Poem

Tersenyumlah

Orang berkata, “Langit selalu berduka dan mendung.”

Tapi aku berkata, “Tersenyumlah, cukuplah duka cita dilangit sana.”

Orang berkata, “Masa muda telah berlalu dariku.”

Tapi aku berkata, “Tersenyumlah, bersedih menyesali masa muda

tak kan pernah mengembalikannya.”

Orang berkata, “Lagitku yang ada di dalam jiwa

telah membuatku merana dan berduka.

Janji-janji telah mengkhianatiku ketika kalbu telah menguasainya.

Bagaimana mungkin jiwaku sanggup

mengembangkan senyum manisnya

Maka aku pun berkata, “Tersenyum dan berdendanglah,

kala kau membandingkan semua umurmu kan habis untuk

merasakan sakitnya.”

Orang berkata, “Perdagangan selalu penuh intrik dan penipuan,

ia laksana musafir yang akan mati karena terserang rasa haus.”

Tapi aku berkata, “Tetaplah tersenyum,

karena engkau akan mendapatkan penangkal dahagamu.”

Cukuplah engkau tersenyum,

karena nungkin hausmu akan sembuh dengan sendirinya.

Maka mengapa kau harus bersedih dengan dosa

dan kesusahan orang lain,

apalagi sampai engkau seolah-olah

yang melakukan dosa dan kesalahan itu?

Orang berkata, “Sekian hari raya telah tampak tanda-tandanya

seakan memerintahkanku membeli pakaian dan boneka-boneka.

Sedang aku punya kewajiban bagi teman-teman dan saudara,

namun telapak tanganku tak memegang

walau hanya satu dirham adanya.

Ku katakan: Tersenyumlah,

cukup bagi dirimu karena Anda masih hidup,

dan engkau tidak kehilangan saudara-saudara

dan kerabat yang ku cintai.

Orang berkata, “Malam memberiku minuman ‘alqamah

tersenyumlah, walau kau makan buah ‘alqamah

Mungkin saja orang lain melihatmu berdendang

akan membuang semua kesedihan. Berdendanglah

Apa kau kira dengan cemberut akan memperoleh dirham

atau kau merugi karena manampakkan wajah berseri?

Saudaraku, tak membahayakan bibirmu jika engkau mencium

juga tak membahayakan jika wajahmu tampak indah berseri

Tertawalah, sebab meteor-meteor langit juga tertawa

mendung tertawa, karenanya kami mencintai bintang-bintang

Orang berkata, “Wajah berseri tidak membuat dunia bahagia

yang datang ke dunia dan pergi dengan gumpalan amarah.

Ku katakan, “Tersenyumlah, selama antara kau dan kematian

ada jarak sejengkal, setelah itu engkau tidak akan pernah tersenyum.”

 

By Elia Abu Madhi

(dari Buku La Tahzan karya Dr. ‘Aidh al-Qarni: hal:61-62)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s