Cerita Anak

Kue Fantasia

Ada mendung tersaput di wajah Lusi di pagi hari itu. Mulut Lusi yang terus cemberut itu merengek-rengek. Kedua kaki mungilnya di hentak-hentakkan di ubin. “Teman-teman Lusi ikut semua. Masa Lusi tidak boleh ikut? Harus tinggal di rumah. Huu ….”

Mama yang membolak-balik buku catatan tersenyum. Sambil memandang putri tunggalnya. Mama membujuk lembut. “Lusi kan baru sembuh. Ingat, tiga hari Lusi tidak masuk sekolah. Kalau hari Minggu ini Lusi ikut teman-teman piknik, lalu sakit lagi, siapa yang rugi? Lusi tidak dapat sekolah lagi. Pelajarannya pasti tertinggal jauh. Mending di rumah, bisa bantu-bantu mama. Lihat, ini!”

Mama mendekati Lusi yang masih cemberut. Segera ditunjukkan buku catatan yang semula dibolak-baliknya. “Resep kemarin yang diberi Tante Rini ketemu. Bantu mama membuatnya, ya! Untuk kita suguhkan kepada ibu-ibu yang arisan nanti sore!”

“Malas, ah!”

Lusi beranjak meninggalkan mamanya. Nonton TV.

Mama memandang putrinya sambil menggeleng-geleng kepalanya. Sekali lagi diamatinya resep catatan kue itu. Mama terlampau asyik bekerja, sehingga tidak memperhatikan kehadiran Lusi yang sudah berada di sisinya lagi.

Lusi mulai tertarik ketika mama menghidupkan mixer. Diam-diam Lusi menghampiri mama, lalu berdiri di belakangnya.

“Lusi juga ingin membuat kue, ah,” gumam Lusi yang berdiri di belakang mama.

Mama menoleh sambil melempar senyum. Tanpa menunggu persetujuan mama, Lusi langsung bekerja. Ia mengambil adonan lalu memasukkannya ke dalam cetakan kue.

Lusi mengerjakan semua itu, seperti yang dilakukan mama. Namun, hasil cetakan kue Lusi berbeda dengan mama. Kue hasil cetakan Lusi lebih besar.

Lusi juga membuat warna lain pada lapisan cream di atas kuenya. Ada cream dengan warna kuning, merah, hijau, cokelat dan biru. Kue-kue hasil cetakan Lusi tampak lebih cerah dibandingkan dengan kue mama. Kue mama hanya berlapiskan cream warna cokelat semua.

“Kue yang bagus,” puji mama sepenuh hati sambil menyiapkan loyang. Diolesinya loyang itu dengan mentega. Kue-kue yang telah dicetak itu dimasukkannya ke dalam loyang. Mama memasukkan loyang itu ke dalam oven.

Mendung yang semula menyaputi wajah Lusi telah tersapu. Kini berganti dengan wajah yang cerah dengan mata berbinar. Wajah itu semakin ceria manakala mama selesai mencicipi kue buatan Lusi. “Enak … gurih ….”

“Betulkah, Ma?” sambut Lusi tak dapat menyembunyikan kegembiraannya.

Deru mobil terdengar melintas di depan rumah Lusi. Lusi berjingkat ke dekat jendela, lalu melongok keluar. Dilihatnya Linda, Dian, Pupi dan Desi keluar dari taxi.

“Cepat sekali kalian pulang?” tegur Lusi tak dapat menahan gejolak hatinya.

Pupi menoleh ke arah Lusi, “Untung kamu tidak ikut, Lusi. Mobil yang kami carter mogok di jalan. Kami di tinggal pergi oleh supirnya untuk mencari montir.”

“Karena tidak sabar menunggu di perbaiki, kamu pulang naik taxi,” sahut Desi.

“Kesal, capek, lapar dan haus!” gerutu Dian.

Lusi tertawa geli mendengar gurauan keempat kawannya itu. Di tolehnya mama yang ada di sampingnya. Mama tersenyum sambil mengembangkan tangannya. “Ajak mereka masuk biar ikut mencicipi kue buatanmu.”

Rumah Lusi yang semula hening berubah menjadi ramai.

“Nikmaaat!” ujar Desi.

“Yahuuud!” sambung Dian.

“Kue apa ini namanya?” tanya Linda penasaran.

Lusi menoleh ke arah mamanya. “Kue apa, ya?” gumamnya pelan. “Kue … kue fantasia!” Lusi mereka-reka satu nama.

“Ooo … kue fantasia …,” ucap keempat kawan Lusi. @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s