Abunawas

Peternakan Kutu

Baginda Harun Alrasyid kembali memanggil Abunawas ke istananya, “Pst, Abunawas! Bantu aku mikir, aku sekarang sedang pusing dan jengkel sekali!!” bisik Baginda Harun pada Abunawas.

“Kenapa Baginda harus bingung? Bukankah Baginda adalah seorang Raja Baghdad yang mahsyur? Tidak ada kata yang terbantahkan atas satu perintah dari Baginda. Sekali menjentikkan jari, semua rakyat dan prajurit istana siap melayani Baginda dengan baik,” ujar Abunawas sambil tersenyum.

“Tapi, kali ini lain! Ini tentang Pangeran Husni, anakku! Dia itu bandelnya minta ampun! Dia itu susah sekali disuruh mandi, apalagi keremas! Aku risih sekali, rambutnya kini penuh dengan kutu … ihh, menjijikkan!” kata Baginda Harun sambil geleng-geleng kepala. “Terus terang aku merasa malu sekali! Masak anak seorang Raja, rambutnya berkutu?! Apa kata dunia!?” lanjutnya sambil mengepalkan tinjunya.

“Bagaimana dengan para pembantu istana yang merawat Pangeran Husni?” tanya Abunawas sambil mengernyitkan dahinya.

“Jangankan para pembantu, sedangkan Permaisuri dan aku, Raja Baghdad, saja ditentangnya! Ia bahkan nekat tidak makan seharian gara-gara aku paksa ia mandi keramas dan mencukur rambutnya! Susah juga, daripada melihat ia merana kelaparan akhirnya kami biarkan saja Pangeran Husni dengan rambutnya yang dekil dan penuh kutu itu! Tapi sebenarnya aku sangat risih sekali melihatnya. Andaikata kau punya cara jitu untuk membujuknya? Maka aku akan memberimu hadiah lima kantung emas dan tiga ekor sapi gemuk!?” kata Baginda Harun penuh harap.

Abunawas menghela nafas panjang. Ia membayangkan kutu-kutu di kepala Pangeran Husni itu berjalan-jalan mengitari rambut hingga ke dahi dan tengkuknya. Wiii, ngeri! Sang Pangeran jorok ini harus segera disadarkan, sebelum peternakan kutu itu menguasai rambutnya.

Abunawas langsung bergegas mengumpulkan anak-anak Baghdad. “Kita akan berwisata satwa! Pasti asyik dan menyenangkan!” ajak Abunawas pada anak-anak itu.

“Ah, paling-paling kita akan diajak melihat harimau atau unta, aku sudah sering melihatnya, Paman!”

“Ya, atau paling-paling ke kandang gorilla, monyet atau gajah, ah, bosan, Paman!” protes anak-anak itu lantang.

“Ooo! Jangan khawatir! Wisata satwa kali ini pasti tidak pernah kalian temukan sebelumnya! Kita akan melihat peternakan kutu!”ujar Abunawas mantap.

“Kutu? Memangnya ada peternakan kutu?” tanya mereka sambil terbengong-bengong. Abunawas mengangguk sambil tersenyum. “Wah, seru juga ya! Pasti asyik! Berarti kita nanti juga bisa melihat atraksi kutu-kutu itu seperti di kandang monyet, ada yang bergelantungan mungkin juga ada yang sedang sibuk rebutan makanan, ha … ha …, pasti seru!!” lontar mereka berkhayal.

Tak lama kemudian rombongan Abunawas beserta anak-anak itu sampai di Istana Baghdad. “Lho, bukankah ini istana Baginda Harun, Paman? Wah, hebat ya ternyata Baginda Harun punya peternakan kutu!” seru mereka kegirangan. Abunawas langsung bertemu dengan Baginda Harun. Ia berbisik sejenak pada Raja Baghdad itu agar anak-anak itu bisa bertemu dengan Pangeran Husni. Baginda Harun menyetujui saja rencana Abunawas.

“Anak-anak perkenalkan ini adalah Pangeran Husni. Di kepala Pangeran Husni inilah kalian akan melihat peternakan kutu, silahkan!” ujar Abunawas dan Baginda Harun sambil tersenyum.

Kontan anak-anak itu langsung menyerbu dan mengacak-acak rambut Pangeran Husni. “Hiii, kutu! Lihat itu kutu-kutunya balapan lari! Apa nggak gatal tuh rambut jadi peternakan kutu?!” kata seorang anak.

“Lihat sebelah sini, kutunya bergelantungan di rambut!!” ujar mereka sambil mengacak-acak rambut kumal Pangeran Husni.

Tak berselang lama, Pangeran Husni mulai malu dan risih juga. Ia kontan berlari menuju Baginda Harun. “Ayah, aku malu! Aku nggak mau dibilang punya peternakan kutu! Aku mau cukur, terus langsung mandi keramas sekarang! Aku malu!!” ujar Pangeran Husni pada Baginda Harun.

Kontan Baginda Harun gembira sekali mendengarnya. “Berarti mulai sekarang dan seterusnya Husni harus rajin mandi dan keramas ya …, biar nggak dibilang punya peternakan kutu lagi! Malu sama anak-anak Baghdad yang lain!” ujar Baginda Harun sambil tersenyum.

Pangeran Husni pun mengangguk.

“Terima kasih Abunawas. Ini lima kantung emas untukmu dan silahkan ambil tiga ekor sapi gemuk di kandang istana, bawa pulang!!” kata Baginda Harun sambil menyodorkan lima kantong emas. @@@

Sumber: Mentari Edisi 496 tahun 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s