Fabel

Ujian untuk Si Kucing

Malam semakin larut, tapi seorang laki-laki tua berjalan menuju ke tengah hutan belantara. Dengan suasana gelap dan menyeramkan, laki-laki tua itu terus berjalan.

Binatang-binatang hutan yang semula tertidur lelap, tiba-tiba terjaga begitu mendengar suara langkah kaki manusia. Namun, lelaki itu tetap berjalan dengan tenang dan pasti.

Sesaat binatang-binatang itu tidak beranjak dari tidurnya, tetapi begitu lelaki itu berlalu dari mereka, maka mereka pun segera berlari mengikuti lelaki tua itu. Binatang-binatang itu baru berhenti, setelah lelaki tua yang diikutinya juga berhenti, di sebuah batu yang cukup besar.

Rupanya, dialah Pertapa Sakti yang lebih satu tahun tinggal di hutan itu, sehingga binatang-binatang itu sudah begitu akrab dengannya.

Pertapa itu kemudian duduk di atas batu, yang berada di dekatnya. Sedangkan Harimau, Singa, Gajah dan Kucing serta Ular telah siap mendengarkan perintahnya.

“Hai sahabat-sahabatku, kalian memang sahabatku yang paling setia. Kalian selalu menurut pada perintahku dan hidup rukun, dengan sesama insan yang lain. Tapi, masih ada satu hal yang mengganjal hatiku. Aku masih ingat, bahwa kalian semua pernah aku uji, kecuali Kucing. Nah, kali ini aku ingin mengujimu, Kucing!” kata Pertapa Sakti, dengan suara yang berwibawa.

Kucing menegakkan duduknya, untuk mempertajamkan pendengarannya.

“Kau tidak perlu khawatir, ujian itu tidak terlalu berat. Aku hanya ingin kau bawakan bara api. Dan, bara api itu harus kau ambil dari perkampungan penduduk,” lanjut Pertapa Sakti.

“Baik, Kek. Semua titah Kakek akan saya laksanakan dengan sebaik-baiknya,” jawab Kucing dengan hormatnya.

Maka, berangkatlah Si Kucing pada pagi harinya. Karena kelincahannya, menjelang tengah hari, ia sudah tiba di perkampungan penduduk.

Setelah mendapatkan bara api dari kayu yang ditemukan di pembakaran sampah, Kucing segera membawanya kembali ke hutan.

Dalam perjalanannya, Kucing selalu menghindari sungai dan jalan-jalan berlubang tergenang air. Ia takut bara api itu padam, sebelum diterima oleh si Kakek. Ia takut dianggap gagal total.

Menjelang senja hari, barulah si Kucing tiba kembali ke hutan. Ia segera menyerahkan bara api itu kepada Kakek, yang selanjutnya dibuatkan api unggun.

Karena keberhasilannya itu, si Pertapa Sakti menjadi sering memerintahkan tugas serupa, yakni mencari bara api.

Kucing pun menerimanya dengan senang hati. Dengan adanya tugas itu, ia menjadi lebih sering bertemu manusia dan dunia luar. Bahkan, lama-kelamaan ia menjadi akrab dengan manusia. Sebab, bila ia tidak mendapatkan bara api di tempat-tempat lapang, ia akan menyusup ke tungku perapian penduduk.

Bila penduduk belum ada yang menyalakan api, ia tidak segan-segan menunggu di sisi tungku. Karena terlalu lama menunggu, tak jarang ia sampai tertidur.

Hal itu berlangsung cukup lama, sehingga Kucing kerasan berlama-lama di tengah-tengah manusia. Karena kebiasaan atau seringnya ia ada di dekat tungku, ia pun menjadi suka pada tempat-tempat yang hangat. Apalagi penduduk yang ditemuinya, juga sering memperlakukannya dengan baik. Ia sering dibelai dan dipeluk, dengan penuh kehangatan.

Nah, karena kebiasaannya itulah, akhirnya Kucing enggan sekali kena air dan suka tidur bermalas-malasan, di tempat yang hangat. @@@ (Bambang Waluyo)

 

Sumber: Mentari Edisi 285 tahun 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s