Cerita Anak

Maafkan Aku, Kak!

Halaman SMP Nusantara sudah sepi, tapi masih terdengar kegaduhan, di kelas VII A.

Ternyata, Nia dan teman-temannya masih sibuk membicarakan, dimana tempat belajar besok.

“Ayo kita putuskan, giliran rumah siapa besok?” Tanya Anita.

“Ke rumah Lina sudah, Resa juga sudah. Berarti tinggal rumah Selvi dan Nia yang belum, nih,” lanjut Anita.

Mendengar rumahnya disebut, Nia jadi salah tingkah.
“Apa, rumahku?” tanyanya tergagap.

“Memangnya kenapa, Nia? Kami kan belum pernah ke rumahmu,” kata Resa.

“Nggak apa-apa sih, tapi rumahku sedang di renovasi,” jawab Nia terbata-bata.

“Oh,” balas teman-temannya sambil manggut-manggut.

Δ Δ Δ Δ Δ

Sampai di rumah, Nia membanting pintu kamar dan melempar tasnya, ke atas tempat tidur. Ibu yang sedang memasak di dapur, menghampiri Nia.

“Nia benci Kak Bari!” teriaknya sambil menangis.

“Nia, Nia tidak boleh begitu. Meski begitu, Kak Bari adalah kakakmu,” ibu berusaha menenangkannya.

Nia ternyata malu dengan keadaan Kak Bari, yang cacat wajahnya. Sewaktu kecil, wajah Kak Bari terkena api. Sehingga separuh wajahnya cacat, sampai sekarang.

Sebenarnya, Nia dulu tidak membenci Kak Bari. Namun, sejak beberapa temannya ketakutan melihat Kak Bari, Nia jadi membenci kakaknya itu. Kalau ada temannya ingin main ke rumahnya, ada saja alasan Nia untuk menampiknya. Padahal, sebenarnya Kak Bari adalah kakak yang baik, yang sangat sayang pada Nia. Setiap Nia berulang tahun, Kak Bari selalu menyisipkan kado untuknya. Walau, sering Nia tidak mau menerimanya.

Ih, Selvi, buku matematikaku kok gak ada, ya? tanya Nia kebingungan.

“Gawat, dong. Pelajaran matematika, kan jam pertama,” jawab Selvi.

Tiba-tiba Arman menghampiri bangku Nia, sambil berkata, “Ni, ada yang mencarimu, tuh.”

Betapa kagetnya Nia, sewaktu mengetahui yang mencarinya adalah Kak Bari. Bukannya berterima kasih karena bukunya diantarkan, malah ia memarahi Kak Bari.

“Kakak tidak perlu kemari untuk ini. Kan bisa suruh Bibi Munah. Aku malu, nih,” kata Nia tanpa menghiraukan perasaan kakaknya.

“Ya sudah, Kakak pulang sekarang, ya. Nia masuk kelas dulu,” ketus Nia meninggalkan Kak Bari sendirian. Sesampai di kelas, teman-teman Nia menatap sinis pada Nia.

“Itu tadi siapa, Nia?” tanya Selvi.

“Bukan siapa-siapa,” jawab Nia.

“Kakakmu, ya?” tanya Selvi lagi.

Nia pura-pura tidak mendengarnya.

Δ Δ Δ Δ Δ

Sepanjang perjalanan pulang, Nia cemberut. Dia kesal dengan Kak Bari yang tiba-tiba muncul di sekolahnya. Memang sih, karena Kak Bari dia bebas dari hukuman Pak Jono, guru matematikanya. Tapi, Nia malu. Akibat melamun, Nia tidak menyadari ketika ada sebuah mobil menabraknya, saat ia menyeberang jalan.

Ketika membuka matanya, Nia sudah berada di ruangan yang serba putih. Saat ia mengangkat kepalanya, rasanya sakit sekali.

“Sayang, kamu sudah sadar? Jangan banyak bergerak, agar kamu segera pulih,” kata ibu sambil membelai Nia.

“Halo, Nia,” sambut teman-temannya, sambil membawa sekeranjang buah-buahan.

“Eh, tante tinggal ke apotik sebentar, ya,” pamit ibu Nia.

“Kami tadi ketemu kakakmu, Nia. Dia yang menceritakan pada kami, tentang kejadian yang menimpamu ini. Wah, kamu kok jahat, sih. Tidak pernah bercerita punya kakak sebaik dia,” celoteh teman-temannya.

Nia melongo, ia kaget, marah bercampur dengan heran.

“Wajah kakakmu sembab, karena lelah menunggumu semalaman. Dia juga mengatakan, bahwa kaulah adik terbaik yang diberikan Tuhan untuknya. Karena itu, ia rela menyumbangkan darahnya untukmu,” kata Resa.

Deg! Jantung Nia berdegup kencang. Ia sudah jahat sama Kak Bari selama ini, padahal Kak Bari sangat menyayanginya.

“Maafkan aku, kak,” kata Nia lirih dengan mata berkaca-kaca. @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s