Fabel

Kuda Hitam yang Iri

Hari itu kuda hitam Pak Poyo memiliki teman baru, seekor kuda jantan berbulu kecokelatan. Kata Pak Poyo, kedua kudanya akan bekerja menarik delman, secara bergantian. Selama ini, hanya kuda hitam saja yang bekerja. Pak Poyo merasa kasihan. Apalagi, kuda hitam seringkali terlihat lelah. Kalau pekerjaan mereka digilir, pasti masing-masing dapat beristirahat dengan nyaman. Pekerjaan juga terasa lebih ringan.

Pak Poyo mengajak kuda hitamnya untuk bekerja. Sementara kuda cokelat beristirahat dulu. Tapi kuda hitam menolak. Kuda hitam tidak mau keluar dari kandangnya. Dia ingin melanjutkan tidurnya. “Bukankah Pak Poyo memiliki kuda baru? Biar saja dia yang bekerja,” kuda hitam menggerutu.

Pak Poyo membujuk kuda hitam. Dibelainya rambut hingga punggungnya. Makanannya ditambah. Kuda hitam asyik melahap makanannya. Kuda hitam tetap tidak mau beranjak, dari kandangnya.

Sebenarnya Pak Poyo kasihan pada kudanya yang baru. Dia baru saja datang setelah menempuh perjalanan jauh, menuju rumah Pak Poyo. Hari ini, Pak Poyo tetap harus bekerja, untuk menafkahi keluarganya.

Setelah menghabiskan makanannya, kuda cokelat mulai menarik delman. Untungnya, kuda cokelat mau menuruti perintah Pak Poyo. Dia sudah terbiasa menarik delman. Jadi, Pak Poyo mudah mengarahkannya. Kuda cokelat berlari menuju pasar, membawa para penumpang. Lalu, mengantarkan penumpang yang lain menuju rumahnya.

Pekerjaan kuda cokelat sangat banyak, karena Pak Poyo mendapat tugas mengantarkan barang ke rumah seorang teman. Pak Poyo tidak mau menolak, jika ada orang yang menyuruhnya. Baginya, barang atau pun penumpang tetap akan diantarkan, sampai tujuan.

Sore harinya, kuda cokelat baru pulang. Ia bekerja lebih lama dari kuda hitam. Biasanya kuda hitam mau bekerja, hingga siang hari. Ia sering menunjukkan kemarahannya, bila disuruh bekerja agak lama.

Keesokan harinya, kuda hitam masih bermalas-malasan di kandangnya. “Kau saja yang kerja! Selama ini aku sudah capek kerja!” kata kuda hitam.

“Tapi, kemarin aku sudah bekerja. Sekarang giliranmu!” kata kuda cokelat.

“Tidak bisa! Kau baru sekali ini bekerja. Nanti kalau sudah capek, giliranku. Lagipula, aku masih ngantuk!” sergah kuda hitam.

“Aku sudah capek. Sekarang kau yang kerja!” bentak kuda cokelat.

“Ah, sudahlah! Pokoknya aku mau tidur lagi!” teriak kuda hitam.

Dengan perasaan jengkel, kuda cokelat keluar dari kandangnya. Kuda cokelat mesti mengalah. Ia berlari menuju pasar, mengantarkan para penumpang yang akan menjual hasil kebun dan yang akan belanja keperluan mereka. Dan hari-hari berlalu, hanya kuda cokelat yang bekerja. Sementara kuda hitam masih asyik bermalas-malasan di kandangnya. Kuda hitam merasa, selama ini dialah yang bekerja. Sekarang saatnya beristirahat sepuas-puasnya, menikmati tidur dan makanan.

Suatu hari, Pak Poyo memanggil kuda hitam dan kuda cokelat. Tapi keduanya tidak ada yang menyahut. Pak Poyo heran dengan ulah kedua kudanya. Pak Poyo memasuki kandang, “Pasti ada sesuatu yang tidak beres,” pikirnya.

Pak Poyo menghampiri kuda hitam dan menyuruhnya bekerja. Kuda hitam membuka matanya sebentar lalu pura-pura tidur. Sekarang Pak Poyo menghampiri kuda cokelat, “Kau sedang sakit?” tanya Pak Poyo.

Kuda cokelat memberikan isyarat dengan kedua matanya. Tubuhnya lemas dan pandangannya sayu. “Mungkin kau terlalu capek. Istirahat saja hari ini,” kata Pak Poyo. Lalu Pak Poyo menarik kuda hitam, agar mau bekerja. Kuda hitam meringkik. Dia tahu temannya sedang sakit. Tidak ada pilihan lain, selain mengikuti perintah Pak Poyo.

Kuda hitam pun menyesal. Sekarang dia harus bekerja sendirian. Setiap hari. Apalagi setelah kuda cokelat mati. Seharusnya dia bisa bekerja bergantian dengan kuda cokelat, agar bisa membagi beban kerja. @@@ (By Nur Rochmaningrum)

 

Sumber: Mentari Edisi 368 tahun 2007

7 thoughts on “Kuda Hitam yang Iri”

      1. Nggak perlu. Aku nggak pake bahasa Inggris. Itu yang ngasih pertanyaan pake bahasa Inggris. Jadi aku copas aja pertanyaannya

        Like

  1. Assalamualaikum,
    Halo Arsynoor, salam kenal ya.
    Terima kasih sudah memuat fabel saya dari majalah mentari. Tadinya saya iseng mengetik nama Nur Rochmaningrum sampai bebera[a page akhirnya saya ketemu blog ini.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s