Cerita Misteri

Hantu Pohon Jati

Tepat tengah hari, Kak Sam sampai di desanya Kok Jojo. Wuih, perjalanannya yang cukup melelahkan. Desanya Kak Jojo letaknya di atas gunung dan sangat terpencil. Yang asyik, selama perjalanan menuju desa, banyak sekali pohon-pohon jati yang ukurannya sangat besar. Kabarnya, usianya mencapai puluhan tahun. Bahkan ada juga beberapa, yang usianya ratusan tahun!

Penduduk desa, selama ini selalu melestarikan pohon-pohon itu. Tidak seorang pun berani menebang pohon sembarangan. Kata Kak Jojo, adat desa melarang menebang pohon, yang usianya mencapai ratusan tahun. Jika ada yang melanggar, mereka pasti dikenai hukum adat. Tak heran, desa Kak Jojo terlihat sangat hijau dan menyenangkan. Tapi, dua hari yang lalu, Kak Jojo mendapat surat yang sangat meresahkan.

Kabarnya, dukun kampung menganjurkan seluruh penduduk desa, untuk meninggalkan desa mereka. Semuanya harus pindah tanpa terkecuali. Konon, hantu-hantu penunggu pohon jati marah, tidur mereka sering terusik oleh suara bising anak-anak kampung.

“Sebenarnya, aku sendiri tidak yakin dengan cerita ayah. Tapi, aku penasaran juga! Ayah dan seluruh keluarga sekarang ini sangat resah. Dua anak paman sudah terserang penyakit, yang aneh dan sulit sekali disembuhkan!” cerita Kak Jojo pada Kak Sam. Kak Sam juga tidak yakin, dengan kebenaran berita itu.

Kak Sam dan Kak Jojo menghela nafas panjang, melihat dua bocah yang tergolek lemas. Beberapa kali mereka mengigau. Ah, kasihan sekali.

“Kata Mbah Dukun Desa, penyakit itu ulah hantu penunggu pohon jati, yang sangat marah. Tidak ada jalan lain untuk bisa selamat, selain harus meninggalkan desa secepatnya … kalau tidak … bahaya!” lanjut Ayah Kak Jojo gemetar.

“Mengapa dukun itu tak juga mampu menolong warga?” tanya Kak Sam.

“Dukun itu sudah tidak mampu. Meninggalkan desa adalah satu-satunya cara, supaya bisa selamat!” jawab Ayah Kak Jojo kemudian. Kak Sam sejenak mengernyitkan dahinya.

Sudah satu bulan ini, wabah penyakit aneh itu tiba-tiba menyerang penduduk kampung.

Anehnya, semua korban menderita sakit aneh itu, setelah dari sungai. “Aneh dan sangat membingungkan. Katanya hantu pohon jati yang marah, tapi kok semua korban sakit, pasti baru dari sungai?” gumam Kak Sam perlahan.

Tepat tengah malam, desa tampak sangat sepi sekali. Semua orang sudah menutup rapat, pintu rumah mereka. Tidak ada seorang pun yang berani keluar. “Ini saat yang tepat, untuk melakukan penyelidikan. Ayo!” kata Kak Sam.
“Gila kau Sam! Di luar berbahaya,” kata Kak Jojo, mencoba mencegah Kak Sam. Tapi, Kak Sam bersikukuh ingin melakukan penyelidikan, malam itu juga. Kak Jojo akhirnya ikut juga. Beberapa saat mereka menyisiri aliran sungai. “Coba lihat, di tepian sungai ini, banyak sekali ikan yang mati. Aneh dan mencurigakan, bukan?” kata Kak Sam. Tiba-tiba, mereka mendengar suara laki-laki. Keduanya spontan merunduk dan mengintip, dari balik semak-semak.

“Ah, itu kan si dukun. Ngapain dia malam-malam berkeliaran di sungai?” bisik Kak Jojo pada Kak Sam.

Dukun desa itu tidak sendirian, ia ditemaninya seorang anak laki-lakinya. Mereka lalu membuang satu drum, berisi cairan agak pekat.

“Ha … ha … ha … aku sangat yakin, seluruh penduduk desa terhasut bualanku. Ah, akhirnya kita jadi kaya raya! Kaya raya! Juragan kayu dari kota itu, akan membayar kita mahal sekali, asal kita berhasil menyingkirkan seluruh penduduk desa,” kata Dukun desa itu pada anaknya.

“Jadinya, juragan kayu dari kota itu akan menebang semua pohon jati di sini, Pak?” tanya anak dukun dengan lugu.

“Ya biar saja. Tebang saja semua pohon, tidak masalah. Yang penting, kita sudah dibayar dan kita kaya raya … ha … ha …!” kata dukun itu kegirangan. Kak Sam dan Kak Jojo geram mendengarnya.

“Ini tidak boleh dibiarkan terlalu lama, kita harus cepat bertindak!” kata Kak Sam. Langsung saja Kak Sam dan Kak Jojo meringkus si dukun desa dan anaknya. Dukun desa itu tidak bisa berkelit lagi, ia tidak dapat memungkiri bukti-bukti kejahatannya.

Jadi, selama ini, dukun desa itu yang menebar racun di sungai. Hantu pohon jati itu sebenarnya tidak ada, hanya bualan si dukun jahat. Ia telah dibayar oleh juragan kayu dari kota, untuk mengacaukan desanya sendiri dengan imbalan uang. Kak Sam segera menghubungi polisi. Juragan kayu jahat dari kota itu, langsung diringkus. Kejahatan mereka harus di hukum setimpal, karena telah merusak lingkungan dengan sengaja, demi keuntungan pribadi. Syukurlah, tim kesehatan dari pusat bertindak cepat. Warga desa yang jadi korban racun air sungai, berhasil disembuhkan dan sungai desa mulai dibersihkan dari racun. “Hantu pohon jati yang sebenarnya ya dukun itu sendiri, ha … ha … ha …,” seloroh Kak Sam disambut tawa warga desa. @@@

 

Mentari Edisi 367 Tahun 2007

3 thoughts on “Hantu Pohon Jati”

  1. Tidak ada jalan lain untuk bisa selamat, selain harus meinggalkan desa secepatnya … kalau tidak … bahaya!”

    Mungkin maksud mbak arsy adalah MENINGGALKAN yah bukan MEINGGALKAN

    Ceritanya bagus, mbak. Keren! Saran aku, mbak coba tulis juga dengan kalimat deskriptif untuk menggambarkan suatu keadaan, agar keadaan dalam cerita itu terasa juga oleh pembaca

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s