Dongeng

Kelos, Gelondongan dan Jarum

Dulu ada seorang anak bernama Mimi. Ia tinggal bersama bibinya di sebuah desa. Bibi Mimi bekerja sebagai penenun. Bibi Mimi memintal sekaligus menjahitnya. Mimi selalu membantu dengan senang hati. Lama-kelamaan pekerjaan bibinya dikuasai dengan baik.

Bibinya mempunyai cara unik ketika menenun. Bibi Mimi selalu bersenandung. Dan dengan serempak kelos, jarum dan gelondongan akan menari-nari membuat kain yang indah.

Kala Mimi berusia 15 tahun, bibinya meninggal dunia. Sejak itu Mimi tinggal sendiri. Mimi berjanji akan merawat semua peninggalan bibinya. Mimi melanjutkan pekerjaan bibinya. Ia memintal, menenun dan menjahit. Semua pekerjaan dilakukannya dengan tekun. Karena hasil pekerjaannya bagus, para pemesan datang silih berganti.

Beberapa tahun berlalu. Nama Mimi kian terkenal sebagai pemintal ulung. Tetapi Mimi masih Mimi yang dulu. Dia tetap sederhana. Dia juga tetap bersenandung seperti bibinya.

Suatu hari, Mimi mendapat pesanan sebuah topi. Dengan tekun dia mengerjakan pesanan itu seperti pesanan yang lainnya. Mimi tidak tahu kalau itu adalah pesanan seorang Pangeran.

Ketika menerima topi, Pangeran sangat kagum. “Hanya gadis bertangan lentik dan halus yang sanggup membuat topi seindah ini. Aku ingin menemuinya.”

Kemudian Pangeran menyeiapkan kuda. Sepanjang jalan ia mengamati setiap rumah.

Di sebuah rumah yang besar dan indah, Pangeran berhenti. Dia mendapati seorang gadis cantik dengan tangan lentik. Tetapi Pangeran segera pergi.

“Pasti bukan dia. Aku tidak mendengar suara alat tenun di rumah itu,” pikir Pangeran.

Kemudian Pangeran singgah di sebuah rumah indah. Seorang gadis cantik dengan tangan dibalut sarung tangan sutera. Tetapi Pangeran itu langsung berbalik.

“Tak terdengar alat tenun.”

Kemudian Pangeran itu tiba di sebuah gubuk kecil di sudut desa. Dari rumah itu terdengar suara alat tenun bekerja. Tetapi ketika Pangeran masuk, dia hanya mendapati Mimi duduk di depan alat tenun.

Sesaat kemudian Pangeran itu keluar lagi. “Tangannya terlalu kasar.”

Dan ketika Pangeran itu berbalik, Mimi berdiri di dekat jendela. Dia menyenandungkan lagu yang selalu dibawakan bibinya. “Benang kelos, benang kelos, cepatlah keluar. Bawakan yang paling indah bagiku.”

Ajaib! Benang kelos itu menggelinding keluar dengan cepat. Benang kelos itu mengejar Pangeran yang sedang singgah. Pangeran itu heran. Dia mengambil benang itu. “Mungkinkah ini sebuah pertanda?”

Mimi melanjutkan pekerjaannya sambil bersenandung. “Gelondongan, tenunlah kain yang paling indah.”

Gelondongan itu menari-nari dan membuat sebuah permadani indah. Jarum kecil mengangguk-angguk.

Mimi tersenyum. “Ya, sekarang giliranmu, jarum. Aturlah rumah hingga manis, rapi dan indah.”

Jarum itu langsung meloncat-loncat seperti kilat. Dengan segera segala meja dan kursi tertutup kain linen. Bantal-bantal dari beledu menghiasi kursi. Pintu dan jendela ditutup dengan tirai indah.

Di balik jendela muncul topi yang kembali mengikuti kelom benang. itulah topi milik Pangeran.

Ketika Pangeran masuk, Mimi sedang berdiri di tengah ruangan. Pakaiannya sederhana, tetapi sinar matanya berseri-seri seperti bintang kejora.

Pangeran tertegun memandang tangan Mimi yang kasar. “Engkaukah yang memintal topiku?”

“Mimi mengangguk. “Ya, tangan ini kasar karena bekerja. Kalau tidak bekerja, tentunya topi itu tak akan jadi.”

Pangeran menjadi malu. Ya, tangan Mimi kasar karena bekerja. Dan dari tangan itu pula topi indah yang kini dikenakan Pangeran dibuat.

Mimi tersenyum jenaka pada kelos, jarum dan gelondongan. @@@

 

Sumber: Majalah Hoopla Desember 1997

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s