapi disimpan saja.

“Ah, sayang sekali. Jaket masih bagus begini, kok nggak boleh dipakai. Sayang, kan?” gerutu Kak Diki.

Jaket kulit berwarna gelap itu memang terlihat sangat keren, apalagi digunakan saat mengendarai sepeda motor, pasti bertambah gagah!

“Jaket itu dulu milik Tante Ratna?” tanya Kak Sam.

“Bukan, sebenarnya jaket kulit ini milik sahabatnya,” cerita Kak Diki pendek.

Kak Sam mengernyitkan dahinya. “Mungkin jaket ini milik Om Doni? Pembalap motor yang sampai sekarang terbaring koma, di rumah sakit itu?” gumam Kak Sam. Ia masih ingat, Tante Ratna pernah memperkenalkan Om Doni padanya. Katanya, ia pembalap motor Malaysia yang akan berlaga di Indonesia. Kak Sam masih ingat, Om Doni juga pernah memakai jaket kulit berwarna hitam, persis seperti yang dibawa Kak Diki.
Sore harinya, Kak Sam mendengar berita radio. Entah mengapa, tiba-tiba perasaannya tidak menentu.

“Musibah kecelakaan motor kembali terjadi. Dua motor saling bertabrakan, di dekat alun-alun kota. Kedua pengendara motor menderita luka parah, dan segera di larikan ke rumah sakit. Salah satu korban bernama Diki Wahyudi, yang mengenakan jaket kulit berwarna hitam. Sedangkan, seorang korban lainnya masih diidentifikasi oleh petugas,” kata penyiar radio. Kak Sam kontan kaget mendengar berita itu. Ia langsung menelepon Tante Ratna. Kemudian, ia bergegas menuju rumah sakit.

“Pasti Diki mengabaikan pesanku! Berkali-kali aku bilang, jangan pernah mengenakan jaket terkutuk itu!” celoteh Tante Ratna sambil terisak.

“Maaf, apakah jaket kulit yang Tante berikan pada Diki itu milik Om Doni, sahabat Tante?” selidik Kak Sam. Tante Ratna mengangguk perlahan.

“Tapi, sebenarnya jaket itu dulunya bukan jaket Doni. Ia pun diberi seorang sahabatnya, Kelvin, pembalap motor asal Inggris. Sama seperti Diki, Doni pun melanggar pesan Kelvin kala itu. Kelvin memberinya jaket kulit itu, hanya sebagai kenang-kenangan saja, bukan untuk dipakai. Tapi, Doni mengabaikannya, hingga akhirnya musibah itu pun terjadi. motor Doni terhempas di sirkuit Sepang, Malaysia,” cerita Tante Ratna sambil menahan air matanya.

Sampai tengah malam, Kak Diki belum juga sadar. Tante Ratna dan Kak Sam terlihat sangat cemas, dengan kondisi Kak Diki.

‘T-tuutt … tittiiittt!’ Handphone Kak Sam tiba-tiba berdering. “Sam, coba buka di internet sekarang juga! Ada informasi penting, soal jaket kulit yang dipakai Diki kemarin!” Begitu bunyi pesan singkat dari kawan Kak Sam. Lelaki muda itu langsung mencari informasi lengkap jaket kulit itu, di internet. Dan, astaga! Ternyata jaket kulit itu dibuat pada tahun 1942! Awalnya, jaket kulit itu milik seorang pilot tempur, bernama Richard Hugh. Saat Perang Dunia II, pesawat tempurnya ditembak jatuh oleh pesawat tempur Jepang, di lautan Pasifik. Mayat Richard Hugh tidak diketahui rimbanya. Petugas penyelamat hanya berhasil menemukan puing-puing pesawat, dan juga jaket kulit berwarna hitam kesayangan Richard Hugh.

Petugas penyelamat begitu yakin, jaket yang ditemukan itu milik Richard Hugh, karena ada ukiran namanya pada bagian pangkal leher dan lengan sebelah kanan jaket.
Jaket kulit itu kemudian dipakai saudara Richard Hugh, Ronald, seorang musisi jazz terkenal, saat itu. Ia begitu bangga mengenakan jaket kulit itu, pada setiap konsernya.

Hingga suatu ketika, panggung musik Ronald roboh, yang menelan tak kurang empat korban jiwa. Salah satunya Ronald! Beberapa tahun kemudian, jaket kulit yang dikenakan Ronald di lelang, dengan harga yang sangat mahal. Seorang pembalap mobil Keith Reck, berhasil membelinya. Sama seperti Ronald, pembalap Keith Reck juga selalu mengenakan jaket kulit itu, dalam setiap balapnya. Saat kejuaraan balap dunia di selenggarakan di Inggris, mobil yang dikendarai Keith tiba-tiba meledak! Nyawa Keith Reck pun tidak dapat diselamatkan. Yang mengejutkan Keith Reck adalah kakek Kelvin, pembalap motor asal Inggris itu.

Kak Sam langsung mengernyitkan dahinya. Ia bergegas meneliti jaket kulit yang dipakai Diki. Astaga, ternyata benar juga! Ada ukiran nama Richard Hugh!

Tiba-tiba Tante Ratna langsung merampas jaket kulit itu, dari tangan Kak Sam. Sejurus kemudian, ia mengguyurnya dengan minyak. Lalu api disulut! Api dengan cepat melahap jaket kulit itu. Kak Sam terperangah saja melihatnya. “Lebih baik dibakar saja! Daripada menjadi kenangan yang pahit!” kata Tante Ratna geram.

Anehnya, esok harinya Kak Diki dan Om Doni tiba-tiba sudah sadar, dan keadaan mereka berangsur membaik. @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s