Cerita Misteri

Kak Lia

Ketika sedang berjalan, tiba-tiba tubuh Kak Lia limbung. Kak Sam yang berjalan di sampingnya, buru-buru memegangi tubuh Kak Lia. Namun, Kak Lia makin lemas. Astaga, Kak Lia pingsan.

Anehnya, dokter menyatakan tekanan darah Kak Lia normal dan juga tidak ada tanda-tanda penyakit aneh.

“Ugh, dimana aku? Kenapa aku di sini?” tanya Kak Lia, sesaat setelah ia sadar.

“Kau tadi pingsan. Lalu ku bawa saja kau ke dokter, kau belum makan, ya?” Kata Kak Sam sambil tersenyum. Kak Lia menggeleng sambil memegangi kepalanya.

Namun, tiba-tiba Kak Lia langsung menatap Kak Sam dengan tajam. “Astaga, sekolah itu. Bahaya. Sam, ayo kita harus cepat ke TK, di seberang jalan. Ayo, cepat sebelum terlambat!” teriak Kak Lia tiba-tiba.

Kak Sam benar-benar tidak habis mengerti, dengan sikap Kak Lia. “Hei, kau ini masih mimpi atau ngelantur sih? Kamu itu baru pingsan. Hati-hati dengan kesehatanmu.

Memangnya ada apa sih? Kok heboh benar!” hardik Kak Sam sengit.

Tapi, Kak Lia tidak menghiraukan omelan Kak Sam. Tubuhnya yang masih lemah, ia paksakan bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan menuju TK, yang tidak jauh dari klinik dokter itu. Kak Sam berusaha mencegah Kak Lia, tapi ia tetap saja memaksa.

“Mumpung masih ada waktu, kita harus menyelamatkan murid-murid TK itu!” kata Kak Lia sambil berlari menuju TK itu.

Begitu sampai di pintu pagar TK itu, Kak Lia kontan langsung berteriak lantang, “Cepat, semuanya segera pergi dari tempat ini! Cepat! Selamatkan diri kalian!”

Guru TK dan para muridnya tentu saja bingung, melihat ulah Kak Lia itu. Mereka tetap bergeming, bahkan malah terbengong-bengong.

“Ayo, cepat pergi. Waktu kalian tidak banyak. Cepatlah segera pergi dan keluar dari kelas!” teriak Kak Lia sekali lagi. Sebagian dari mereka malah ada yang menertawakan ulah Kak Lia, mungkin mereka menganggapnya sakit jiwa.

Petugas keamanan dan Kak Sam, langsung menarik Kak Lia keluar dari TK itu. Tentu saja, semuanya menganggap ulah Kak Lia itu, mengganggu ketenangan sekolah.

Namun, beberapa saat setelah Kak Lia benar-benar keluar dari TK itu, tiba-tiba angin berhembus kencang sekali. Hujan deras turun begitu saja. Astaga, papan reklame yang berada persis di samping TK itu, ambruk. Semua orang berteriak histeris, melihat kejadian menyeramkan itu. Semuanya terjadi begitu cepat dan tidak ada yang bisa mencegahnya.

Sungguh naas, ada emat orang korban jiwa dan selebihnya luka-luka. Kak Sam langsung menoleh pada Kak Lia. Ia teringat pada aksi Kak Lia beberapa saat yang lalu.

“Andai semua orang dan murid-murid itu mengikuti ajakanku, tentu tidak begini jadinya,” kata Kak Lia perlahan, sambil dengan menatap pandangan kosong. Kak Sam terdiam, ia hanya bisa menghela nafas panjang.

Kak Sam langsung ingat, ulah aneh Kak Lia ini bukan sekali ini saja dilakukannya. Satu tahun yang lalu, Kak Lia juga pernah berusaha menghentikan perjalanan sebuah mobil keluarga. Tentu saja, aksi Kak Lia itu ditentang banyak orang. Namun nyatanya, beberapa saat saja mobil keluarga itu ergi, sebuah bus dengan kecepatan tinggi menghantamnya. Tragis sekali, tidak ada yang selamat dalam musibah itu.

Pagi-pagi sekali, Kak Lia menemui Kak Sam. “Sam, semalam aku pingsan lagi, dan tidak ada seorang pun yang menolongku. Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Tapi, ketika sedang pingsan itu, rasanya aku kembali melihat sebuah kejadian,” kata Kak Lia dengan wajah pucat dan panik.

“Seorang wanita tergolek tak berdaya, setelah ditabrak mobil sedan berwarna merah. Anehnya, aku sendiri tidak tahu dimana tempat kejadian itu. Tidak seperti biasanya, kali ini aku benar-benar tidak tahu, dimana dan siapa korban musibah itu!” cerita Kak Lia. Kak Sam tidak bisa berkomentar. Harapannya hanya satu, semoga bayangan Kak Lia itu hanya ilusi semata, dan tidak pernah terjadi.

Sore hari, dalam perjalanan pulang, jalan raya macet sekali. Astaga, rupanya ada kecelakaan. Kak Sam berusaha mencari tahu tentang kecelakaan itu. Ternyata, ada seorang wanita berambut panjang tertelungkup, di jalan raya. Ketika polisi membalikkan tubuhnya, kontan Kak Sam terperanjat. Kak Lia! Astaga, rupanya ia baru saja ditabrak, oleh sebuah sedan warna merah. Polisi langsung mengamankan sopir dan mobil sedan warna merah itu. Naas sekali, dalam perjalanan ke rumah sakit, nyawa Kak Lia tidak dapat diselamatkan. Tragis!

Bagaikan disambar petir di siang bolong, tubuh Kak Sam langsung lemas. Masih terngiang jelas di telinga Kak Sam, bagaimana Kak Lia pagi tadi menceritakan sebuah musibah, yang dilihatnya.

Kak Sam tercenung, ia sadar tidak ada seorang pun yang sanggup merubah rencana Tuhan. @@@

 

Mentari Edisi 451 Tahun 2008

1 thought on “Kak Lia”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s