Abunawas

Memburu Keluarga Pemberontak

Beberapa waktu lalu, kerajaan Baghdad gempar. Badalufa, seorang tokoh di sebuah desa nelayan, memberontak kepada Baginda Harun Alrasyid. Pemberontakan itu akhirnya bisa dipadamkan. Tapi, tak urung Baginda Harun Alrasyid pun merasa gundah.

“Hal ini tak boleh terjadi lagi,” ujar Baginda kepada para menteri. “Oleh karena itu,” sabda Baginda lagi, “Semua sanak kerabat Badalufa harus kita cari, lalu kita penjarakan.”

Rupanya Baginda benar-benar menaruh dendam terhadap Badalufa. Para menteri tidak ada yang menyela pernyataan Baginda. Mereka hanya bisa takzin, tak kuasa membantah.

Perburuan segera dimulai. Dengan berkendaraan sebuah perahu. Baginda dan rombongan para menteri berlayar menyusuri pantai. Abunawas diajak juga. Bahkan, Abunawas pun mendapat tugas mendayung perahu.

Di sepanjang pantai, pada setiap desa nelayan, rombongan berhenti. Mereka mencari keterangan dimanakah sanak kerabat Badalufa tinggal.

“Apakah di sini ada sanak kerabat Badalufa?” tanya Baginda di setiap desa nelayan yang disinggahinya.

“Tidak ada! Tidak ada, Tuanku,” jawab penduduk desa penuh ketakutan.

Baginda tidak percaya begitu saja. Baginda memerintahkan semua rombongan untuk masuk ke pelosok-pelosok desa. Namun, hingga lelah mencari, tak seorang pun saudara Badalufa yang Nampak.

“Semua sanak kerabat Badalufa sudah ditangkapi oleh Baginda. Tak satu pun yang tersisa. Kalau toh ada, mereka pasti tidak berani menampakkan batang hidungnya di sini. Mereka pasti melarikan diri ke luar negeri,” tutur seorang tetua desa memberi penjelasan kepada para menteri.

“Masuk akal juga penjelasan Pak Tua ini,” gumam para menteri. Namun para menteri tidak berani menyampaikan hal ini kepada Baginda.

Tidak berhasil menemukan sanak kerabat Badalufa di sebuah desa, Baginda memerintahkan menyisiri desa nelayan lain. Namun, lagi-lagi apa yang dicari tidak diketemukan juga. Rombongan para menteri mulai jenuh dan bosan.

“Abunawas,” ujar salah seorang menteri. “Kita sudah seminggu lebih menyisiri pantai. Namun apa yang kita cari tidak pernah kita temukan. Lantaskapan berakhirnya perburuan ini?”

“Aku juga punya pikiran sama dengan kalian. Tapi siapa yang berani menyampaikan hal ini kepada Baginda?” Abunawas balik bertanya.

“Siapa lagi kalau bukan kamu?” desak para menteri.

“Enak saja!” elak Abunawas. “Setiap bagian yang tidak enak pasti ditujukan kepadaku. Kapan aku dapat bagian yang enak-enak?”

“Nanti kalau usaha ini sudah berhasil, kau pasti dapat bagian yang enak-enak!” rayu para menteri.

“Tidak, tidak mau! Aku mau sekarang juga. Kalau kalian mau memberiku seribu dinar, aku mau mengerjakan tugas ini. Kalau tidak, no way!” kata Abunawas jual mahal.

Akhirnya para menteri mengalah. Mereka urunan untuk memberi hadiah uang kepada Abunawas.

“Lebih baik begini, dari pada tidak ada kepastian bisa pulang ke kediaman,” para menteri saling berucap diantara mereka.

Tapi sebelum uang diberikan kepada Abunawas, para menteri minta kepastian kepada Abunawas.

“Seandainya Baginda murka, kamu tanggung sendiri, lho!” ucap para menteri.

“Beres! Percaya saja sama Abunawas!”

Di saat berlayar menyusuri pantai, Abunawas memberanikan diri bertanya kepada Baginda. Dia minta kepastian kapan berakhirnya perburuan ini. Ditanya begitu, Baginda murka.

“Perburuan ini tidak akan berakhir sampai sanak kerabat Badalufa yang lain kutemukan!” ucap Baginda menggelegar menegangkan bulu roma.

“Mohon ampun Baginda,” terang Abunawas. “Seandainya Baginda memerintah dengan adil, bijak dan penuh kasih sayang, tak akan mungkin terdapat sanak kerabat Badalufa untuk selamanya. Tapi kalau Baginda memerintah dengan bengis dan kejam, di perahu ini pun pasti ada sanak kerabat Badalufa yang meneruskan pemberontakan pada Baginda.”
Mendengar penjelasan Abunawas, Baginda Harun Alrasyid tercenung sejenak. Dia seakan tersadar dari kecongkakannya. Setelah terdiam sesaat, Baginda tertawa terbahak-bahak.

“Kamu benar, Abunawas. Aku juga jenuh dengan perburuan ini. Ayo kita pulang!”

Titah Baginda yang menggembirakan ini seketika disambut sorak sorai para menteri. @@@

 

Sumber: Mentari Edisi 285 tahun 2005

 

6 thoughts on “Memburu Keluarga Pemberontak”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s